Melalui pengalaman bertahun-tahun saya bekerja di bidang kebudayaan, berpartisipasi di parlemen, dan berkesempatan berkolaborasi dengan berbagai media, saya telah memahami secara mendalam bahwa sebuah artikel yang baik tidak hanya memberi kita lebih banyak informasi, tetapi juga membantu kita untuk lebih memahami negara kita, rakyat kita, dan perubahan-perubahan halus namun mendalam dalam masyarakat.
Saya ingat pernah mengunjungi sebuah komunitas lokal dan bertemu dengan seorang petugas kebudayaan yang sedang berjuang mengatasi masalah lembaga-lembaga kebudayaan setelah reorganisasi unit administrasi. Ia berkata dengan sangat sederhana, "Kami tidak takut memiliki terlalu banyak pekerjaan, kami hanya takut bahwa masyarakat tidak sepenuhnya memahami mengapa perubahan ini diperlukan." Pernyataan itu telah melekat dalam ingatan saya untuk waktu yang lama. Karena selama masa transformasi nasional yang signifikan, pers adalah jembatan yang menghubungkan kebijakan-kebijakan utama dengan kehidupan sehari-hari, memastikan bahwa kekhawatiran masyarakat didengar, dan mencegah upaya-upaya di tingkat akar rumput terabaikan oleh banyaknya informasi yang berlebihan.
Seorang reporter yang mengunjungi sebuah komune, mendengarkan orang-orang, mengamati para pejabat saat bekerja, dan menemukan hambatan kecil dalam prosedur atau cara yang baik untuk melayani masyarakat, sering kali dapat berkontribusi dalam memecahkan masalah yang jauh lebih besar daripada yang biasanya diliput dalam sebuah artikel berita.

Pada kesempatan Hari Pers Revolusioner Vietnam tahun ini, ketika saya memikirkan jurnalisme, hal pertama yang terlintas di pikiran saya adalah kepercayaan. Tahun lalu, pada peringatan 100 tahun Hari Jurnalisme Revolusioner Vietnam, Sekretaris Jenderal To Lam menekankan: "Jurnalisme harus menjadi kekuatan yang membangun kepercayaan, mendorong aspirasi pembangunan, dan berkontribusi pada terwujudnya tujuan membangun Vietnam yang kuat, makmur, dan lestari di era kemajuan nasional." Ini bukan hanya persyaratan profesional, tetapi juga posisi strategis bagi jurnalisme dalam takdir pembangunan bangsa.
Tahun ini, dalam pertemuan dengan 101 jurnalis terkemuka yang telah memenangkan Penghargaan Jurnalisme Nasional selama bertahun-tahun, Sekretaris Jenderal dan Presiden To Lam terus menyampaikan pesan yang sangat spesifik dan tepat waktu: pers harus "mendengarkan kehidupan, berbicara jujur, membahas isu secara langsung, dan berbicara dengan penuh tanggung jawab kepada Partai, Negara, dan rakyat." Kedua pesan ini saling terkait sebagai dua sisi dari misi yang sama. Untuk membangun kepercayaan, seseorang harus berbicara jujur. Untuk mendorong aspirasi pembangunan, seseorang harus membahas isu secara langsung. Untuk mendampingi bangsa di era baru, seseorang harus berbicara dengan penuh tanggung jawab, keberanian, budaya, dan harga diri profesional.
Jurnalisme revolusioner Vietnam telah berlangsung selama lebih dari satu abad, dimulai dengan surat kabar Thanh Nien (Pemuda) yang didirikan oleh Nguyen Ai Quoc, dari halaman-halaman tipis yang dicetak namun memiliki kekuatan untuk membangkitkan seluruh bangsa. Selama seratus tahun, jurnalisme telah hadir di tempat-tempat yang paling sulit, kritis, dan sakral di negara ini: di zona perang, di garis depan, di tengah lokasi konstruksi, di daerah yang terkena bencana alam dan epidemi, di parlemen, dan di setiap sudut kehidupan sehari-hari. Beberapa jurnalis telah gugur. Yang lain telah menghabiskan seluruh hidup mereka menggunakan pena dalam kesunyian, tanpa kemuliaan, berpegang pada keyakinan sederhana: untuk menulis apa yang bermanfaat bagi rakyat dan negara.
Pers harus menjadi bagian dari kapasitas pembangunan nasional.
Namun, memperingati Hari Pers Revolusioner Vietnam hari ini bukan hanya tentang berbangga akan masa lalu. Semakin bangga kita, semakin besar pula tanggung jawab kita terhadap masa depan. Negara ini memasuki era pembangunan baru dengan tujuan yang lebih besar, tekanan yang lebih besar, dan harapan yang lebih tinggi. Kita sedang merampingkan struktur organisasi, mereformasi model pemerintahan nasional, mempromosikan transformasi digital, mengembangkan ekonomi berbasis pengetahuan dan kreatif, serta membangun budaya Vietnam yang maju dan kaya akan identitas nasional dalam konteks integrasi yang mendalam. Dalam konteks ini, pers tidak dapat tinggal diam. Pers harus menjadi bagian integral dari kapasitas pembangunan bangsa.
Oleh karena itu, penyederhanaan pers tidak boleh hanya dilihat sebagai pengurangan jumlah lembaga, media, atau nama. Ini harus menjadi proses restrukturisasi untuk membuat pers lebih kuat, lebih profesional, lebih modern, dan lebih manusiawi. Penyederhanaan bukan tentang memiskinkan kehidupan jurnalistik, tetapi tentang memusatkan sumber daya pada ruang redaksi yang mampu memimpin opini publik, memiliki teknologi modern, memiliki tenaga kerja yang berdedikasi, dan mampu menghasilkan karya berkualitas tinggi di berbagai platform. Penyederhanaan bukan berarti kehilangan identitas, tetapi lebih merupakan kesempatan bagi identitas tersebut untuk ditingkatkan dalam struktur baru, sehingga setiap media tidak hanya bertahan dengan kebiasaan lama, tetapi hidup berdasarkan nilai sebenarnya bagi publik.

Tentu saja, akan ada penyesalan di sepanjang jalan. Beberapa nama surat kabar telah tertanam dalam ingatan generasi pembaca. Beberapa bagian khusus, kolom, gaya judul, metode bercerita, bahkan aroma surat kabar lama, telah menjadi bagian dari kehidupan spiritual banyak orang. Tetapi perkembangan selalu melibatkan transisi. Yang penting adalah meskipun nama mungkin berubah, dan model organisasi mungkin diatur ulang, semangat profesional, kenangan positif, dan tanggung jawab kepada publik tidak boleh hilang. Merek jurnalistik yang hebat tidak hanya terletak pada judulnya, tetapi juga pada kepercayaan yang diberikan pembaca kepada para jurnalis. Selama kepercayaan itu dipertahankan, merek tersebut akan terus hidup dalam bentuk baru.
Tantangan terbesar yang dihadapi jurnalisme saat ini bukanlah sekadar bersaing dengan media sosial dalam hal kecepatan. Mesin dapat menyampaikan berita dengan cepat, algoritma dapat mendistribusikan konten secara luas, dan kecerdasan buatan dapat membantu dalam menghasilkan teks, gambar, dan audio. Tetapi hanya manusia yang memiliki hati nurani, pengalaman, kemampuan untuk tergerak oleh penderitaan, bersukacita atas perbuatan baik, merasakan penyesalan atas ketidakadilan, dan tahu kapan harus berhenti di batas moralitas. Dalam hal inilah jurnalisme arus utama menegaskan nilainya yang tak tergantikan: memverifikasi kebenaran, membela keadilan, menganalisis konteks, membangun konsensus, dan memupuk kepercayaan.
Orang-orang belajar untuk saling mencintai dan hidup lebih bertanggung jawab.
Di tengah lautan informasi saat ini, publik tidak hanya perlu mengetahui "apa yang terjadi," tetapi juga memahami "mengapa itu penting," "bagaimana hal itu memengaruhi hidup saya," dan "kepentingan bersama apa yang perlu dilindungi." Laporan berita yang bertanggung jawab tidak menjerumuskan masyarakat ke dalam kepanikan; melainkan membantu menenangkannya. Kritik yang berbudaya tidak mengecilkan hati mereka yang berani berinovasi; melainkan membantu melindungi apa yang benar dan memperbaiki apa yang salah. Sebuah karya jurnalistik yang layak tidak mengeksploitasi penderitaan untuk menarik pembaca; melainkan membuat orang lebih berempati dan lebih bertanggung jawab.
Di era baru ini, jurnalisme harus kembali kepada rakyat. Tanpa rakyat, jurnalisme akan kehilangan fondasinya. Tanpa pengalaman praktis, jurnalisme akan mudah jatuh ke dalam dogmatisme. Tanpa kebenaran, jurnalisme akan kehilangan martabatnya. Dan tanpa budaya, jurnalisme tidak akan lagi mampu memengaruhi masyarakat. Oleh karena itu, jurnalis saat ini membutuhkan lebih dari sekadar keterampilan teknologi. Mereka membutuhkan keyakinan politik yang kuat, pengetahuan interdisipliner, keterampilan analisis kebijakan, kepekaan budaya, dan yang terpenting, hati yang berpihak pada kebaikan bersama.
Saya selalu percaya bahwa suatu bangsa yang ingin maju membutuhkan jalan yang baik, lembaga yang baik, dan sumber daya yang baik, tetapi juga membutuhkan lingkungan spiritual yang sehat. Pers berkontribusi dalam menciptakan lingkungan tersebut. Ketika pers menyebarkan teladan yang baik, orang-orang yang baik, dan upaya yang gigih di tingkat akar rumput, masyarakat memperoleh lebih banyak energi positif. Ketika pers mengidentifikasi hambatan kebijakan, mencerminkan suara rakyat, dan mengusulkan solusi yang tepat, pemerintahan nasional menjadi lebih dekat dengan rakyat dan lebih efektif. Ketika pers secara gigih membela kebenaran, memerangi kesalahan tanpa ekstremisme, dan mempromosikan apa yang benar tanpa mempermanisnya, kepercayaan sosial akan semakin kuat.
Oleh karena itu, Hari Pers Revolusioner Vietnam bukan hanya hari bagi para jurnalis. Ini juga merupakan hari bagi masyarakat untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada kekuatan khusus di bidang ideologi dan budaya; hari bagi kita masing-masing untuk bertanya pada diri sendiri bagaimana kita telah berperilaku dengan informasi, dengan kebenaran, dan dengan tanggung jawab kewarganegaraan kita. Di era di mana siapa pun dapat berbicara, berbagi, dan berkomentar, etika informasi bukan hanya persyaratan bagi jurnalis, tetapi juga aspek budaya masyarakat.
Saya percaya bahwa, betapapun pesatnya perubahan teknologi, betapapun cepatnya model ruang redaksi berkembang, api inti jurnalisme revolusioner Vietnam tetaplah pengabdian kepada Tanah Air, pengabdian kepada rakyat, pengabdian kepada kebenaran dan keadilan. Api itu dinyalakan dalam artikel-artikel surat kabar pertama Nguyen Ai Quoc, dipelihara melalui masa perang, dipupuk di masa damai, dan hari ini perlu diteruskan di era kemajuan nasional ini.
Merampingkan untuk menjadi lebih kuat. Berinovasi untuk lebih dekat dengan masyarakat. Transformasi digital untuk menyebar lebih luas. Namun pada akhirnya, jurnalisme hanya benar-benar bermakna ketika setiap kata, setiap gambar, setiap laporan berita diarahkan pada pertanyaan sederhana namun mendalam: apakah ini membuat negara lebih baik, membangun kepercayaan yang lebih besar di antara masyarakat, dan mengarah pada kehidupan yang lebih layak bagi semua orang?
Jika pers dapat menjawab pertanyaan itu, mereka tidak hanya akan mengikuti perkembangan era baru, tetapi juga berkontribusi dalam membuka jalan bagi era tersebut.

Sumber: https://vietnamnet.vn/giu-ngon-lua-nghe-bao-trong-ky-nguyen-moi-2526559.html







