Suatu hari di awal musim dingin, kami mengunjungi rumah Bapak Luong Trung Lap. Masih seenergik seperti biasanya, dengan senyum ramah, beliau mengajak kami ke kebun buah naganya, dengan antusias menceritakan kisah-kisah tentang tanaman yang dianggapnya sebagai "hubungan" istimewa dalam hidupnya.
Melihat hamparan kebun buah naga berdaging ungu yang luas saat ini, sedikit orang yang akan membayangkan bahwa lebih dari 10 tahun yang lalu, tempat ini hanyalah sawah yang tidak produktif. Pada tahun 2014, ketika buah naga berdaging ungu masih asing di wilayah tersebut, berkat riset melalui televisi dan buku, Bapak Lap mencetuskan ide untuk membawa tanaman baru ini ke kampung halamannya.

“Saat itu, saya takut – takut kehilangan seluruh modal jika tidak berhasil. Tapi saya berpikir, jika saya tidak mencoba, saya tidak akan pernah tahu apakah lahan ini cocok untuk saya,” kata Bapak Lap sambil tersenyum. Berpikir adalah bertindak, jadi dengan berani ia meminjam 200 juta VND, ditambah modal keluarganya, dan memutuskan untuk mengubah lahan sawah seluas 4.000 m² menjadi lahan budidaya buah naga.
Pada awal pembangunan pilar beton dan penanaman bibit, banyak orang menyebutnya gegabah. Namun, ia percaya pada ketekunannya sendiri.
Sampai saat ini, Bapak Lap merawat 3.000 pohon buah naga berdaging ungu di atas 600 pilar beton. Menurutnya, jenis buah naga ini hanya perlu ditanam sekali tetapi dapat dipanen selama 20-25 tahun, menghasilkan lebih dari 20 kali panen per tahun. Dengan harga jual sekitar 20-30 ribu VND/kg tergantung pada waktu panen, pendapatan tahunan rata-rata mencapai lebih dari 100 juta VND.

Buah naga berdaging ungu harum, sangat manis, dan mudah dijual, sehingga menarik para pedagang yang datang langsung ke kebun. Selama bertahun-tahun, kebun buah naga milik Bapak Lap telah menjadi tujuan bagi banyak keluarga di dalam dan luar provinsi untuk berkunjung dan belajar dari pengalamannya.
"Kami harus memupuk setiap tahun, dan setelah setiap panen, kami langsung mulai merawat tanaman. Pohon buah naga mudah ditanam, tetapi jika tidak dirawat secara teratur, pertumbuhannya akan terhambat, buahnya akan kecil, dan kualitasnya akan buruk," kata Bapak Lap, tangannya dengan cekatan memangkas cabang-cabang tua yang layu.
Selain menanam buah naga, ia memanfaatkan lahan yang tersisa untuk menggali kolam budidaya ikan, memelihara ayam kampung, dan memelihara lebah untuk madu guna menambah penghasilannya. Bapak Lap mengaku: "Ketika saya masih sehat, saya juga memelihara landak, merpati Prancis, babi... Saya mencoba semuanya. Sekarang saya sudah tua, saya tidak bisa melakukan banyak hal lagi, tetapi saya tetap harus berusaha mempertahankan model pertanian buah naga, baik untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya maupun untuk menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat setempat!"

Bapak Lap tidak hanya terkenal karena kecerdasan bisnisnya, tetapi juga dikenal sebagai tokoh yang dihormati di komunitas Thai di Sang Dom, di mana lebih dari 80% penduduknya adalah orang Thai. Dalam pertemuan-pertemuan, beliau secara konsisten mempromosikan pedoman Partai dan kebijakan Negara di antara masyarakat. Dalam gerakan Pembangunan Pedesaan Baru, beliau tidak hanya memobilisasi masyarakat untuk menyumbangkan tanah untuk jalan, tetapi juga memimpin dalam memberikan kontribusi finansial, membangun kepercayaan, dan menginspirasi orang lain untuk mengikuti teladannya. Oleh karena itu, bagi Bapak Lap: "Jika Anda ingin orang-orang mendengarkan, Anda harus memimpin dengan memberi contoh."
Sebagai tokoh yang dihormati di kalangan komunitas etnis minoritas, ia selalu hadir dalam pertemuan, sesi mediasi, dan urusan komunitas. Pada saat yang sama, ia sangat peduli dengan pelestarian identitas budaya etnis. Berkat pengetahuannya tentang budaya Thailand, ia memberikan saran dan kontribusi pada festival lokal dan program budaya untuk melestarikan tradisi. Ia juga secara aktif mendorong sesama penduduk desa untuk mengadopsi gaya hidup yang beradab dan membangun kehidupan yang lebih makmur dan memuaskan.
Pak Lap berbagi: "Untuk menjadi orang yang dihormati, seseorang harus terlebih dahulu memiliki kedamaian di rumahnya sendiri. Anak-anak harus harmonis dan hidup tertib agar warga desa mempercayai mereka." Saat ini, semua anaknya memiliki pekerjaan yang stabil. Keluarganya telah dianugerahi gelar "Keluarga Budaya Teladan" selama bertahun-tahun berturut-turut. Beliau sendiri juga terus menerima pujian dari berbagai tingkatan atas prestasinya yang luar biasa dalam gerakan teladan patriotik.
Dalam kisahnya, Bapak Lap tidak pernah mengklaim telah melakukan sesuatu yang hebat. Baginya, itu semua hanyalah hal-hal kecil; jika ia bisa membantu penduduk desa, ia akan membantu, jika ia bisa berkontribusi kepada masyarakat, ia akan dengan senang hati melakukannya. Namun, bagi masyarakat Sang Dom, kesederhanaan dan dedikasi itulah yang menjadikannya sumber dukungan moral yang kuat bagi masyarakat.
Sumber: https://baolaocai.vn/guong-sang-o-sang-dom-post887157.html






Komentar (0)