Terletak sederhana di sebuah gang kecil di lingkungan Tam Binh, Kota Ho Chi Minh, di bawah atap seng tua, Bengkel Pandai Besi Phuong telah menjaga api kerajinan pandai besi tetap menyala selama hampir seabad, menjadi simbol kerajinan yang secara bertahap memudar di jantung kota yang ramai.
Melestarikan keahlian yang diwariskan dari nenek moyang kita.
Jalan menuju bengkel pandai besi Phuong sempit, hampir tidak cukup lebar untuk dilewati sepeda motor, tetapi tidak sulit untuk mendengar gema suara palu dan landasan di ruang yang sunyi itu. Setiap pukulan palu pada baja bagaikan detak waktu, membangkitkan kenangan masa lalu.
Bau asap baja dan aroma samar terbakar memenuhi udara yang pengap, di mana seorang pria dengan tangan gelap dan kuat dengan tekun memukul baja merah panas di dalam sebuah bak. Pria itu adalah Tran Mau Quoc Toan, generasi kelima yang melanjutkan perdagangan pandai besi keluarganya.

Papan tanda ini kecil namun kokoh, dibuat agar tahan lama.
Bengkel pandai besi Phuong hanya berukuran 30 meter persegi, tetapi di dalam ruang itu, setiap langkah proses penempaan, setiap batang baja, setiap pukulan palu dipenuhi dengan cinta dan rasa hormat terhadap kerajinan tradisional. Toan berbagi: "Profesi ini diwariskan dari leluhur kami; kami melakukannya karena passion dan untuk melestarikan apa yang kami miliki. Kami terus melakukannya."
Bengkel pandai besi Phuong telah berdiri selama hampir seratus tahun, dengan nama yang sarat akan sejarah. Bengkel ini dinamai menurut nama leluhurnya dan telah dipertahankan selama lima generasi. Toan menceritakan: "Papan nama Bengkel Pandai Besi Phuong sudah berusia lebih dari 70 tahun. Setiap tahun saya mengecat ulang dan menulis ulang namanya, tetapi tetap sama, tidak berubah."
Papan nama tua yang lapuk itu kini telah menjadi simbol kekuatan abadi, bukti kejayaan kerajinan pandai besi di masa lalu.

Bapak Tran Mau Quoc Toan adalah generasi kelima yang meneruskan usaha pandai besi keluarganya.
Seperti banyak pandai besi lainnya, Bengkel Pandai Besi Phuong mengkhususkan diri dalam memproduksi alat tempa tradisional seperti pisau penggiling, parang, cangkul, sekop, linggis, dll., dan menerima pesanan khusus untuk barang-barang seperti pahat beton, linggis, dan alat-alat untuk proyek konstruksi. Di bawah terik matahari Kota Ho Chi Minh, pekerjaan yang sudah berat menjadi semakin sulit, tetapi bagi Bapak Toan, itu adalah sebuah kegembiraan dan gairah yang tak tergantikan dalam hidupnya.
Meskipun pekerjaan manual yang berat dan pukulan palu yang membuat berkeringat, Tuan Toan tidak pernah mengeluh. Ia mengaku, "Pekerjaan ini sulit, tetapi saya melakukannya karena saya mencintai profesi ini. Kami melakukannya karena kecintaan pada keahlian yang diwariskan dari leluhur kami, dan betapapun sulitnya, kami tidak bisa menyerah."
Teliti dan penuh semangat
Namun, kekhawatiran terbesarnya tetaplah masa depan profesi pandai besi. "Anak-anak saya tidak lagi mengikuti jejak profesi ini; pekerjaannya terlalu panas. Hanya duduk satu meter di dekat tungku, Anda bisa merasakan panas mencapai 1.000 derajat. Karena itu, tidak ada yang tahan. Sedangkan saya, saya hampir berusia 60 tahun, dan saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada profesi ini," keluh Toan.

Bengkel pandai besi Phuong mengkhususkan diri dalam memproduksi alat-alat tempa tradisional seperti pisau.
Kekhawatiran itu tampak jelas bagi siapa pun yang menatap mata pandai besi yang termenung itu. Ia tidak hanya khawatir tentang kariernya sendiri, tetapi juga tentang masa depan pandai besi, sebuah kerajinan yang secara bertahap menghilang di kota-kota berkembang. "Suatu hari nanti, semua alat ini akan menjadi tidak berguna," kata Toản pelan, suaranya sedih, seolah mengenang masa lalu yang jauh.
Meskipun demikian, kegembiraan terbesar Toan setiap hari adalah melihat produknya dihargai oleh pelanggan. Dia berbagi: "Kegembiraan terbesar adalah ketika pelanggan memberi tahu saya bahwa pisau ini sangat tajam, nyaman digunakan. Itu saja sudah membuat saya bahagia, tidak peduli seberapa lelah pekerjaannya."
Pisau, cangkul, sekop, dan pahat beton yang ia buat dengan tangannya sendiri selalu mencerminkan ketelitian dan semangat.

Tungku tempa itu terus menyala terang setiap hari.
Namun, ia tak bisa menyembunyikan kesedihannya memikirkan kemunduran kerajinan itu. "Banyak anak muda datang untuk belajar kerajinan ini, tetapi mereka hanya bekerja beberapa hari sebelum berhenti. Suhunya terlalu panas; mereka tidak tahan, dan kemudian kerajinan ini akan perlahan menghilang. Itulah yang paling membuatku khawatir," kata Toan, tatapannya kosong saat ia memandang lubang api.
Bengkel pandai besi Phuong masih berdiri kokoh di jantung Kota Ho Chi Minh, diam-diam menjaga api kerajinan tradisional tetap menyala. Meskipun mereka tahu bahwa suatu hari nanti, ketika api di bengkel padam, hanya menyisakan papan nama tua di luar, suara palu akan terus bergema di hati masyarakat Kota Ho Chi Minh. Bagi Bapak Toan, bahkan jika perdagangan pandai besi menghilang suatu hari nanti, kenangan akan kerajinan yang pernah berjaya itu tidak akan pernah pudar.

Sumber: https://nld.com.vn/gan-mot-the-ky-giu-lua-lo-ren-196251118081221514.htm






Komentar (0)