Siang ini, saya berjalan-jalan di sebuah lorong kecil yang tenang, tempat langka di mana jejak masa lalu masih tersisa. Meskipun matahari musim panas bersinar terik, sekadar berteduh di bawah naungan pepohonan yang menjorok di atas tembok kuno langsung menghilangkan semua keletihan. Di tengah dengungan jangkrik dan semilir angin yang membawa aroma tanah bercampur dengan wangi bunga pinang yang gugur, tiba-tiba saya teringat sebuah kenangan jauh, murni dan utuh seolah-olah baru terjadi kemarin.

Masa kecilku tanpa mainan dan perjalanan mewah. Saat itu, ayahku bekerja jauh untuk jangka waktu yang lama, kadang-kadang hanya pulang setahun sekali. Ibuku juga sibuk dengan karier mengajarnya, dengan ujian dan kelas yang menyibukkannya dari subuh hingga senja, lalu ia tanpa lelah mengerjakan rencana pelajarannya hingga larut malam.
Masa kecilku hampir seluruhnya dihabiskan dalam pelukan penuh kasih sayang kakek-nenekku. Aku tumbuh besar dibekali oleh cinta mereka yang manis dan tanpa syarat, kehangatan ubi panggang, aroma teh biji teratai yang harum, dan dongeng-dongeng indah dan penuh kabut yang diceritakan nenekku.
Dalam mimpi-mimpiku yang samar, aku melihat diriku berlari dan melompat di tengah rimbunnya pepohonan di taman, kakiku yang telanjang menginjak sinar matahari yang terfragmentasi yang menembus dedaunan. Angin sepoi-sepoi dari tangan kakekku terasa seperti arus laut yang sejuk, dengan lembut membawaku melewati panas terik wilayah tengah yang kering. Sesekali, ia akan perlahan menyesap teh hijaunya yang kental, suara cangkir tanah liat yang berdenting ringan di atas nampan kayu bergema dalam suasana tenang siang hari di pedesaan.
Dulu, kakekku seperti ensiklopedia hidup, seseorang yang bisa menjawab semua pertanyaanku. Dunianya terbatas pada kebun kecilnya, tempat bunga melati selalu mekar harum di antara pohon-pohon yang berbuah lebat. Saat matahari musim panas meredup, kami berdua akan merawat tanaman bersama-sama. Aku berjalan tertatih-tatih di sampingnya, memegang penyiram kecil, meniru gerakannya yang penuh perhatian. Melalui cerita-cerita kakekku, aku belajar mencintai suara burung-burung yang berkicau di antara dedaunan dan bermimpi tentang negeri-negeri jauh dari kisah-kisah masa perang.
Sementara itu, nenekku sibuk di dapurnya yang kecil dan sederhana, selalu dipenuhi aroma asap senja yang masih tercium dan aroma makanan yang kaya dan familiar. Menggantikan ibuku ketika ia pergi, ia merawatku, mulai dari pakaian hingga makanan sehari-hariku. Aku masih ingat dengan jelas sore-sore itu berdiri di gerbang menunggu ibuku, ketika ia diam-diam menyelipkan jambu biji yang harum dan matang atau kue kering hangat yang baru dipanggang untukku. Ia sering bercanda memarahi kakekku karena "terlalu memanjakanmu," tetapi ia juga yang diam-diam bangun di tengah malam untuk menyelimutiku dengan selimut tipis, karena takut aku akan masuk angin.
Waktu berlalu tanpa suara, dan aku tumbuh dalam pelukan kasih sayang mereka, seperti tunas kecil yang disirami embun paling murni. Tetapi hukum alam yang keras: sementara tahun-tahun itu menguatkanku, tahun-tahun itu juga merenggut kekuatan nenekku. Rambutnya memutih seperti awan di langit, postur kakekku semakin membungkuk, dan langkahnya tidak lagi selincah dulu. Saat aku mulai menjelajah dunia yang lebih luas, mengeksplorasi cakrawala baru, ruang kakek-nenekku secara bertahap menyempit, tetap diam di dekat beranda tua.
Lalu suatu hari, ranjang bambu itu tiba-tiba terasa sangat luas. Kakek dan nenekku, bergandengan tangan, menyeberangi sisi lain lereng kehidupan seperti daun yang jatuh dari ranting untuk kembali ke akarnya, membawa serta langit polos dan murni masa kecilku, mengirimkannya ke alam ilusi.
Siang ini, saat berjalan menyusuri gang tua, menyaksikan sinar matahari memancarkan bayangan panjang di dinding-dinding berlumut, hatiku terasa sakit karena kesedihan yang tak terungkapkan. Aku teringat asap menyengat dari dapur nenekku, derak kipas bambu yang membangunkanku dari tidur siang, dan punggung kakekku yang membungkuk di samping semak melati yang harum. Kini, aku seorang ibu dengan rumah sendiri, dengan berani menavigasi perjalanan hidup yang panjang dan penuh badai. Bukan lagi anak yang merajuk setiap kali aku tersandung, dan bukan lagi anak yang dengan sabar menungguku di meja makan yang hangat pada malam-malam ketika aku pulang larut malam.
Angin sepoi-sepoi sore hari tiba-tiba berhembus, menyebarkan beberapa kelopak bunga kecil ke bahu saya. Menatap langit biru jernih di antara dedaunan, saya tersenyum lembut, menyadari bahwa nenek saya telah mengumpulkan kerja keras seumur hidupnya, dengan hati-hati mengolahnya menjadi angin sepoi-sepoi yang paling menyegarkan, melindungi masa kecil saya dan memungkinkan saya tumbuh di tahun-tahun yang damai, meskipun sulit, penuh dengan kebahagiaan.
Sumber: https://baotayninh.vn/gio-tu-tay-noi-150369.html







