![]() |
Karier David Alaba sedang terpecah menjadi dua akibat cedera. |
Hampir dua tahun telah berlalu sejak David Alaba pingsan di lapangan Bernabeu saat pertandingan melawan Villarreal, momen ketika ia harus menjalani operasi karena cedera robekan ligamen anterior cruciate di lutut kirinya. Saat itu, Real Madrid kehilangan dua bek tengah kunci secara bersamaan, karena Eder Militao juga mengalami cedera serupa sebelumnya.
Namun tidak seperti Militao, perjalanan kembali Alaba lebih panjang, lebih sulit, dan masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
Alaba menjalani operasi, dan kemudian operasi lagi. Prosedur "pembersihan" lutut lainnya dilakukan selama masa pemulihannya, yang menunjukkan bahwa tubuhnya tidak merespons seperti yang diharapkan.
Akibatnya, sepanjang musim 2025/26, Alaba hanya bermain selama 143 menit untuk Real Madrid. Angka itu terlalu kecil jika dibandingkan dengan kelas dan status seorang pemain yang pernah menjadi figur kunci di Bayern Munich, yang telah membawa Liga Champions, La Liga, dan berbagai gelar besar lainnya ke klub kerajaan Spanyol tersebut.
![]() |
Alaba praktis "menghilang" di Madrid. |
Ironisnya, sementara Alaba praktis "menghilang" di Madrid, ia menemukan ritme sepak bolanya bersama tim nasional. Bersama Austria, Alaba bermain selama 301 menit, lebih dari dua kali lipat waktu yang ia habiskan mengenakan seragam putih.
Mantan bintang Bayern Munich ini menjadi starter di sebagian besar pertandingan, mengenakan ban kapten, memimpin lini pertahanan, dan menjadi pusat spiritual tim yang dipimpin oleh Ralf Rangnick. Bagi tim nasional sepak bola Austria, Alaba bukanlah tanda tanya, melainkan pilar dukungan.
Kontras ini mengungkapkan realita yang tak terhindarkan: Real Madrid saat ini tidak dapat mengandalkan Alaba. Bukan karena kemampuan teknisnya, tetapi karena kondisi fisiknya.
Sejak Xabi Alonso mengambil alih tim, Alaba hanya bermain dalam empat pertandingan. Dua di antaranya hanya beberapa menit di akhir pertandingan, sebagai solusi sementara. Ia bermain penuh dalam pertandingan Liga Champions, kemudian meninggalkan lapangan pada babak pertama karena cedera betis. Sejak pertengahan Oktober, ia sama sekali absen.
![]() |
Alaba kehilangan arah. |
Alaba yang dalam kondisi prima pernah menjadi penghubung taktis yang krusial di bawah asuhan Carlo Ancelotti. Ia bermain sebagai bek tengah sisi kiri, mahir menghindari tekanan, memulai serangan dari belakang, dan membawa keseimbangan pada pertahanan.
Dengan Xabi Alonso, nilai itu tetap ada, secara teori. Tetapi sepak bola tingkat atas tidak bergantung pada ingatan. Itu membutuhkan tubuh yang sehat, performa yang konsisten, dan keandalan mutlak.
Menjelang tahun 2026, Alaba menghadapi kenyataan lain: kontraknya dengan Real Madrid berakhir pada akhir Juni. Ia kemungkinan akan meninggalkan Bernabeu setelah lima musim, dengan koleksi gelar yang melimpah tetapi akhir yang belum lengkap.
Yang tersisa bagi Alaba sekarang bukanlah membuktikan kemampuannya di Madrid, tetapi menjaga kondisi fisiknya agar cukup prima untuk mengikuti Piala Dunia bersama tim nasional Austria.
Bagi Alaba, tim nasional adalah "oasis" langka setelah dua tahun yang penuh tantangan. Di sana, ia tetap menjadi pemimpin, masih dipercaya, dan masih bisa bermain sepak bola dengan gaya yang biasa ia mainkan.
Di Real Madrid, kisahnya berubah dari pusat perhatian taktis menjadi tanda tanya besar mengenai kebugaran dan waktunya. Dan di sepak bola level atas, waktu jarang menunggu siapa pun.
Sumber: https://znews.vn/kho-hieu-voi-alaba-post1615155.html









Komentar (0)