Paul Pogba berada pada tahap paling rentan dalam kariernya. |
Waktu tidak berpihak pada Pogba, dan baik Liga Premier maupun masa lalunya yang gemilang tidak lagi menjadi tameng.
Paul Pogba berada pada tahap paling rapuh dalam kariernya. Bukan karena ia kurang berbakat, tetapi karena ia kekurangan hal terpenting bagi seorang pemain di usia 32 tahun: performa pertandingan yang konsisten.
Enam bulan pertama musim ini bersama AS Monaco jelas menunjukkan hal ini. Pogba kembali setelah larangan dopingnya, tetapi kebugaran dan kontrol bolanya belum sesuai dengan ambisi Piala Dunia.
Tujuan Pogba jelas. Dia ingin kembali ke tim nasional Prancis dan berpartisipasi di Piala Dunia mendatang. Tetapi sepak bola tingkat atas tidak beroperasi berdasarkan kenangan. Juara Piala Dunia 2018 itu sekarang harus memulai lagi dari awal, di tim Monaco yang kuat secara fisik dan disiplin.
Angka-angka berbicara sendiri: 30 menit dalam tiga pertandingan. Pogba kembali ke lapangan pada 22 November, masuk sebagai pemain pengganti saat Monaco kalah 1-4 dari Rennes. Lima menit itu lebih bersifat simbolis daripada teknis.
Pertandingan berikutnya melawan Paris Saint-Germain menunjukkan Pogba yang berbeda. Monaco bermain dengan 10 pemain, tetapi kehadirannya mengganggu lini tengah PSG. Itu adalah momen langka di mana Pogba kembali mengendalikan permainan, meskipun hanya sebentar.
Masalahnya adalah Pogba belum mampu mempertahankan performa tersebut. Melawan Brest, dia bermain selama 21 menit tetapi Monaco tetap kalah. Kemudian masalah otot ringan menyebabkan dia absen dalam pertandingan melawan Galatasaray dan Marseille.
![]() |
Di Monaco, Pogba bukan lagi pusat perhatian utama. |
Monaco tidak terburu-buru, dan pelatih Thierry Pocognoli memahami bahwa menekan Pogba saat ini hanya akan memperburuk keadaan. Tetapi Piala Dunia tidak menunggu siapa pun.
Di Monaco, Pogba bukan lagi pusat perhatian utama. Denis Zakaria dan Lamine Camara kini menjadi pemain kunci di lini tengah. Hal ini menempatkan Pogba pada posisi di mana ia harus bersaing secara nyata, bukan berdasarkan reputasi, tetapi berdasarkan kontribusi konkret.
Untuk meyakinkan Didier Deschamps, Pogba membutuhkan lebih dari sekadar janji tentang kualitasnya. Dia perlu bermain secara teratur, mempertahankan intensitas yang konsisten, dan membuktikan bahwa dia mampu mengatasi tempo permainan yang menuntut.
Deschamps telah menyatakan dengan tegas: hal terpenting adalah Pogba bermain secara teratur. Itu adalah pesan yang jelas. Tidak ada pengecualian khusus untuk prestasi masa lalu, betapapun gemilangnya prestasi tersebut.
Pogba memahami peluangnya tipis. Tetapi selama dia memiliki kesempatan untuk bermain, dia akan berpegang teguh pada harapan itu.
Pertandingan melawan Real Madrid di Bernabeu pada bulan Januari bisa menjadi titik balik. Bukan karena makna simbolisnya, tetapi karena ini adalah panggung yang cukup besar bagi Pogba untuk menjawab pertanyaan terpenting: apakah dia masih layak bermain di level sepak bola tertinggi?
Bagi Pogba, Piala Dunia bukan lagi sekadar tujuan mewah. Ini adalah perlombaan melawan waktu. Dan dalam perlombaan itu, hanya performa sebenarnya yang akan menentukan apakah dia akan terus bermain atau harus berhenti.
Sumber: https://znews.vn/dong-ho-dem-nguoc-voi-pogba-post1614908.html







Komentar (0)