Pada tanggal 21 Juni 1925, pemimpin Nguyen Ai Quoc mendirikan Surat Kabar Thanh Nien (Pemuda), meletakkan dasar bagi pers revolusioner di Vietnam. Dari surat kabar rahasia yang menyebarkan cita-cita pembebasan nasional hingga sistem media multi-platform saat ini, pers revolusioner selalu menyertai titik balik negara.

Para reporter dari Surat Kabar Keamanan Publik meliput Kongres Nasional Partai ke-14.
Setelah 101 tahun, teknologi telah mengubah hampir setiap metode komunikasi. Setiap individu dapat menjadi pembawa pesan. Media sosial dapat menyampaikan pesan kepada jutaan orang dalam hitungan menit. Kecerdasan buatan dapat menghasilkan teks, gambar, dan audio dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Namun justru di era ledakan informasi inilah muncul sebuah paradoks: semakin banyak informasi yang dimiliki suatu masyarakat, semakin sulit bagi orang untuk membedakan kebenaran. Dan seiring semakin sulitnya mengidentifikasi kebenaran, kepercayaan menjadi aset yang semakin berharga.
Mungkin itulah sebabnya, setelah lebih dari satu abad berdiri dan berkembang, jurnalisme revolusioner masih tetap relevan. Ini bukan sekadar menyampaikan informasi; jurnalisme berkontribusi pada misi yang lebih besar: menjaga kepercayaan sosial.
Ketika informasi tidak lagi langka.
Sepanjang sebagian besar abad ke-20, informasi merupakan sumber daya yang langka. Peran jurnalisme terutama adalah untuk menyebarkan informasi kepada publik. Siapa pun yang memperoleh informasi lebih cepat umumnya memiliki keuntungan yang lebih besar.
Saat ini, tatanan tersebut telah berubah. Yang kurang dalam masyarakat bukanlah informasi lagi, melainkan kemampuan untuk memverifikasi informasi tersebut.

Berita palsu, gambar yang dimanipulasi, video deepfake, dan kampanye manipulasi opini daring semakin sering muncul. Pandemi COVID-19 adalah contoh yang jelas. Di samping perjuangan melawan pandemi, ada juga perjuangan melawan berita palsu. Banyak informasi yang salah tentang pengobatan, vaksin, atau situasi penyakit telah menyebabkan kepanikan yang meluas, meningkatkan tekanan pada tata kelola dan manajemen sosial.
Realitas ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar di era digital bukanlah kurangnya informasi, melainkan kurangnya kepercayaan terhadap informasi tersebut.
Jika abad sebelumnya menuntut agar orang memiliki akses terhadap kebenaran, abad ini menuntut agar orang mampu mengidentifikasi kebenaran di tengah banyaknya informasi yang saling terkait.
Itulah ruang eksistensi dan juga nilai inti dari jurnalisme revolusioner.
Mesin press ini bersaing bukan berdasarkan kecepatan, tetapi berdasarkan keandalan.
Dalam lingkungan media modern, jurnalisme hampir tidak bisa lebih cepat daripada media sosial. Tetapi jurnalisme tidak boleh selonggar media sosial.
Yang memberi kekuatan pada jurnalisme bukanlah penyampaian berita beberapa menit sebelumnya, melainkan kemampuannya untuk membantu publik mengetahui kebenaran.
Di balik setiap karya jurnalistik terdapat proses verifikasi sumber, pengecekan silang data, konfirmasi bukti, dan pemenuhan tanggung jawab sosial jurnalis. Proses inilah yang menciptakan kredibilitas – nilai inti yang tak tergantikan oleh platform media lainnya.

Bagi pers revolusioner Vietnam, tanggung jawab ini bahkan lebih signifikan. Sejak awal, pers revolusioner tidak hanya mencerminkan realitas tetapi juga melayani kepentingan nasional, melayani rakyat, dan mendampingi perjuangan revolusioner.
Dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari pencegahan dan pengendalian penyakit serta penanggulangan bencana hingga pemberantasan korupsi dan praktik negatif, pers telah memainkan peran penting dalam mengklarifikasi kebenaran, menciptakan konsensus sosial, dan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan dan keputusan utama Partai dan Negara.
Bukan suatu kebetulan bahwa setiap kali informasi yang bertentangan atau menyesatkan muncul secara daring, publik tetap beralih ke media berita arus utama untuk verifikasi.
Kepercayaan itulah yang menjadi ukuran nilai jurnalisme.
Menjaga kebenaran berarti menjaga keyakinan.
Di era digital, yang menjadi sasaran kekuatan subversif seringkali bukanlah informasi spesifik, melainkan keyakinan masyarakat.
Oleh karena itu, membela kebenaran bukan hanya tentang membantah berita palsu atau mengoreksi informasi yang salah. Lebih dari itu, ini tentang melindungi fondasi spiritual bangsa.
Informasi yang salah dapat dikoreksi. Tetapi kepercayaan yang telah rusak seringkali membutuhkan waktu lama untuk dipulihkan.

Ini juga merupakan perbedaan mendasar dari jurnalisme revolusioner. Jurnalisme tidak hanya mencerminkan apa yang terjadi tetapi juga berkontribusi untuk melindungi nilai-nilai yang membentuk kekuatan bangsa: persatuan, konsensus sosial, kepercayaan pada keadilan, pada hukum, dan pada masa depan bangsa.
Dari surat kabar revolusioner pertama yang menyemangati perjuangan kemerdekaan hingga karya jurnalistik masa kini yang menyebarkan aspirasi akan bangsa yang kuat dan makmur, tujuan utamanya tetaplah untuk menumbuhkan iman dan membangkitkan kekuatan spiritual bangsa.
Dari perspektif itu, jurnalisme bukan hanya lembaga komunikasi, tetapi juga lembaga yang membangun kepercayaan.
Tak tergantikan di era AI
Kecerdasan buatan (AI) mengantarkan era baru pengembangan media. AI dapat menulis berita, mensintesis data, membuat gambar, dan menghasilkan konten dengan kecepatan yang jauh melebihi kemampuan manusia.
Namun seiring kemajuan teknologi, satu kebenaran menjadi semakin jelas: AI dapat menciptakan konten, tetapi AI tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas konten tersebut.
Yang membedakan seorang jurnalis dari sebuah algoritma bukanlah kemampuan menulis mereka, melainkan tanggung jawab mereka terhadap kebenaran, terhadap bangsa, dan terhadap rakyat.

Sebuah program perangkat lunak tidak memiliki cita-cita untuk melayani. Sebuah algoritma tidak memiliki hati nurani untuk mempertimbangkan dampak sosial dari informasi. Nilai-nilai tersebut dimiliki oleh manusia dan jurnalis.
Oleh karena itu, semakin maju teknologi yang digunakan pers, semakin teguh prinsip-prinsipnya; semakin banyak informasi yang tersedia, semakin ketat verifikasinya; semakin inovatif pers, semakin setia pula ia terhadap kebenaran.
Itulah landasan yang menjadi dasar bagi jurnalisme revolusioner untuk terus memainkan peran utama, membimbing, dan membangun kepercayaan dalam masyarakat.
Menyimpulkan
Setelah mendampingi bangsa selama 101 tahun, pers revolusioner Vietnam telah berulang kali mengubah metode jurnalistiknya, tetapi tidak pernah mengubah misinya untuk melayani Tanah Air dan Rakyat.
Di dunia saat ini, di mana informasi semakin melimpah tetapi kepercayaan menjadi semakin berharga, nilai terbesar jurnalisme terletak bukan pada penyampaian berita tercepat, tetapi pada kemampuannya untuk membantu masyarakat mengidentifikasi kebenaran dan memperkuat kepercayaan.
Pada akhirnya, kekuatan abadi suatu bangsa tidak hanya dibangun di atas sumber daya ekonomi atau teknologi, tetapi juga di atas kepercayaan rakyatnya. Melestarikan kepercayaan itu adalah misi yang mendalam dan mulia dari Pers Revolusioner Vietnam pada abad kedua, yang menyertai bangsa ini.
Sumber: https://cand.vn/giu-niem-tin-post814427.html









