
Dulu, keluarga kami miskin, dan kami tidak punya televisi untuk menonton ramalan cuaca. Nenekku berkata bahwa kita bisa tahu apakah esok hari akan cerah atau hujan hanya dengan melihat asap yang naik dari cerobong dapur. Asap yang naik lurus ke langit berarti cuaca cerah, sedangkan asap tipis yang menyebar secara horizontal menandakan hari hujan. Karena itu, setiap kali ibuku membelikanku pakaian baru atau sepasang sandal plastik, aku akan dengan antusias berlari ke halaman, menengadahkan kepala untuk melihat asap malam dari cerobong, berharap langit cerah keesokan harinya agar aku bisa memamerkannya kepada teman-temanku di sekolah. Bahkan sekarang, aku tidak bisa melupakan gumpalan asap tipis itu, berputar-putar dan berlama-lama di atas atap dapur rumah-rumah di lingkungan sekitar saat senja—seperti kabut halus, sederhana namun anehnya puitis.
Sejak kecil, anak-anak yang lahir di pedesaan menjadi dekat dengan dapur. Di dapur beratap jerami tua itu, ibuku mengajari kami cara menumpuk kayu bakar untuk menyalakan api, cara memasak nasi, merebus air, dan mengaduk pakan babi... dan juga menceritakan kisah tentang legenda "penjual sayur," tentang persahabatan dan semangat bertetangga di sore hari yang dingin di musim dingin. Setiap hari, dalam perjalanan pulang dari sekolah, perutku keroncongan karena lapar, aku hanya ingin berlari pulang secepat mungkin. Api di dapur ibuku selalu menjadi gambaran pertama yang terlintas di benakku karena memiliki aroma jerami dan rumput kering yang tajam dan pedas bercampur dengan aroma nasi yang mendidih di panci di atas kompor, atau sekadar aroma masakan ibuku. Tanpa ada yang menyuruh kami, aku dan saudara-saudaraku akan berkumpul di sekitar api setelah sekolah, menghangatkan tangan kami yang pecah-pecah dan dingin sambil mendengarkan cerita ibuku, merasakan kedamaian yang tidak biasa.
Dulu, kayu bakar sangat langka, jadi keluarga saya kebanyakan memasak dengan jerami, sekam padi, dan daun kering. Karena itu, air minum kami kadang-kadang tercemar asap; nasi putih kami kadang-kadang menguning di salah satu sudutnya atau tertutup abu – kejadian yang sangat umum bagi anak-anak petani yang ceroboh dan suka bermain seperti kami. Saya ingat suatu kali, adik saya dihukum oleh ibu kami karena terlalu asyik bermain sehingga nasi yang terkubur di abu terangkat tutupnya. Ketika orang tua kami pulang dari bekerja di ladang dan mengangkat panci dari kompor, setengah dari nasi itu lengket dengan abu dan tidak bisa dimakan.
Pada hari-hari dingin dan hujan, jerami menjadi lembap, sehingga dapur selalu dipenuhi asap. Asapnya tidak mengepul tinggi tetapi tetap berada di atap genteng dan berputar-putar di dapur kecil itu, membuat wajahku belepotan jelaga, mata dan hidungku berair. Namun aku tetap tersenyum, meniup ubi jalar panggang atau jagung bakar yang panas dan harum untuk dimakan. Aku paling suka memasak dengan kompor jerami; butiran beras sisa di jerami berderak dan meletup menjadi nasi krispi putih kecil. Setiap kali aku melihat nasi krispi di kompor, aku akan segera menggunakan tongkat untuk mengambilnya dan memakannya untuk menahan rasa lapar. Terkadang, aku diam-diam mengambil beberapa helai kerupuk beras yang biasa ibuku gunakan untuk membuat sup, memasukkannya ke dalam kompor, dan memanggangnya hingga renyah—rasanya sangat enak.
Waktu berlalu dengan tenang, dan aku perlahan tumbuh dewasa. Kenangan sederhana dan pedesaan itu terukir dalam-dalam di lubuk jiwaku. Dan kemudian, entah di mana, hanya dengan secara tidak sengaja mencium aroma asap dapur, kenangan masa kecil kembali membanjiri pikiranku, murni, berharga, dan sangat hangat. Bagiku, aroma asap dapur adalah aroma pedesaan, aroma hari-hari masa kecil yang telah berkali-kali membuatku menangis, namun cukup untuk menghangatkan hatiku seumur hidup.
Sumber: https://baohungyen.vn/khoi-bep-mua-dong-3189576.html






Komentar (0)