
Budaya lokal dilestarikan di museum hidup di desa wisata Samsara di Karangasem, Bali - Foto: TRAN PHUONG
Tak satu pun dari mereka bisa menulis dengan lancar. Tulisan tangan mereka canggung dan lambat. Tapi itu tampaknya tidak masalah, karena apa yang tertulis dalam ingatan mereka akan sulit dilupakan. Momen itu mungkin dengan jelas menunjukkan arah baru bagi pariwisata Bali. Apa yang Bali ingin dibawa pulang oleh wisatawan bukanlah foto yang indah, melainkan sebuah cerita.
Pengalaman "penjualan"
Gambaran seorang pengrajin yang dengan sabar membimbing wisatawan mengukir setiap huruf pada daun lontar, seorang petani yang bercerita tentang kebunnya, atau kaum muda yang berupaya melestarikan tarian tradisional dalam kehidupan modern—inilah kisah-kisah yang ingin Bali sampaikan kepada dunia : pariwisata bukan hanya tentang membawa wisatawan ke suatu tempat, tetapi tentang membantu mereka memahami mengapa tempat itu layak dilestarikan.
Menurut Bapak I Putu Winastra, Presiden Asosiasi Agen Perjalanan dan Perusahaan Pariwisata Indonesia (ASITA) cabang Bali dan Ketua Panitia Penyelenggara Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026, semakin banyak wisatawan yang tidak lagi memilih destinasi hanya berdasarkan pemandangan atau hotel. Sebaliknya, mereka mencari pengalaman yang membantu mereka lebih memahami tempat yang akan mereka kunjungi.
"Sebagai contoh, mari kita lihat desa-desa wisata. Kita memiliki ratusan desa wisata di Bali, dan mereka menawarkan akomodasi homestay. Jadi, ketika Anda tinggal bersama keluarga di desa dan hidup berdampingan dengan mereka, pengalaman menginap di hotel tidak dapat dibandingkan dengan pengalaman homestay," jelasnya.
Hal ini terlihat jelas di hampir setiap destinasi di Bali bagian timur, jauh dari hiruk pikuk pantai di selatan, mulai dari Pura Besakih – pura tersuci di Bali, desa Sibetan yang terkenal dengan pohon salak (bakau), Museum Lontar Dukuh Penaban, Istana Air Tirta Gangga, desa wisata Samsara, dan banyak model berbasis komunitas lainnya.
Santapan bukan sekadar makanan. Para pelayan meluangkan waktu untuk menjelaskan asal-usul hidangan dan bahan-bahan lokalnya. Tarian tradisional mengungkapkan aspek-aspek kehidupan budaya masyarakat. Di tempat-tempat ini, budaya tidak hanya ditampilkan sebagai artefak, tetapi hidup dan berkembang, seperti di Museum Hidup Samsara di Karangasem, Bali bagian timur.
Banyak detail kecil juga meninggalkan kesan. Sejumlah hotel dan resor menggunakan sumber air alami untuk kolam renang mereka alih-alih membangun sistem yang boros energi. Banyak bangunan dirancang rendah, menyatu dengan pepohonan hijau daripada mencoba mendominasi lanskap.
Selain itu, sampah dipilah. Beberapa daerah bahkan mendorong daur ulang sampah menjadi produk suvenir untuk melindungi lingkungan dan menghasilkan pendapatan tambahan. Produk lokal lebih disukai daripada barang impor.
Masa depan Bali terletak pada komunitasnya.
Bagi masyarakat Bali, hal ini juga merupakan bagian dari filosofi pembangunan mereka. Dalam pertemuan dengan pelaku bisnis lokal, satu pesan diulang berkali-kali: alam bukanlah sumber daya yang harus dieksploitasi sepenuhnya, melainkan aset yang harus dilestarikan.
Seorang pelaku bisnis pariwisata setempat mengatakan bahwa desa-desa wisata secara rutin dievaluasi berdasarkan kebersihan lingkungan, kemampuan pengelolaan sampah, dan kepuasan pengunjung. "Kami tidak hanya menginginkan lebih banyak wisatawan. Kami ingin masyarakat tetap merasa nyaman tinggal di sini," kata Winastra.
Salah satu aspek yang paling mencolok dari perjalanan ini adalah peran komunitas lokal. Di banyak destinasi, orang-orang tidak hanya menjual produk atau menyediakan layanan, tetapi mereka juga merupakan bagian integral dari pengalaman tersebut. Alih-alih berada di luar rantai nilai pariwisata, komunitas menjadi figur sentral.
Menurut Winastra, pola pikir ini juga hadir dalam konsep "pariwisata berkualitas" yang diupayakan Bali. Ia percaya bahwa pariwisata berkualitas bukan berarti mencari wisatawan dengan pengeluaran tertinggi. Melainkan, berarti wisatawan yang menghormati budaya lokal, menghormati masyarakat, dan berkontribusi dalam melestarikan alam.
Setelah perjalanan tersebut, Ibu Nguyen Thi Ngoc Bich, Direktur Wilayah Selatan Hera Cruises dan perwakilan Asosiasi Pariwisata Kota Ho Chi Minh, mencatat bahwa aspek yang paling luar biasa adalah bagaimana Indonesia memanfaatkan kedalaman budayanya dan mengubah nilai-nilai tradisional menjadi pengalaman wisata yang benar-benar memikat.
“Wisatawan mungkin lupa nama pantai atau kuil, tetapi mereka akan mengingat perasaan menyelami budaya lokal, disambut dengan ketulusan orang-orang, atau berpartisipasi dalam kegiatan yang khas Indonesia,” kata Ibu Bich, menambahkan bahwa pengalaman-pengalaman ini akan sangat bermanfaat untuk mengembangkan produk pariwisata di Vietnam. Menurutnya, ini adalah arah yang sangat tepat dengan potensi besar untuk pasar domestik.
Ibu Nguyen Thi Tra Mi, CEO Perusahaan Perjalanan Thien Nien Ky, juga mengamati tren serupa. "Wisatawan Vietnam semakin mencari perjalanan yang menawarkan kedalaman, memberikan nilai pengalaman dan spiritual, daripada sekadar jalan-jalan atau check-in. Oleh karena itu, produk pariwisata yang berfokus pada pengalaman, pembelajaran, pertukaran budaya, dan koneksi komunitas akan memiliki potensi pengembangan yang lebih besar," jelas Ibu Mi.
Potensi kerja sama dengan Vietnam sangat besar.
Menurut banyak pelaku bisnis Vietnam yang berpartisipasi dalam BBTF 2026, pelajaran berharga terletak bukan pada menciptakan produk pariwisata baru, tetapi pada menceritakan kisah nilai-nilai yang sudah ada. "Pariwisata berkualitas adalah jalan menuju pembangunan pariwisata berkelanjutan," ujar Ibu Do Truc Quyen, Direktur Jenderal Perusahaan Windy.
Ibu Quyen menyatakan bahwa pergeseran Bali dari pariwisata massal ke pariwisata berkualitas sangat sesuai dengan tren saat ini di kalangan wisatawan Vietnam, terutama keluarga, pelancong independen, atau mereka yang mencari perjalanan yang sangat personal.
Banyak bisnis Indonesia juga menunjukkan minat yang semakin besar terhadap pasar Vietnam, khususnya dalam program pertukaran wisata dua arah, wisata budaya, dan wisata pengalaman. Dengan kedekatan geografis, rute penerbangan yang nyaman, dan banyak kesamaan budaya, potensi kerja sama antara kedua negara tetap signifikan.
Sumber: https://tuoitre.vn/hanh-trinh-di-tim-bali-phia-sau-bali-20260613233228276.htm








