Saat musim panas tiba, sinar matahari memandikan setiap kelopak bunga dengan warna keemasan, melukis langit dengan warna merah cerah yang penuh kerinduan. Oh, pohon flamboyan, mengapa kau bersinar begitu terang di tengah musim perpisahan ini, mengukir di hati para siswa yang akan lulus rasa duka yang tak henti-hentinya? Bulan itu bukan hanya momen transisi antar musim, tetapi juga suara yang menandai berakhirnya perjalanan sekolah yang penuh dengan kenangan tak terlupakan.
Sekolahku tercinta, tempat tak terhitung banyaknya kenakalan dan kebodohan yang terjadi. Guru-guruku yang kuhormati, suara hangat mereka masih terngiang di telingaku. Dan teman-teman dekatku, wajah-wajah berseri mereka kini tersebar di seluruh dunia. Semua itu, seperti gulungan film lama, diputar ulang dengan jelas dan menyakitkan, kembali menyerbu, menghantui pikiranku. Meskipun banyak musim mekarnya pohon-pohon flamboyan telah berlalu, gema yang manis dan mendalam itu masih tetap ada, membangkitkan kerinduan yang tak kunjung reda di hatiku.
Aku ingat, oh musim panas, aku ingat dengan rasa rindu yang mendalam akan sore-sore bulan Mei yang terik itu. Panasnya menyengat, namun kami semua bersembunyi dari tidur siang kami, meringkuk di bawah cabang-cabang pohon api tua yang berbelit-belit. Suara jangkrik yang tak henti-hentinya seolah sengaja meninabobokan kami ke dalam tidur nyenyak, tetapi bagaimana mereka bisa meredam kenakalan dan hasrat membara untuk menjelajah dari anak-anak berusia tujuh belas tahun itu, yang siap mematahkan tanduk kerbau mana pun?
Kami berbagi tegukan air dingin, es krim manis, mencoret-coret mimpi-mimpi muluk dan rencana-rencana yang muluk, seolah-olah kami memegang seluruh masa depan di tangan kami. Kelopak merah pohon flamboyan jatuh perlahan di buku catatan kami, tanpa sengaja membubuhkan tulisan tangan yang terburu-buru dan janji-janji naif tentang hari esok ketika kami akan menaklukkan puncak bersama.
Pada musim panas itu, pohon yang mencolok itu bukan hanya sekadar bunga, tetapi saksi sebuah persahabatan yang murni, polos, dan tanpa pamrih, tanpa motif tersembunyi, hanya dipenuhi dengan tawa yang menular dan jabat tangan yang erat.
Kemudian musim panas tahun terakhir pun tiba. Kelas-kelas terakhir dipenuhi emosi yang sulit diungkapkan. Suara para guru tercekat karena emosi, gemetar saat menyampaikan kata-kata yang tulus, mata mereka bersinar penuh harapan dan nostalgia.
Kami, anak-anak yang dulunya nakal, tiba-tiba terdiam, setiap tatapan seolah ingin mengukir setiap momen. Pelukan erat yang mencekik, perpisahan yang tertahan, air mata panas mengalir di pipi kami.
Pada musim panas itu, bunga-bunga merah pohon flamboyan menyala seperti api, membangkitkan penyesalan dan perasaan mendalam terhadap sekolah, para guru, dan teman-teman. Warna merah itu kini diwarnai dengan kesedihan yang masih membekas.
Waktu terus berlalu tanpa henti. Setiap musim panas membawa tonggak kedewasaan baru, tetapi juga memperdalam perasaan nostalgia yang luar biasa.
Kita semua berada di tempat yang berbeda, sibuk dengan kekhawatiran hidup. Tetapi di mana pun kita berada, hanya sekilas warna merah cerah dari bunga pohon flamboyan memenuhi hatiku dengan kerinduan yang mendalam dan mengharukan akan wajah-wajah yang familiar di masa lalu.
Aku ingat jalan-jalan yang biasa kita lalui bersama ke sekolah, malam-malam larut yang kita habiskan untuk menyelesaikan soal matematika yang sulit, momen-momen manis dan pahit yang kita bagi selama masa sekolah kita yang polos. Musim panas, tak peduli berapa banyak musim bunga flamboyan merah telah berlalu sejak terakhir kali kita bertemu, benang persahabatan kita yang tak terlihat masih diam-diam menghubungkan kita, meskipun terkadang hanya berupa pesan singkat atau panggilan telepon yang cepat.
Dan bagaimana mungkin aku melupakan sosok para guru yang berdedikasi itu, yang seperti orang tua kedua bagiku? Di bawah naungan pepohonan yang rindang, mereka memelihara dan memberi sayap pada mimpi-mimpi muda kami, membiarkannya terbang tinggi dan jauh.
Ceramah mereka bukan hanya berisi pengetahuan akademis yang kering, tetapi juga bimbingan yang tulus, dan tatapan mata yang penuh kasih sayang dan belas kasihan. Mereka tidak hanya memberikan pendidikan, tetapi juga membentuk karakter moral.
Setiap kelopak bunga phoenix merah yang gugur bagaikan penghormatan yang sunyi, ungkapan rasa terima kasih yang mendalam kepada para pahlawan tanpa tanda jasa yang telah membimbing generasi siswa menyeberangi sungai kehidupan. Oh, musim panas, setelah sekian banyak musim bunga phoenix merah tanpa kita, apakah guru-guru kita masih mengingat murid-murid nakal yang mungkin telah menyebabkan mereka banyak masalah?
Ada musim panas ketika saya kembali, mencoba untuk berpegang teguh pada gema masa lalu yang masih tersisa. Pohon-pohon flamboyan masih berdiri tegak, jangkrik masih berkicau dengan familiar, tetapi halaman sekolah terasa sunyi mencekam, tanpa tawa dan candaan riang dari era yang telah berlalu.
Bertemu kembali dengan mantan guru-guru saya, rambut mereka tampak lebih putih, tetapi mata mereka masih bersinar dengan kehangatan dan kasih sayang yang sama. Jabat tangan yang erat dan kata-kata baik menenangkan kerinduan saya, membuat saya semakin merasakan kesucian hubungan guru-murid, ikatan yang tidak akan pernah pudar meskipun waktu berlalu dengan keras.
Musim panas, berapa banyak musim bunga flamboyan merah telah berlalu sejak kita berpisah? Apakah masih ada yang mengingatnya? Meskipun masing-masing dari kita memiliki kehidupan sendiri, dengan kekhawatiran dan permasalahannya sendiri, kenangan akan hubungan guru-murid yang indah dan persahabatan murni di bawah atap sekolah lama akan selalu menjadi harta berharga yang akan menemani saya sepanjang hidup.
Warna merah menyala dari pohon flamboyan setiap musim panas tetap menjadi benang tak terlihat yang menghubungkan masa lalu dan masa kini, mengingatkan setiap orang akan perasaan tulus dan nilai-nilai spiritual yang abadi.
Musim panas ini, pepohonan flamboyan masih bersinar merah di sebagian langit. Aku berdiri di sini, di tengah hiruk pikuk kehidupan, hatiku dipenuhi rasa syukur yang mendalam. Terima kasih, musim panas, terima kasih kepada para guru dan teman-teman yang telah membantuku menciptakan kenangan indah, jejak tak terlupakan dari masa sekolahku.
Tak peduli berapa musim lagi pohon-pohon flamboyan yang mekar akan memisahkan kita, persahabatan kita dan ikatan antara guru dan murid akan selamanya tetap menjadi nilai-nilai spiritual yang tak ternilai, aset berharga yang akan menemani saya sepanjang perjalanan panjang saya ke depan.
Mai Thao
Sumber: https://baotayninh.vn/ha-oi-co-nho-a191308.html






Komentar (0)