Menceritakan kisah budaya melalui kertas.

Ide proyek ini berawal dari pekerjaan proyek dan survei lapangan tim. Saat mengunjungi berbagai daerah di Hanoi, seperti Kota Tua, situs budaya, dan monumen bersejarah, tim menyadari bahwa Vietnam memiliki banyak nilai arsitektur dan lanskap yang unik, tetapi kekurangan produk inovatif yang memungkinkan masyarakat untuk mengaksesnya dengan cara yang canggih secara teknologi, yang sesuai dengan kehidupan modern. Dari kesenjangan ini, tim memunculkan ide untuk menciptakan kembali landmark dan simbol budaya Vietnam menggunakan lampu ukiran kertas 3D, menggabungkan teknologi AR dan NFC untuk memperluas pengalaman melalui ponsel.

Meskipun memiliki banyak pilihan material, kelompok tersebut memutuskan untuk menggunakan kertas sebagai material utama. Kertas, meskipun sederhana, memiliki kekuatan ekspresif visual yang luar biasa. Ketika dipotong menjadi beberapa lapisan dan dikombinasikan dengan cahaya, kertas menciptakan kesan kedalaman, membuat penonton merasa seolah-olah mereka sedang melihat ruang 3D miniatur daripada permukaan datar. Jembatan, atap genteng, jalan, atau danau, yang direkonstruksi melalui beberapa lapisan kertas, menjadi sebuah pemandangan dengan kedalaman dan kontras cahaya dan bayangan yang bervariasi.

Unsur-unsur budaya Vietnam diintegrasikan ke dalam ruang visual oleh mahasiswa UniversitasFPT .

Di luar aspek teknisnya, kertas juga memiliki nilai simbolis. Kertas merupakan material yang familiar dalam kehidupan masyarakat Vietnam, muncul dalam lukisan rakyat, kerajinan tangan, dan banyak produk tradisional. Kertas membangkitkan rasa kesederhanaan, kehalusan, dan keintiman. Memilih kertas yang tepat juga menandakan mempertahankan semangat yang terkendali, bersahaja namun kaya akan emosi.

Materi ini memaksa tim untuk memilih gambar dengan cermat. Mustahil untuk memasukkan setiap detail arsitektur ke dalam model; sebaliknya, mereka harus memilih fitur yang paling khas untuk mengekspresikan "jiwa" dari bangunan bersejarah tersebut. Proses ini membantu menciptakan produk yang ringkas, menghindari kekacauan visual dan memastikan daya tarik estetika.

Buat model di atas kertas, lalu kembangkan dengan teknologi.

Tim memulai proyek ini pada Januari 2025, dengan fokus pada survei lokasi penting, pencarian citra yang sesuai, dan pengembangan konsep keseluruhan. Kemudian mereka melanjutkan dengan mendesain tata letak, memilih detail yang khas, membuat cetak biru, dan menguji beberapa versi untuk mengoptimalkan ruang, pencahayaan, dan warna.

Bersamaan dengan desain, tim mengintegrasikan teknologi untuk meningkatkan pengalaman penonton. Secara khusus, produk ini menggunakan AR (augmented reality – ketika ponsel diangkat, video 3D tentang kisah budaya di balik produk tersebut akan muncul, superimposed pada model aslinya) dan NFC (cukup dengan menyentuh model dengan ponsel akan membuka situs web untuk melihat video terkait). Berkat ini, dari model kertas statis, penonton dapat berinteraksi dan menjelajahi berbagai lapisan konten langsung di ponsel mereka, membuat pengalaman lebih hidup dan intuitif.

Pemilihan landmark didasarkan pada kriteria seperti nilai budaya dan simbolisme; pengenalan visual; dan kesesuaian untuk desain berlapis-lapis guna menciptakan kedalaman. Sebelum membuat model, tim melakukan riset menyeluruh tentang sejarah dan arsitektur setiap landmark untuk memastikan keakuratan dan menghindari kesalahan.

Model Hanoi Old Quarter populer di kalangan banyak pelanggan.

Di antara proyek-proyek yang telah selesai, model Kota Tua Hanoi meninggalkan kesan yang paling kuat. Desainnya dibangun menggunakan komposisi dari depan ke belakang. Di bagian depan terdapat pemandangan sehari-hari seperti pengemudi becak, pedagang kaki lima, dan aktivitas jalanan – detail yang membangkitkan ritme kehidupan khas di Kota Tua. Bagian tengah mencakup air, jembatan, dan landmark yang familiar seperti Menara Kura-kura dan Jembatan Huc, sehingga memudahkan pemirsa untuk mengenali area Danau Hoan Kiem. Di bagian belakang terdapat bangunan-bangunan modern, menciptakan kontras antara tradisi dan perkembangan. Di atasnya terdapat pepohonan dan langit, yang membantu menyeimbangkan dan melembutkan efek keseluruhan.

Pencahayaan adalah elemen kunci yang membuat model ini begitu memikat. Ketika sumber cahaya ditempatkan di belakangnya, lapisan-lapisan kertas tampak dalam nuansa hangat, menciptakan perasaan seperti sepotong Hanoi di malam hari. Bahkan dalam ruang yang kompak, penonton masih dapat merasakan kedalaman budaya dan ritme kehidupan perkotaan.

Tantangan dan arah masa depan

Menurut Trinh Luu Ly, ketua tim desain, "Sebuah model lengkap dapat memakan waktu beberapa jam hingga satu hari, termasuk desain, pelapisan, perakitan, dan pencahayaan. Tantangan terbesar adalah mempertahankan detail yang khas sambil memastikan struktur yang kokoh. Kertas memiliki keterbatasan dalam hal daya tahan dan kompleksitas, sehingga tim harus membuatnya minimalis tanpa kehilangan identitasnya."

Pelanggan dapat mencoba produk-produk yang dipajang di Lotte Mall West Lake Hanoi.

Saat ini, kelompok tersebut menggunakan kertas seni dengan ketebalan yang sesuai dan sedang meneliti bahan yang lebih ramah lingkungan seperti kertas daur ulang. Menurut kelompok tersebut, penggunaan kertas juga mengirimkan pesan bahwa bahan-bahan sederhana pun masih dapat menciptakan nilai kreatif jika dimanfaatkan dengan benar.

Di masa depan, kelompok ini berharap dapat memperluas koleksi untuk mencakup lebih banyak landmark dan festival tradisional, sekaligus mengembangkan lebih banyak konten digital melalui AR. Melalui "Vietnamese Paper Soul," mereka ingin menyampaikan pesan bahwa budaya tradisional tidaklah jauh. Jika dilihat dari perspektif kreatif dan dikombinasikan dengan teknologi, budaya dapat menjadi lebih hidup dan mudah diakses oleh generasi muda. Dari lapisan kertas tipis, sebuah kisah agung terungkap. Kisah tentang bagaimana kaum muda melanjutkan dan memperbarui tradisi menggunakan bahasa zaman mereka.

    Sumber: https://www.qdnd.vn/van-hoa/doi-song/dua-van-hoa-viet-vao-khong-gian-giay-1031334