
Selama beberapa dekade, banyak sungai telah diubah menjadi kanal beton atau sistem drainase untuk kota-kota padat penduduk. Namun kini, di banyak bagian dunia , muncul pola pikir baru: memulihkan sungai, membersihkan sumber air, dan mengembalikan koridor hijau ke kota-kota – tempat orang dapat berjalan kaki, bersepeda, menghirup udara segar, dan membangun kembali hubungan dengan alam. Ketika tepian sungai direvitalisasi, ekosistem dipulihkan, dan kualitas hidup serta kesehatan mental masyarakat meningkat.

Sungai yang dipenuhi pepohonan di Amsterdam,Belanda . Foto: Amsterdamia
Ketika kota-kota kehilangan sungainya
Sejarah banyak kota besar terkait erat dengan sungai. Air menyediakan sumber kehidupan, memfasilitasi perdagangan, dan membentuk identitas budaya setiap wilayah. Namun, dengan industrialisasi dan urbanisasi, banyak sungai secara bertahap dipandang sebagai penghalang pembangunan.
Saluran air yang dulunya menjadi pusat kehidupan masyarakat telah menyusut untuk memberi jalan bagi jalan raya, pabrik, dan konstruksi. Di banyak tempat, sungai telah diubah menjadi kanal drainase atau ditutupi beton. Selama beberapa dekade, filosofi perencanaan yang berlaku adalah mengendalikan alam daripada hidup selaras dengannya.
Konsekuensinya meluas melampaui pencemaran lingkungan dan hilangnya keanekaragaman hayati. Seiring menghilangnya sungai dari kehidupan sehari-hari, kota-kota juga kehilangan ruang publik yang berharga—tempat-tempat di mana orang dapat bertemu, bersantai, dan terhubung dengan alam.
Saat ini, dengan perubahan iklim, panas ekstrem, dan masalah kesehatan perkotaan yang meningkat, banyak perencana kota mulai memandang sungai dari sudut pandang yang berbeda. Alih-alih hanya melihatnya sebagai infrastruktur irigasi atau drainase, mereka memandang sungai sebagai bagian dari sistem infrastruktur hijau yang berkontribusi pada peningkatan kesehatan masyarakat.
Kembalinya aliran sungai
Salah satu kisah paling terkenal tentang restorasi sungai perkotaan adalah proyek renovasi aliran sungai Cheonggyecheon di Seoul, Korea Selatan .
Setelah tertutup oleh jalan raya selama beberapa dekade, aliran sungai ini dipugar pada awal tahun 2000-an. Kini, Cheonggyecheon telah menjadi salah satu ruang publik yang paling dicintai di kota ini, menarik jutaan pengunjung setiap tahun yang datang untuk berjalan-jalan, bersantai, dan berpartisipasi dalam kegiatan budaya.

Sungai Cheonggyecheon di Seoul, Korea Selatan. Foto: Green Life City
Di Eropa, banyak negara juga mempromosikan program untuk memulihkan aliran sungai alami. Ratusan bendungan tua yang tidak terpakai telah dibongkar untuk membantu ekosistem sungai pulih. Belanda telah menerapkan program "Ruang untuk Sungai", yang memungkinkan sungai memiliki lebih banyak ruang untuk meluas selama musim banjir daripada mencoba membatasi aliran dengan sistem tanggul yang kaku.
Bukan suatu kebetulan bahwa banyak proyek restorasi sungai di seluruh dunia mencakup pembangunan ruang pejalan kaki, bersepeda, dan ruang komunitas di sepanjang tepiannya. Di Dresden, Jerman, Rute Sepeda Elbe yang terkenal, yang membentang di sepanjang Sungai Elbe, telah menjadi simbol kehidupan hijau, di mana sungai bukan hanya lanskap tetapi juga bagian integral dari infrastruktur kesehatan perkotaan. Setiap hari, ribuan penduduk dan wisatawan memilih untuk bersepeda, berjalan kaki, atau sekadar bersantai di bawah pepohonan di sepanjang tepian sungai untuk menikmati udara segar dan ketenangan yang langka di tengah hiruk pikuk kehidupan modern.
Kesamaan di antara proyek-proyek ini adalah pendekatan baru terhadap alam. Di luar tujuan melindungi flora dan fauna serta memperbaiki lanskap, mereka bertujuan untuk membangun kota-kota yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim dan menyediakan lingkungan hidup yang lebih sehat bagi masyarakat.
Ruang hijau untuk komunitas yang sehat.
Salah satu manfaat paling nyata dari restorasi sungai adalah kemampuannya untuk mengurangi panas perkotaan.
Dalam konteks banyak kota yang terus-menerus mengalami gelombang panas yang memecahkan rekor, badan air dan vegetasi tepi sungai bertindak sebagai "pendingin udara alami." Air menyerap panas lebih lambat daripada beton dan aspal, membantu mengatur iklim mikro di area sekitarnya. Koridor hijau di sepanjang sungai juga memfasilitasi sirkulasi udara yang lebih baik, berkontribusi untuk mengurangi efek pulau panas perkotaan.
Namun, manfaat dari pemugaran saluran air tidak berhenti sampai di situ. Ketika tepian sungai diubah menjadi taman, jalan setapak, dan jalur sepeda, orang memiliki lebih banyak kesempatan untuk beraktivitas fisik dalam kehidupan sehari-hari mereka. Banyak penelitian menunjukkan bahwa tinggal di dekat ruang hijau dan badan air dikaitkan dengan tingkat aktivitas fisik yang lebih tinggi, yang pada gilirannya membantu mengurangi risiko obesitas, penyakit kardiovaskular, dan banyak penyakit tidak menular lainnya.
Ruang tepi sungai juga menyediakan peluang untuk kegiatan komunitas seperti berjalan-jalan, berolahraga, menyelenggarakan acara budaya, atau sekadar bertemu teman dan keluarga. Interaksi sosial ini sangat penting untuk kesejahteraan mental tetapi sering diabaikan dalam diskusi tentang lingkungan.

Rute bersepeda terindah di Eropa membentang di sepanjang Sungai Elbe dekat Dresden, Jerman. Foto: Rute Bersepeda Elbe
Sebuah dosis kenyamanan mental di jantung kota.
Dalam beberapa tahun terakhir, para ilmuwan semakin tertarik pada konsep "ruang hijau-biru," yang mencakup area dengan tanaman hijau yang dipadukan dengan badan air alami, menciptakan ekosistem yang membantu mengurangi panas perkotaan, meningkatkan kualitas udara, dan mendorong orang untuk lebih banyak berolahraga. Alih-alih terpisah dari alam oleh jalan beton dan tempat parkir, orang-orang memiliki kesempatan untuk terhubung kembali dengan sungai – sumber kehidupan yang pernah menopang pembentukan kota.
Banyak penelitian juga menunjukkan bahwa paparan rutin terhadap ruang hijau dan perairan dapat berkontribusi pada pengurangan stres, peningkatan kondisi mental, dan peningkatan kualitas hidup. Sekadar duduk di tepi sungai, mendengarkan suara air mengalir, atau memandang pantulan sinar matahari di permukaan air dapat memberikan efek relaksasi pada otak.
Di dunia yang semakin urban, di mana orang menghabiskan sebagian besar waktunya di tengah blok beton, layar, dan tekanan pekerjaan, ruang-ruang seperti ini menjadi sangat berharga.
Para ahli kesehatan masyarakat berpendapat bahwa alam juga berfungsi sebagai sumber daya untuk kesejahteraan mental. Oleh karena itu, pemugaran sungai memiliki signifikansi ekologis dan dapat dilihat sebagai investasi dalam kehidupan penduduk perkotaan.
Ketika sungai-sungai pulih, alam pun sembuh. Namun, mungkin yang lebih berharga adalah orang-orang juga menemukan cara hidup yang lebih seimbang. Karena kesehatan tidak hanya dijaga di rumah sakit, tetapi juga dipelihara setiap hari oleh air bersih, pepohonan di tepi sungai, jalan-jalan santai, dan momen-momen ketenangan yang langka di jantung kota.
Sumber: https://vtv.vn/hoi-sinh-nhung-dong-song-10026062416401311.htm











