Rumah tangga yang bahagia tidak dibangun di atas harta benda yang mewah, tetapi di atas kebaikan dan cara setiap anggota keluarga menenangkan emosi anggota lainnya.
Turunkan layar hingga saling bersentuhan.
Nyonya Linh mengakui bahwa pada beberapa malam, keempat anggota keluarga akan duduk sangat berdekatan di ruang tamu, tetapi ruangan itu akan terasa sunyi mencekam karena setiap orang asyik dengan dunianya sendiri di balik layar ponsel mereka.
"Dalam masyarakat yang semakin cepat dan jauh jaraknya, saya menyadari bahwa hal yang paling berharga dari sebuah keluarga bukanlah tinggal di bawah satu atap, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan satu sama lain," ungkap Linh.
Untuk menjembatani kesenjangan yang tak terlihat itu, pasangan tersebut membuat kesepakatan: betapapun sibuknya mereka, akhir pekan akan sepenuhnya didedikasikan untuk anak-anak mereka. Terkadang, perjalanan mereka hanyalah duduk bersama di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Di sana, orang tua itu menyimpan ponsel mereka, mendengarkan putri mereka yang duduk di kelas lima berceloteh tentang sekolah, dan tertawa mendengar komentar polos putra mereka yang duduk di kelas dua. Ibu Linh percaya bahwa apa yang dibawa anak-anak sepanjang masa kecil mereka bukanlah hadiah mahal, tetapi perasaan aman karena mengetahui orang tua mereka selalu ada untuk mendukung dan mendengarkan mereka. Itulah yang akan menjadi tempat kenangan terhangat, tempat yang akan selalu ingin mereka kunjungi kembali, ke mana pun mereka pergi di kemudian hari.
Di rumah Linh, ada beberapa "aturan tak tertulis" yang sangat ketat tentang cara berkomunikasi. Aturan pertama adalah: Jangan berbicara secara samar-samar dan jangan membawa emosi negatif dari luar dan melampiaskannya pada orang lain.
Ibu Linh berbagi bahwa ketika orang menjadi terlalu akrab satu sama lain, mereka sering tanpa sengaja lupa bagaimana menghargai perasaan satu sama lain. Setelah seharian penuh tekanan pekerjaan, semua orang lelah dan mudah tersinggung. Tetapi jika hanya satu orang berbicara sedikit lebih lembut, suasana di rumah akan benar-benar berbeda.
"Saya selalu berpikir bahwa dalam pernikahan, tidak perlu menang atau kalah, untuk menentukan siapa yang benar atau salah. Memenangkan argumen tidak sepenting menjaga orang yang Anda cintai agar tidak terluka," ungkap ibu muda itu.

Ibu Linh bersama suami dan anak-anaknya
Setiap kali terjadi perselisihan antara suami dan istri, atau anak-anak mereka berperilaku buruk, Linh biasanya memilih untuk tetap diam selama beberapa menit agar amarahnya mereda. Jika sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi, dia dan suaminya menunggu sampai keduanya tenang sebelum duduk untuk berbicara. Pemahaman bersama ini mencegah konflik sehari-hari meningkat menjadi keretakan yang dalam dalam hubungan mereka.
Cara orang tua mereka memperlakukan satu sama lain menjadi cerminan bagi kedua anak tersebut saat mereka tumbuh dewasa. Mereka belajar untuk mengucapkan terima kasih ketika menerima bantuan, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, dan memperhatikan perasaan orang-orang di sekitar mereka.
"Sistem perakaran" diam-diam menahan badai.
Banyak orang mengatakan bahwa rutinitas sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidup sudah cukup melelahkan, sehingga tidak ada waktu untuk memperhatikan detail kecil atau menghargai tindakan romantis. Namun berdasarkan pengalamannya sendiri, Linh berpendapat sebaliknya. Ia percaya bahwa tindakan-tindakan kecil penuh perhatian inilah, yang terakumulasi setiap hari, yang menciptakan "ketahanan" terkuat bagi sebuah keluarga dalam menghadapi peristiwa-peristiwa besar dalam hidup.
Kebahagiaan di rumah itu dipupuk oleh tindakan berbagi yang sederhana. Pada hari-hari ketika istri lelah, suami akan proaktif membersihkan rumah, menjemur pakaian, atau membantu anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah agar istri bisa beristirahat. Ketika suasana tiba-tiba menjadi tegang, suami dengan halus melontarkan lelucon untuk membuat mereka berdua tertawa. Atau terkadang, hanya pertanyaan yang tepat waktu: "Kamu pasti sangat lelah hari ini, ya?", makan bersama yang dinantikan, atau genggaman tangan lembut dalam keheningan.
Ibu Linh menyamakan keluarganya dengan sebuah pohon. Tindakan kecil kepedulian setiap hari adalah akar-akar diam yang berakar dalam di tanah. Biasanya, tidak ada yang melihat atau memperhatikan akar-akar itu. Tetapi ketika badai kehidupan menerjang, akar-akar yang dalam dan kuat itulah yang menjaga pohon keluarga tetap berdiri tegak, mencegahnya tercabut.
Pupuk rasa syukur melalui tindakan-tindakan kecil.
Ibu Linh menanamkan budaya syukur pada kedua anaknya melalui tindakan-tindakan kecil dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Di rumahnya, anak-anak diajarkan bahwa tidak ada hal yang bisa dianggap remeh. Makanan yang enak, tidur malam yang nyenyak, dan kehidupan yang nyaman membutuhkan keringat, usaha, dan kerja keras kakek-nenek dan orang tua mereka. Oleh karena itu, ia dan suaminya selalu memberi contoh yang baik dan mengingatkan anak-anak mereka bahkan tentang kebiasaan terkecil sekalipun. Ketika mereka pulang sekolah, hal pertama yang mereka lakukan adalah berlari untuk memeluk dan menyapa kakek-nenek mereka. Setiap kali keluarga pergi keluar dan makan sesuatu yang lezat, anak-anak selalu proaktif mengingat untuk membeli sesuatu untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh untuk kakek-nenek mereka. Tugas-tugas yang sesuai dengan kemampuan mereka, seperti memetik sayuran, mencuci piring, dan membantu pekerjaan rumah tangga, semuanya dilakukan secara sukarela oleh kedua anak tersebut.
"Saya tidak menyuruh anak saya untuk menekannya, tetapi untuk mengajarkannya menghargai apa yang dimilikinya dan bersyukur atas kasih sayang orang lain," Linh berbagi. Dia percaya bahwa warisan terbesar yang dapat ditinggalkan orang tua kepada anak-anak mereka bukanlah rumah mewah atau mobil mewah, tetapi hati yang tahu bagaimana merasakan, bersyukur, dan hidup dengan baik terhadap keluarga dan kehidupan.

MSc Nguyen Viet Hien
Menurut psikolog Nguyen Viet Hien (Dosen di Universitas Pendidikan - Universitas Nasional Vietnam, Hanoi, Direktur Perusahaan Pendidikan OED), kebiasaan kecil yang dilakukan keluarga Linh untuk memelihara rumah tangga mereka merupakan manifestasi nyata dari kode etik keluarga yang saat ini sedang berkembang. Secara aktif menunjukkan perhatian dalam berbicara, berbagi pekerjaan rumah tangga, dan mengajarkan rasa syukur kepada anak-anak tidak hanya membantu melestarikan nilai-nilai tradisional yang baik tetapi juga membentuk fondasi inti pendidikan moral dan gaya hidup dalam keluarga. Tindakan-tindakan kecil namun patut dicontoh ini akan menjadi fondasi yang paling kokoh untuk membentuk karakter yang baik dan berbudi luhur pada generasi mendatang.
DEPARTEMEN KEBUDAYAAN RAKYAT, KELUARGA DAN PERPUSTAKAAN - KEMENTERIAN KEBUDAYAAN, OLAHRAGA DAN PARIWISATA MENGKOORDINASIKAN PELAKSANAAN
Sumber: https://phunuvietnam.vn/giu-lua-to-am-tu-nhung-dieu-nho-moi-ngay-238260622215945624.htm








