
Perjalanan Hidup Lambat
Di tengah hiruk pikuk kehidupan sehari-hari, kota-kota tepi laut yang damai, desa-desa nelayan yang sederhana, dan orang-orang yang ramah dan murah hati menjadi tempat perlindungan bagi mereka yang ingin memperlambat tempo dan mengalami kehidupan dengan makna yang lebih dalam daripada sekadar foto-foto indah. Perjalanan lambat bukan hanya cara untuk bepergian, tetapi juga cara untuk tetap berada dalam ingatan, emosi, dan dalam perjalanan mencari koneksi sejati dengan dunia di sekitar Anda.
Sekitar akhir Desember dan awal Januari setiap tahun, Ibu Tran Thi Thu Thao (Dak Lak) merencanakan perjalanan santai. Beberapa tahun ia pergi bersama teman-teman, tahun-tahun lain bersama keluarga kecilnya, tetapi tujuan biasanya adalah desa nelayan pesisir atau desa wisata komunitas. Tahun ini, keluarganya memilih desa nelayan Binh Thanh (komune Lien Huong) sebagai tempat persinggahan liburan tahunan mereka, untuk menikmati transisi yang lembut antara musim dingin dan musim semi.
Ia memilih sebuah homestay kecil yang menawan di dekat Pantai Batu Tujuh Warna, tempat ia dapat dengan santai menikmati kehidupan lokal: bangun pagi untuk menyaksikan matahari terbit, berenang di laut, menikmati kopi di kafe pinggir jalan, mengunjungi desa-desa dan kuil-kuil untuk mempelajari budaya dan sejarah setempat. Secara khusus, ia senang pergi ke pasar lokal di pagi hari, ketika udara musim semi mulai memenuhi udara, merasakan ritme kehidupan nelayan yang sederhana namun ramai di desa nelayan La Gàn pada hari-hari menjelang Tahun Baru. Keluarganya sepenuhnya menyatu dengan alam, berjalan tanpa alas kaki di atas kerikil dan pasir putih, mendengarkan ritme ombak seiring pasang surut, dan menikmati sedikit hawa dingin akhir musim dingin dan kehangatan sinar matahari musim semi yang akan datang.
Tepat ketika musim lumut dimulai, keluarga Ibu Thao berkesempatan untuk "berburu lumut" di pantai berbatu Ba Khom, destinasi terkenal di daerah tersebut, dan juga menjelajahi pantai kerikil dengan beragam warnanya dengan cara unik mereka sendiri. Ibu Thao berbagi: "Di sini tidak ada Wi-Fi, hanya cinta yang bisa dibawa pulang. Kerikilnya memiliki ratusan, bahkan ribuan warna berbeda. Beberapa orang mengatakan saya mengedit warnanya agar terlihat lebih menarik, tetapi setiap orang memiliki persepsi keindahannya sendiri; bagi saya, itu berkilau dan terasa sangat nyata." Yang patut diperhatikan adalah kamar-kamar tersebut tidak memiliki TV atau perangkat elektronik, sehingga anak-anak dapat dengan bebas menikmati permainan rakyat tradisional seperti lompat tali, engklek, bermain di pasir, berenang, dan menerbangkan layang-layang – hal-hal yang jarang dapat dinikmati anak-anak kota saat ini.

Tren baru di kalangan anak muda
Hanya empat hari di desa nelayan Binh Thanh terasa seperti "diisi ulang". Ia menghabiskan waktu bersama anak-anaknya menarik keranjang dan merapikan jaring bersama para nelayan setiap pagi, kemudian berkeliling pasar desa untuk membeli makanan laut segar. Di waktu luangnya, ia berjalan-jalan mengunjungi Pagoda Co Thach, mampir ke Mausoleum Nam Hai, dan mendengarkan penduduk setempat dengan bangga menceritakan bagaimana seluruh desa mereka baru saja berpartisipasi dalam pembuatan film "Searching for Long Dien Huong". Dan itu belum semuanya; ia juga menikmati banyak makanan khas lokal yang disiapkan oleh pemilik homestay, mulai dari salad ikan scad, perkedel ikan, panekuk makanan laut, berbagai jenis siput… hingga makanan rumahan yang sederhana, beraroma, dan lezat.
Berbeda dengan perjalanan terburu-buru dengan jadwal padat yang hanya berfokus pada proses check-in, semakin banyak wisatawan memilih "slow travel" untuk mendapatkan pengalaman yang lebih mendalam. Lebih dari sekadar mengambil foto, mereka mendengarkan kisah-kisah lokal, menyelami budaya setempat, dan menikmati kuliner tradisional dengan apresiasi dan pemahaman. Baru-baru ini, "slow travel" telah menjadi pilihan populer bagi banyak anak muda sebagai cara untuk "mengisi ulang" energi mereka, mendorong mereka untuk sementara waktu mengesampingkan kesibukan hidup untuk benar-benar menghargai keindahan setiap destinasi.
Menurut Bapak Nguyen Anh Khoa, seorang pemandu wisata lepas dari kelurahan Phan Thiet, desa-desa nelayan pesisir di provinsi Lam Dong memiliki banyak keunggulan untuk mengembangkan wisata lambat (slow tourism). Periode transisi antara musim dingin dan musim semi menawarkan cuaca sejuk, sinar matahari yang lembut, dan sedikit hawa dingin di pagi dan sore hari, menjadikannya ideal untuk kegiatan wisata dan relaksasi yang lebih lama. Oleh karena itu, tren wisata lambat semakin populer di kalangan wisatawan, bersama dengan bentuk-bentuk lain seperti ekowisata, wisata kesehatan, menjelajahi budaya lokal, dan pengalaman musiman seperti berburu awan, berburu lumut, dan melihat bunga. Ini juga merupakan tren pariwisata yang paling cepat berkembang selama setahun terakhir.
Sumber: https://baolamdong.vn/du-lich-cham-de-ket-noi-sau-hon-419500.html






Komentar (0)