Malam Gelap - Awal Mukjizat yang Tertunda
Setiap orang dilahirkan dengan takdir. Bagi Le Thi Tham, takdir itu bagaikan malam gelap tanpa satu bintang pun. Rumah kecil di Thanh Hoa dipenuhi kesedihan ketika ia lahir tanpa lengan, dengan berat badan lebih dari 1 kg dan menderita serangkaian penyakit: skoliosis, obstruksi usus, dan taji pinggul. Sebuah awal yang penuh air mata dan kekhawatiran, tampaknya ditakdirkan untuk hidup yang penuh penerimaan dan ketergantungan.
Bagi banyak orang, itu mungkin akhir, sebuah hukuman takdir yang kejam. Namun bagi Tham dan keluarganya, itu adalah awal dari sebuah perjalanan yang luar biasa, di mana setiap langkah maju adalah perjuangan, dan setiap upaya adalah titik balik yang gemilang.
Dan dalam perjalanan keluar dari malam yang gelap itu, Tham tidak sendirian, ia masih memiliki keluarganya—ayah dan ibunya—di sisinya untuk menghiburnya. Meskipun keadaan sulit, mereka merangkul, melindungi, dan mempercayainya. Penerimaan, cinta, dan kepercayaan penuh itulah yang menjadi sinar pertama, menembus kegelapan, memelihara api kecil di hati Tham. Kegelapan mungkin datang, tetapi fajar pasti akan segera menyingsing...
Saat masih menjadi pelajar, Tham menunjukkan rasa belas kasih dan keinginannya untuk berkontribusi dengan membuka kelas bahasa Inggris gratis untuk anak-anak di lingkungannya.
FOTO: DISEDIAKAN OLEH PENULIS
Api - keinginan yang membara di dalam hati, hasrat yang kuat
Kesulitan segera menghampiri Tham ketika ia mulai bersekolah. Ketiadaan lengan dan tubuh yang rentan penyakit membuatnya menghadapi banyak masalah dalam hidup. Masa kecil Tham di sekolah bisa dibilang merupakan serangkaian hari-hari penuh perjuangan dengan pena. Ia memegang pena di antara jari-jari kaki kirinya, tekun berlatih menulis. Jari-jari kakinya yang masih muda melepuh dan nyeri, tetapi api hasrat belajar dalam diri Tham tak pernah padam. Bayangan seorang gadis kecil berbaring tengkurap, tekun menulis setiap goresan dengan kakinya, terukir kuat di benak mereka yang telah mengenal tekad luar biasa gadis itu.
Di usia 6 tahun, ketika teman-temannya masih bermain dan menikmati masa kecil mereka, Tham berhasil masuk sekolah desa dengan percaya diri. Ia bisa menulis dengan lancar, membaca alfabet, dan angka. Itu bukan keajaiban, melainkan hasil kerja keras yang tak henti-hentinya. Setiap usaha yang dilakukan Tham sungguh menjadi sebuah kemenangan, memberinya kekuatan untuk menghadapi nasib buruknya.
Selama 12 tahun di SMA, Tham selalu menjadi siswa yang berprestasi, selalu menjadi yang terbaik di kelasnya. Meskipun kesulitan mencatat dan mengikuti kegiatan fisik, ia tetap berusaha berkali-kali lipat lebih keras daripada teman-temannya agar tidak tertinggal. Setiap halaman buku, setiap pelajaran dipelajari Tham dengan sepenuh hati dan usaha yang luar biasa. Keinginan untuk berdiri di podium, mewariskan ilmu dan impian kepada generasi-generasi siswa, pun berkobar dan tumbuh di hatinya.
"Dalam kenangan masa kecil saya dan hingga kini, saya selalu teringat Guru Nguyen Ngoc Ky. Beliau adalah teladan yang memberi saya keberanian untuk belajar. Seperti guru saya, saya tidak punya dua tangan, jadi saya harus berlatih menulis dengan kaki. Sambil berlatih menulis, meskipun kaki saya mengelupas dan berdarah, saya tetap tidak menyerah pada impian saya untuk bersekolah," ungkap Tham.
Sejak saat itu, api semangat itu telah menyulut mimpinya untuk mengajar. Bagi Tham, menjadi guru bukan hanya untuk memenuhi aspirasi pribadinya, tetapi juga untuk membuktikan bahwa, terlepas dari keterbatasan fisik, orang-orang tetap dapat melakukan hal-hal luar biasa jika mereka memiliki kemauan dan tekad yang kuat.
Fajar - cahaya merayap masuk dan karier berkembang
Sebagai seorang mahasiswa, Tham menunjukkan kebaikan dan keinginannya untuk berkontribusi dengan membuka kelas bahasa Inggris gratis bagi anak-anak di lingkungannya. Itulah pelajaran pertamanya dalam berbagi, dalam menggunakan pengetahuannya untuk mencerahkan masa depan mereka yang kurang beruntung. Semangat dan antusiasmenya telah meninggalkan jejak tersendiri di komunitas.
Fajar adalah momen peralihan dari kegelapan menuju fajar, membawa begitu banyak harapan dan hal-hal baik yang menanti. Dan bagi Tham, momen itu seakan perlahan datang menerangi hidupnya, menjanjikan masa depan cerah yang sungguh sepadan dengan usahanya.
Pada tahun 2018, kisah tekad Tham menyentuh hati para pemimpin. Ia direkrut khusus sebagai guru bahasa Inggris di Sekolah Dasar dan Menengah Dong Thinh, Distrik Dong Son, Thanh Hoa , tepat di kota kelahirannya. Saat ia berdiri di podium, menggunakan kakinya untuk mengendalikan pena dan menulis di papan tulis, meninggalkan keajaiban tekad dan kebaikan hati masyarakat. Momen itu bukan hanya momen pribadi bagi Tham, tetapi juga simbol kasih sayang, keadilan, dan bahwa masyarakat selalu terbuka bagi mereka yang memiliki tekad dan bakat. Tham telah mengubah keterbatasan fisik menjadi metode pengajaran yang unik, menarik perhatian, dan menginspirasi semangat belajar siswa.
Setiap malam akan memiliki fajarnya, selama api tekad di dalam dirimu tidak pernah padam.
Jutaan orang telah mengenalnya dan terinspirasi olehnya. Ceramah-ceramahnya tak hanya menuntun pada pengetahuan yang luas, tetapi juga pada pelajaran tentang keberanian dan makna hidup yang terpatri di hati setiap orang. Guru Le Thi Tham adalah guru teladan, mercusuar semangat hidup indah. Ia dianugerahi gelar "Pemuda Hidup Indah" pada tahun 2023, menjadi simbol tekad untuk bangkit dan kegigihan dalam mengejar mimpi. Selama bertahun-tahun berturut-turut, ia telah meraih gelar pejuang emulasi akar rumput, dihormati sebagai guru berprestasi, dan memberikan kontribusi besar bagi pendidikan . Prestasi-prestasi ini merupakan pengakuan atas kapasitas profesionalnya dan dedikasinya yang tak kenal lelah terhadap sektor pendidikan.
Ia bagaikan pembawa pesan harapan, menunjukkan jalan bagi generasi mendatang untuk menjadi warga negara yang baik, untuk hidup dengan indah. Kisah-kisahnya akan selalu menjadi epik tekad, tentang kemanusiaan, menerangi harapan dan menyebarkan kisah-kisah inspiratif yang manusiawi, mengingatkan kita bahwa, dalam hidup ini, tak ada batasan yang dapat menghalangi manusia meraih impiannya, dan tak ada batasan yang dapat menghalangi kita untuk terus hidup bersama diri sendiri, bersama masyarakat, dengan menyalakan api welas asih dan berbagi dengan orang-orang di sekitar kita. Api itu akan menerangi jalan, menghangatkan hati, dan mengubah setiap malam yang tak berujung menjadi kesempatan untuk menanti fajar yang cerah.
Sumber: https://thanhnien.vn/hinh-hai-cua-nghi-luc-185250630145101674.htm
Komentar (0)