Dari menyaksikan "batas antara hidup dan mati"
Kesan pertama saya tentang Vui adalah keramahan dan antusiasmenya. Perjalanannya menjadi donor darah sukarelawan murni kebetulan. Pada tahun 2002, di usia muda 23 tahun, Truong Van Vui merawat seorang kerabat di rumah sakit. Hari itu, ketegangan menyelimuti bangsal karena seorang pasien dalam kondisi kritis dan sangat membutuhkan transfusi darah.

Para dokter terus mencari golongan darah yang cocok. Anggota keluarga bergegas ke sana kemari, mata mereka dipenuhi kekhawatiran dan rasa tidak berdaya. "Saat itu, saya juga sangat khawatir. Saya belum pernah mendonorkan darah sebelumnya, dan saya tidak tahu apakah itu akan baik-baik saja, tetapi kemudian saya berpikir, jika saya tidak membantu, orang itu mungkin tidak akan selamat," kenang Vui.
Setelah ragu-ragu beberapa menit, ia memutuskan untuk mendaftar sebagai donor darah untuk menyelamatkan nyawa. Saat darah mengalir dari tubuhnya, keringat mengucur deras di wajahnya karena takut, tetapi hatinya dipenuhi perasaan aneh yang menggembirakan. Keesokan harinya, dokter mengumumkan bahwa pasien tersebut sudah melewati masa kritis. Malam itu, Vui tidak bisa tidur.
“Untuk pertama kalinya, saya benar-benar merasa telah berkontribusi menyelamatkan nyawa seseorang. Itu adalah perasaan yang tak terlukiskan,” kata Bapak Vui sambil tersenyum lembut. Sejak saat itu, ia berkata pada dirinya sendiri: jika tubuhnya sehat, mengapa tidak terus memberi? Dan begitulah, selama 23 tahun terakhir, ia secara teratur berpartisipasi dalam donor darah sukarela.
Dari kegiatan donor darah lokal hingga panggilan darurat dari rumah sakit, setiap kali ia mendengar "seseorang membutuhkan darah," ia segera bergegas. Hujan atau panas, terik matahari atau larut malam, ia tidak pernah menolak. Karena baginya, setiap donor darah adalah kesempatan untuk menyelamatkan seseorang dari ambang kematian, membuat hidup lebih bermakna.
Menuju Nyala Api Inspirasi, Menyebarkan Cahaya
Pada awal tahun 2000-an, gerakan donor darah sukarela masih asing bagi banyak orang. Banyak yang ragu-ragu, takut "kehilangan darah dan energi," dan bahkan mengira bahwa mendonorkan darah itu berbahaya. Sebagai Sekretaris Serikat Pemuda di dusun tersebut pada waktu itu, Vui dengan gigih pergi dari rumah ke rumah, berbicara, menjelaskan, dan membujuk orang-orang untuk mendonorkan darah.
Ia tidak hanya berkampanye dengan kata-kata, tetapi juga dengan tindakan dan teladan pribadinya: selalu sehat, energik, dan optimis setelah setiap donor darah. Hingga saat ini, banyak orang dan kaum muda di komune tersebut telah aktif menanggapi gerakan donor darah sukarela.
Berkat hal ini, setiap kegiatan donor darah menjadi acara yang meriah – mulai dari pejabat, pegawai negeri, dan guru hingga petani dan pekerja konstruksi, semua orang aktif berpartisipasi dalam mendonorkan darah untuk menyelamatkan nyawa. Bapak Vui berbagi: "Melihat begitu banyak orang yang merespons membuat saya sangat bahagia. Satu donor darah lagi berarti satu kesempatan lagi bagi pasien untuk bertahan hidup."
Meskipun telah mendonorkan darah lebih dari 100 kali, Bapak Vui tidak berniat untuk berhenti. Berkat kontribusinya yang gigih dan praktis, ia telah menerima banyak penghargaan dan sertifikat prestasi dari pemerintah pusat hingga tingkat daerah. "Saya hanya berpikir: jika seseorang membutuhkan darah untuk hidup, dan saya bisa memberikannya, maka saya harus melakukannya," ujarnya.
Teladan antusiasme dan tanggung jawab Vui telah menginspirasi dan membantu menyebarkan gerakan donor darah sukarela, menyelamatkan nyawa banyak pasien tepat waktu. Setiap tetes darah yang didonorkan adalah tindakan mulia, menabur benih kasih sayang dan mengembalikan harapan hidup bagi banyak orang…
Teks dan foto: CAM LINH
Sumber: https://baocantho.com.vn/hon-2-thap-ky-gieo-mam-su-song--a194550.html






Komentar (0)