Model ini dengan cepat menjadi tolok ukur internasional, diadopsi oleh Uni Eropa, OECD, dan banyak negara di seluruh dunia dalam program reformasi administrasi dan penyederhanaan birokrasi.
Kemunculan SCM
SCM dikembangkan di Belanda pada akhir tahun 1990-an di tengah keluhan terus-menerus dari komunitas bisnis tentang meningkatnya beban administratif. Menurut dokumen OECD, pemerintah Belanda menyadari bahwa badan pengatur sering mengeluarkan peraturan baru tanpa menilai secara memadai biaya kepatuhan bagi bisnis. Hal ini mengakibatkan bisnis menghabiskan waktu dan sumber daya yang berlebihan untuk pelaporan, pengarsipan, penyimpanan data, dan pemenuhan kewajiban administratif, alih-alih fokus pada operasi bisnis inti mereka.

Menurut scm-network.eu, tujuan utama SCM adalah untuk menggeser reformasi administrasi dari pendekatan emosional ke model tata kelola kuantitatif yang berbasis data. Model ini mengukur biaya administrasi yang timbul dari kewajiban informasi yang diwajibkan secara hukum. Biaya ini mencakup waktu yang dihabiskan untuk menyiapkan laporan, mengisi formulir, memelihara catatan, menyediakan data kepada lembaga pemerintah, atau menyewa konsultan untuk memastikan kepatuhan.
Dengan metode SCM, biaya administrasi dikuantifikasi menggunakan rumus standar, di mana total biaya ditentukan dengan mengalikan waktu yang dihabiskan untuk melakukan tugas dengan gaji personel yang melakukannya, kemudian mengalikan hasilnya dengan jumlah kali tugas tersebut dilakukan dan jumlah pihak yang terpengaruh. Aspek penting dari model ini adalah kemampuannya untuk "mengkuantifikasi" biaya yang sebelumnya dianggap tidak berwujud dalam administrasi publik. Biaya-biaya ini, terutama dalam proses kepatuhan terhadap prosedur administrasi, seringkali sulit untuk sepenuhnya tercermin menggunakan metode pengukuran tradisional. Pemerintah Belanda menganggap ini sebagai langkah signifikan dalam reformasi kebijakan, membantu para pembuat kebijakan untuk lebih memahami dampak ekonomi aktual dari peraturan hukum, sehingga meningkatkan transparansi dan efisiensi dalam pembuatan kebijakan.
Salah satu ciri khas SCM adalah kesederhanaan dan penerapannya yang luas. Menurut OECD, Belanda merancang model ini agar mudah digunakan sehingga semua kementerian dan departemen dapat menerapkannya dalam proses pembuatan kebijakan. Pemerintah Belanda juga mewajibkan lembaga-lembaga untuk menilai biaya administrasi sebelum mengeluarkan peraturan baru. Hal ini menciptakan mekanisme kontrol internal untuk membatasi "inflasi prosedural".
Unsur penting lainnya dalam model Belanda adalah pembentukan badan pengawas independen untuk mengendalikan beban administratif. Di Belanda, Dewan Penasihat Beban Regulasi (ATR) berperan dalam meninjau dampak rancangan undang-undang baru terhadap bisnis dan warga negara. Menurut ATR, setiap rancangan peraturan penting harus secara jelas menilai biaya kepatuhan dan potensi pengurangan beban administratif.
2026: Tata Kelola Cerdas
Memasuki tahun 2026, Belanda terus memperluas filosofi SMC ke bidang-bidang baru seperti data digital, kecerdasan buatan, dan tata kelola publik berbasis data. Pemerintah Belanda kini tidak hanya mengukur biaya administrasi tradisional, tetapi juga menilai "tekanan regulasi" di lingkungan digital dan ekonomi platform.
Di bawah program "Werk aan Uitvoering" (Membuatnya Lebih Baik) yang diluncurkan oleh pemerintah Belanda, negara tersebut sedang melakukan reformasi komprehensif terhadap hubungan antara pembuatan kebijakan dan penegakan hukum. Pemerintah Belanda percaya bahwa selama bertahun-tahun, sistem hukum telah menjadi terlalu kompleks, sehingga menyulitkan bahkan lembaga penegak hukum untuk beroperasi secara efektif. Program baru ini menekankan perancangan kebijakan yang lebih sederhana dan lebih layak serta pengurangan beban administratif sejak tahap legislatif. Pemberian layanan harus memenuhi harapan dan kebutuhan warga dan bisnis, sekaligus bersifat manusiawi, fleksibel, dan mudah beradaptasi dengan masa depan.
Tren baru lainnya dalam reformasi administrasi Belanda adalah penggunaan data waktu nyata untuk menilai dampak peraturan. Menurut laporan Strategi Digital Belanda 2026 yang diperbarui, pemerintah sedang mengembangkan sistem analitik data untuk memantau secara langsung dampak peraturan terhadap bisnis dan warga negara. Government.nl melaporkan bahwa hal ini memungkinkan pemerintah untuk beralih dari model penilaian periodik ke model pemantauan peraturan berkelanjutan.
Di bidang digitalisasi layanan publik, Belanda juga gencar mempromosikan program "NL DIGIbeter", yaitu Strategi Pemerintah Digital Nasional. Tujuan program ini adalah membangun layanan publik yang "sederhana, mudah diakses, dan berpusat pada manusia". Belanda menekankan bahwa warga negara tidak perlu memahami struktur administrasi untuk menggunakan layanan publik. Sistem digital harus diorganisasikan sesuai dengan kebutuhan aktual pengguna, bukan sesuai dengan struktur lembaga pemerintah.
Pada tahun 2026, Belanda juga akan mempercepat penerapan kecerdasan buatan (AI) di sektor publik. Menurut Kementerian Dalam Negeri, AI akan digunakan untuk mendukung pemrosesan dokumen, analisis data, dan otomatisasi banyak proses administratif untuk mengurangi waktu pemrosesan bagi warga dan bisnis. Namun, semua aplikasi AI di sektor publik harus benar-benar mematuhi prinsip-prinsip transparansi, anti-diskriminasi, dan perlindungan privasi.
Reformasi baru di Belanda juga mencerminkan pergeseran dari "pengurangan prosedur" ke "desain sistem tata kelola adaptif." Banyak pakar Belanda percaya bahwa dalam ekonomi digital, masalahnya bukan lagi hanya jumlah prosedur, tetapi kompleksitas seluruh sistem hukum dan kemampuan warga negara untuk berinteraksi dengan pemerintah. Oleh karena itu, pemikiran di balik SCM (Sustainable Management Process) kini meluas dari mengukur biaya administrasi menjadi mengevaluasi seluruh perjalanan dan pengalaman warga negara dan bisnis ketika berinteraksi dengan sistem administrasi.
Sumber: https://daibieunhandan.vn/ha-lan-va-cuoc-cach-mang-do-luong-chi-phi-thu-tuc-hanh-chinh-10417995.html








Komentar (0)