(Surat Kabar Quang Ngai) - Myanmar memiliki banyak ciri budaya unik yang menarik wisatawan dari seluruh dunia , termasuk seni tata rias menggunakan bedak Thanakha.
![]() |
| Ibu dan anak perempuannya pergi ke kuil dengan membawa seikat bunga magnolia dan wajah mereka dihiasi dengan bubuk Thanakha. |
Myanmar, yang terletak di Asia Tenggara, memiliki populasi yang lebih dari 90% beragama Buddha. Hampir setiap kota, kota kecil, dan desa di negara ini memiliki setidaknya satu kuil atau biara Buddha. Myanmar adalah negara multietnis dengan lebih dari 100 kelompok etnis yang berbeda, dengan Bamar sebagai mayoritas. Meskipun kelompok-kelompok etnis ini tinggal di banyak negara bagian yang berbeda dan memiliki adat istiadat dan tradisi yang beragam, mereka memiliki kesamaan dalam praktik penggunaan bubuk Thanakha untuk mempercantik diri, melindungi tubuh, dan menciptakan penampilan yang unik. Masyarakat Myanmar menghabiskan banyak waktu mengunjungi kuil-kuil. Saat menghadiri upacara-upacara ini, baik pria maupun wanita mengenakan longyi (rok) tradisional dan wajah mereka "dirias" dengan bubuk Thanakha.
![]() |
| Myanmar memiliki banyak kuil dan pagoda. |
Selain warisan budaya dan tradisi Buddha yang kaya, Myanmar juga memiliki banyak ciri unik seperti orang-orang berleher panjang, orang-orang yang bertato di wajah, dan tradisi menggunakan bedak Thanakha untuk riasan. Menurut teks kuno, praktik riasan di Myanmar dimulai lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Hal ini dibuktikan oleh lagu-lagu, puisi, syair kuno, dan artefak yang berkaitan dengan kebiasaan riasan unik ini. Banyak artefak yang digunakan orang di masa lalu untuk keperluan riasan dapat ditemukan, terutama batu penggiling Thanakha milik Putri Datukalayar, putri Raja Bayinnaung (abad ke-15). Artefak ini dianggap sebagai harta karun dan dilestarikan serta dipamerkan di Museum Pagoda Shwe Maw Daw di Bago. Ini adalah bukti nyata tradisi riasan Thanakha selama berabad-abad, baik di istana kerajaan maupun dalam kehidupan rakyat Myanmar. Hingga saat ini, wanita di Myanmar masih menyukai Thanakha, seni riasan tradisional yang unik. Krim ini juga sering digunakan pada bayi baru lahir untuk melindungi kulit mereka yang lembut.
![]() |
| Thanakha dan batu penggiling dijual di Myanmar. |
Ini bukan sekadar seni tata rias sederhana, tetapi juga esensi warisan dari negeri "kuil emas dan menara putih". Untuk mendapatkan bubuk Thanakha, kulit kayu digiling di atas lempengan batu yang halus dan rata, dan beberapa tetes air ditambahkan sebelum digiling. Setelah digiling, pasta dapat dioleskan ke tubuh dengan jari. Bubuk Thanakha juga diolah menjadi krim siap pakai dalam wadah plastik dengan label yang menarik untuk memudahkan penggunaan. Thanakha dapat dioleskan tidak hanya ke wajah tetapi juga ke tubuh, lengan, dan kaki. Dengan cuaca panas sepanjang tahun, masyarakat Myanmar menggunakan bubuk Thanakha sebagai tabir surya. Pasta Thanakha mengencangkan pori-pori, mengontrol produksi minyak, dan mencegah kerutan akibat sengatan matahari. Itulah mengapa wanita mengoleskan lapisan tebal Thanakha ke wajah mereka saat bekerja di ladang.
![]() |
| Anak-anak dihiasi dengan bubuk Thanakha. |
Thanakha adalah tanaman asli yang mewujudkan "semangat dan esensi nasional" Myanmar. Citra paling mencolok dari negara ini bagi wisatawan dapat ditemukan di mana-mana, dari pedesaan hingga kota: rok longyi tradisional, bibir merah yang diolesi sirih, dan terutama wajah yang diolesi Thanakha, menciptakan penampilan yang familiar namun unik bagi masyarakatnya.
Teks dan foto: TAN VINH
BERITA DAN ARTIKEL TERKAIT:
Sumber










