
Mendengar cerita kakakku tentang seorang siswi di Hai Phong bagian barat yang diduga bunuh diri setelah gagal masuk SMA hanya dengan selisih 0,25 poin, aku terdiam lama. Itu sangat memilukan.
Hal yang menghantui bukanlah selisih 0,25 poin, tetapi kenyataan bahwa seorang anak berusia 15 tahun melihat hasil ujian sebagai batas antara harapan dan keputusasaan.
Selisih 0,25 poin tidak dapat sepenuhnya mengukur kemampuan seseorang, apalagi menentukan nilai sebuah kehidupan. Namun, di bawah tekanan yang terus meningkat untuk mencapai nilai tinggi, nilai tampaknya telah melampaui makna sebuah ujian. Nilai telah menjadi ukuran harga diri, sumber kebanggaan atau kekecewaan bagi keluarga, dan beban berat yang diletakkan di pundak anak-anak yang masih dalam masa perkembangan.
Sebenarnya, pertanyaan sesungguhnya bukanlah apakah ujian masuk kelas 10 itu sulit atau mudah. Karena ini adalah ujian, sebagian akan lulus dan sebagian akan gagal. Tetapi mengapa sebuah ujian membuat seorang siswa merasa masa depannya telah berakhir?
Mungkin karena selama ini kita tanpa sadar menganggap nilai sebagai tujuan utama. Dalam benak banyak siswa, lulus berarti sukses dan kebanggaan; sementara gagal berarti kegagalan, kehilangan kesempatan, dan mengecewakan orang tua mereka.
Ketika seorang anak percaya bahwa nilai dirinya ditentukan oleh beberapa angka di rapor, itu bukan lagi hanya kisah mereka sendiri. Itu adalah kisah orang dewasa.
Kita sering bertanya, "Berapa poin yang kamu dapatkan?", tetapi jarang bertanya, "Apakah kamu baik-baik saja?" atau "Bagaimana perasaanmu?"... Kita dengan mudah mengucapkan selamat kepada siswa yang masuk ke sekolah bergengsi atau kelas pilihan, tetapi jarang mengatakan kepada mereka yang belum mencapai hasil yang diinginkan, "Tidak apa-apa, hidup masih panjang."
Banyak orang tua tidak memberikan tekanan verbal apa pun pada anak-anak mereka. Tetapi pengorbanan diam-diam, tatapan penuh harap, atau perbandingan dengan "anak-anak orang lain" sudah cukup untuk membuat seorang anak merasa bahwa mereka tidak boleh gagal.
Di usia 15 tahun, mereka belum memiliki cukup pengalaman untuk memahami bahwa ketika satu pintu tertutup, banyak pintu lain akan terbuka. Gagal masuk sekolah bukan berarti kehilangan masa depan. Kehilangan 0,25 poin bukan berarti kurang kemampuan. Kehidupan seseorang tidak dapat ditentukan oleh ujian yang hanya berlangsung beberapa hari.
Sepertinya setiap musim ujian selalu meninggalkan cerita-cerita yang mengejutkan orang dewasa. Pendidikan bukan hanya tentang mengajarkan pengetahuan, tetapi juga tentang membantu siswa menerima kegagalan, bangkit kembali setelah jatuh, dan percaya bahwa harga diri mereka tidak bergantung pada nilai.
Keluarga juga seharusnya menjadi tempat paling damai bagi anak-anak untuk kembali setelah setiap ujian, bukan tempat yang penuh ketakutan, celaan, atau tatapan kecewa. Sekolah perlu lebih memperhatikan kesehatan mental siswa. Masyarakat juga perlu berhenti mengagungkan nilai sempurna dan sebaliknya lebih menghargai ketekunan, kebaikan, dan kemampuan untuk mengatasi kesulitan.
Setiap musim ujian, selalu ada yang lulus dan ada yang gagal. Itulah aturan penerimaan. Tetapi akan menjadi tragedi jika masih ada anak-anak yang berpikir hidup mereka akan berakhir berdasarkan hasil ujian.
Yang perlu kita lindungi bukan hanya keadilan ujian, tetapi juga kesehatan mental siswa yang tumbuh di bawah tekanan.
Besok, 1 Juli, para siswa akan mengetahui hasil ujian kelulusan SMA mereka. Saya hanya berharap bahwa setelah setiap pengumuman hasil, pertanyaan yang paling sering didengar siswa bukanlah: "Berapa poin yang kamu dapatkan?"
Karena surat penerimaan hanya membuka gerbang menuju sekolah. Tetapi cinta, pengertian, dan kasih sayanglah yang membuka jalan bagi seorang anak untuk melangkah maju dengan percaya diri dalam hidup.
BAO LINHSumber: https://baohaiphong.vn/dung-de-diem-so-lon-hon-mot-cuoc-doi-546738.html









