![]() |
Pelatih Michel belum berhasil membantu Girona keluar dari krisis mereka. |
Tahun 2025 terbukti menjadi mimpi buruk bagi Girona FC. Tim yang pernah mengguncang LaLiga dan memasuki Liga Champions dengan penuh kebanggaan sebagai penantang kini berjuang untuk bertahan hidup. Posisi mereka di zona degradasi bukan lagi kemunduran jangka pendek, tetapi konsekuensi dari penurunan berkepanjangan di mana masalah telah menumpuk dan tetap tidak terselesaikan.
Jebakan familiar bagi tim "kuda hitam" telah menimpa Montilivi. Setelah musim bersejarah, Girona memasuki Liga Champions dengan sumber daya terbatas tetapi ekspektasi tinggi. Jadwal padat, tekanan yang meningkat, dan skuad yang tipis secara bertahap mengungkap keterbatasan mereka. Eliminasi awal mereka dari Eropa tidak meringankan beban; sebaliknya, hal itu menyebabkan penurunan di La Liga. Di akhir musim lalu, Girona hanya terhindar dari degradasi dengan mengalahkan tim Valladolid yang sudah menyerah. Dua kemenangan dalam 16 putaran terakhir menjadi peringatan, tetapi peringatan itu tidak diindahkan dengan benar.
Musim panas 2025 seharusnya menjadi waktu untuk penyegaran mental. Namun, itu tidak terjadi. Girona memulai musim baru dengan performa yang buruk, hanya meraih satu kemenangan dalam 11 pertandingan. Lebih luas lagi, dari Februari hingga September, mereka hanya memenangkan 3 dari 27 pertandingan. Angka-angka ini berbicara banyak: krisis itu tidak datang secara tiba-tiba; krisis itu berkepanjangan dan berbahaya, mengikis kepercayaan diri seluruh tim.
Masalah terbesar terletak pada struktur dan operasional tim. Girona gagal membangun tim yang seimbang. Banyak posisi kekurangan pemain berkualitas, sementara pemain baru yang direkrut tidak memberikan dampak langsung. Lebih penting lagi, banyak pemain baru datang terlambat. Vanat dan Ounahi datang setelah musim sudah dimulai dan belum terbiasa dengan lingkungan La Liga. Waktu adaptasi memang tak terhindarkan, tetapi Girona tidak memiliki "ruang" untuk menunggu. Setiap kekalahan pada saat itu merupakan pukulan bagi kepercayaan diri mereka.
![]() |
Girona sedang mengalami kemunduran. |
Krisis paling terlihat di kedua area penalti. Girona kebobolan gol terbanyak di liga (33), sementara serangan mereka termasuk yang terburuk (15 gol). Selisih gol mereka yang sangat negatif (-18) tidak hanya mencerminkan kurangnya keterampilan teknis tetapi juga mengungkapkan tim yang telah kehilangan identitasnya. Masalah penjaga gawang semakin memperburuk keadaan. Gazzaniga telah dikritik, tetapi dengan Livakovic yang tidak tersedia dan opsi cadangan yang absen karena cedera, pelatih praktis tidak punya pilihan. Ini adalah situasi tim yang terpojok.
Di tengah gejolak ini, terdapat manajer Michel Sanchez. Sang pahlawan dari musim-musim sukses sebelumnya kini menghadapi skeptisisme publik. Untuk pertama kalinya, citra Michel yang energik, yang mengendalikan ruang ganti, mulai retak. Tekanan hasil pertandingan membuatnya lelah, dan kelelahan itu menyebar ke seluruh tim. Bahkan manajemen, yang selalu menaruh kepercayaan padanya, terpaksa mengakui bahwa posisi manajer tidak kebal terhadap serangkaian kegagalan.
Girona masih punya peluang. Bursa transfer musim dingin menawarkan harapan untuk menambal kelemahan terbesar. Tetapi masalahnya bukan hanya tentang para pemain; ini tentang bagaimana tim merefleksikan dirinya sendiri. Tanpa mengatasi akar penyebab ketidakseimbangan dan krisis psikologis, pemain baru hanya akan menjadi solusi sementara.
Dari sebuah fenomena menjadi tim yang berjuang menghindari degradasi, Girona sedang mempelajari pelajaran pahit dari sepak bola level atas. Dan bagi Míchel, ini bisa menjadi tantangan terbesar dalam kariernya: apakah merebut kembali kendali untuk mengangkat tim keluar dari keterpurukan, atau menyaksikan mimpinya di Liga Champions dengan cepat menjadi kenangan yang jauh.
Sumber: https://znews.vn/girona-roi-tu-do-post1614115.html









Komentar (0)