Pada kenyataannya, musim panas juga merupakan waktu di mana konflik antara orang tua dan anak-anak meningkat. Dengan anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu di rumah, perilaku nakal dan hiperaktif mereka, yang khas untuk kelompok usia mereka, menjadi penyebab banyak pertengkaran. Dari pengingat lembut awal, banyak keluarga dengan cepat beralih ke teguran, hukuman, atau tindakan disiplin lainnya ketika anak-anak berulang kali mengulangi perilaku tersebut.
Di balik teriakan yang biasa terdengar di setiap keluarga, tersembunyi bukan hanya kisah kenakalan anak-anak, tetapi juga cerminan tekanan pengasuhan anak, perbedaan filosofi pendidikan , dan stres terpendam orang dewasa dalam kehidupan modern.
Bentrokan antar generasi
Menurut para psikolog, apa yang disebut orang dewasa sebagai "perilaku nakal" terkadang merupakan ekspresi perkembangan yang sangat alami. Para ahli mengatakan bahwa anak-anak, terutama yang berada di prasekolah dan sekolah dasar, memiliki kebutuhan untuk menjelajahi dunia melalui tindakan. Mereka sering ingin menyentuh benda, membongkar sesuatu, bereksperimen, atau mencari tahu bagaimana sesuatu bekerja.
Profesor Madya Pham Manh Ha, dosen di Fakultas Ilmu dan Teknologi Pendidikan , Universitas Sains dan Teknologi Hanoi, mengatakan: “Banyak orang tua, ketika melihat remote control yang dibongkar, akan berpikir anak mereka sengaja merusak sesuatu. Tetapi bagi anak-anak, itu bisa jadi hanya rasa ingin tahu. Mereka ingin tahu apa yang ada di dalamnya dan mengapa itu berfungsi. Orang dewasa melihat konsekuensinya, sementara anak-anak melihatnya sebagai pengalaman eksplorasi.”
Menurutnya, kemampuan anak-anak untuk mengendalikan perilaku dan memprediksi konsekuensi belum sepenuhnya berkembang seperti pada orang dewasa. Oleh karena itu, anak-anak tidak selalu menyadari bahwa tindakan mereka dapat menyebabkan masalah atau bahaya.
Dari perspektif pendidikan, Ibu Le Thi Nhan, seorang guru sekolah dasar di Hanoi, percaya bahwa lingkungan sekolah secara tidak sengaja membantu anak-anak menghabiskan sebagian besar energi harian mereka. Mereka memiliki jadwal yang jelas, teman untuk berinteraksi, dan selalu ada kegiatan untuk diikuti. Ketika liburan musim panas tiba, banyak anak tiba-tiba kehilangan rutinitas yang sudah mereka kenal.
Oleh karena itu, tanpa aktivitas alternatif, anak-anak mudah merasa bosan. Hiperaktivitas bawaan mereka akan menjadi lebih menonjol. Ini menjelaskan mengapa perilaku anak yang sama selama tahun ajaran dan selama liburan musim panas dapat berbeda secara signifikan.
Jika kita hanya melihat perilaku anak-anak, sulit untuk menjelaskan mengapa konflik keluarga meningkat selama musim panas. Para ahli berpendapat bahwa di balik teriakan dan omelan seringkali terdapat tekanan dari orang dewasa itu sendiri.
Karena sebagian besar orang tua masih harus mempertahankan pekerjaan normal mereka, merawat anak-anak selama tiga bulan musim panas menjadi masalah yang sulit dipecahkan. Tidak setiap keluarga memiliki kemampuan untuk mendaftarkan anak-anak mereka ke kursus, kelas keterampilan, atau mengirim mereka untuk tinggal bersama kakek-nenek di pedesaan.
Menurut psikolog, emosi negatif orang tua dapat menumpuk dari berbagai sumber seperti tekanan finansial, stres kerja, pekerjaan rumah tangga, atau kurang istirahat. Ketika anak-anak terus-menerus menciptakan situasi yang tidak terduga, stres ini mudah bermanifestasi sebagai reaksi yang kuat.
Sebuah studi tentang psikologi keluarga pernah menunjukkan bahwa perilaku anak bukanlah satu-satunya faktor yang menyebabkan konflik. Keadaan emosional pengasuh memainkan peran yang sama pentingnya. Dengan kata lain, banyak perselisihan keluarga setiap musim panas tidak hanya berasal dari anak-anak yang lebih nakal, tetapi juga dari orang dewasa yang lebih lelah.

Siklus hukuman dan konsekuensinya.
Ketika ditanya tentang bagaimana mereka menangani kenakalan anak-anak mereka, banyak orang tua mengakui bahwa mereka sering memilih metode yang sudah biasa seperti memarahi, menyuruh mereka berdiri diam, melarang mereka menonton TV, atau menyita mainan mereka. Selain itu, beberapa keluarga masih mempertahankan praktik hukuman fisik, meskipun tidak sesering dulu.
Menurut Profesor Madya Pham Manh Ha, sebagian besar orang tua tidak memilih hukuman karena ingin menyakiti anak-anak mereka, tetapi karena ingin perilaku tersebut segera berhenti. "Ketika seorang anak menumpahkan air, memecahkan sesuatu, atau menciptakan bahaya, reaksi emosional orang dewasa biasanya muncul terlebih dahulu. Pada saat itu, banyak orang tidak memikirkan untuk mendidik anak-anak mereka tetapi hanya ingin menangani situasi secepat mungkin," analisis pakar tersebut.
Patut dicatat bahwa banyak orang tua mengulangi cara mereka dibesarkan. Banyak yang pernah dihukum fisik atau dimarahi oleh orang tua mereka saat masih kecil, sehingga terkadang tanpa sadar mereka melakukan hal yang sama kepada anak-anak mereka sendiri. Para ahli percaya bahwa ini adalah siklus umum di banyak keluarga Vietnam. Pengalaman pendidikan diturunkan dari generasi ke generasi, bahkan ketika pengalaman tersebut kontroversial.
Sebaliknya, anak-anak juga memiliki reaksi mereka sendiri terhadap berbagai bentuk disiplin. Beberapa menjadi takut dan menarik diri, sementara yang lain melawan, membantah, atau mengulangi perilaku tersebut setelah beberapa saat. Konfrontasi ini kemudian dapat menjadi lingkaran setan: Anak berperilaku buruk - orang dewasa menghukum - anak bereaksi - orang dewasa terus menghukum.
Banyak ahli berpendapat bahwa masalah sebenarnya bukanlah apakah seorang anak mengotori dinding atau merusak suatu benda. Yang penting adalah bagaimana konflik-konflik ini memengaruhi hubungan orang tua-anak. Ketika percakapan keluarga terutama berputar di sekitar teguran, kritik, atau hukuman, anak-anak mungkin mengembangkan perasaan bahwa mereka selalu salah.
Profesor Madya Pham Manh Ha menyatakan: "Jika anak-anak terus-menerus dicap sebagai nakal, keras kepala, atau terlalu usil, mereka mungkin secara bertahap mengembangkan citra diri yang negatif. Hal ini memengaruhi kepercayaan diri mereka dan kemampuan mereka untuk berbagi dengan orang tua mereka."
Dari perspektif sosiologis, kisah kenakalan anak-anak selama musim panas juga mencerminkan realitas lain: jumlah waktu yang dihabiskan bersama anak-anak semakin terbatas. Ruang bermain umum kurang tersedia di banyak daerah pemukiman. Banyak keluarga tinggal di apartemen kecil. Orang tua sibuk dengan pekerjaan. Kakek-nenek tidak selalu dapat membantu merawat cucu mereka.
Dalam konteks ini, liburan musim panas, yang seharusnya menjadi waktu bagi anak-anak untuk beristirahat dan bereksplorasi, dapat dengan mudah berubah menjadi periode yang penuh tekanan bagi seluruh keluarga. Dan setiap musim panas berlalu, pertanyaan tentang "hukuman atau bimbingan" terus diangkat, bukan hanya sebagai pilihan dalam metode pengasuhan, tetapi juga sebagai ujian pemahaman antar generasi di bawah satu atap.
Sumber: https://giaoducthoidai.vn/dung-bien-mua-he-thanh-cuoc-chien-post783164.html










