
Menghilangkan hambatan di tingkat akar rumput.
Pada tanggal 8 Juni, Dusun 4, Komune Bat Xat, menjadi wilayah pertama di provinsi Lao Cai yang meluncurkan model "Dusun Digital". Ini bukan hanya model baru di tingkat akar rumput, tetapi juga langkah nyata dalam mewujudkan Resolusi 57 melalui solusi yang berakar pada kebutuhan masyarakat.
Model "Desa Digital" bertujuan untuk mengintegrasikan teknologi digital ke dalam kehidupan sehari-hari, membantu masyarakat mengakses dan memanfaatkan fasilitas digital secara efektif, sekaligus mempersempit kesenjangan digital antar wilayah. Pada acara peluncuran, warga dapat mencoba aplikasi "Desa Digital Bat Xat" dengan 16 fasilitas digital terintegrasi dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan di pasar digital.
Wakil Sekretaris Tetap Komite Partai Provinsi Lao Cai, Hoang Giang, menekankan bahwa model "Desa Digital" di Desa 4 berasal dari pengalaman praktis di tingkat akar rumput, dari kebutuhan spesifik masyarakat, dan melalui metode yang kreatif dan efektif. Menurut Bapak Giang, dalam konteks membangun sistem administrasi modern, pengembangan "Desa Digital" bukan hanya tentang menerapkan teknologi informasi tetapi juga tentang inovasi kepemimpinan, manajemen, dan pemikiran yang berorientasi pada pelayanan.
Munculnya model ini terkait dengan upaya untuk menghilangkan "hambatan" digital di daerah pegunungan. Sebagai daerah dengan wilayah yang luas, banyak daerah masih menghadapi kesulitan, dan lebih dari 65% penduduknya adalah etnis minoritas, Lao Cai masih menghadapi keterbatasan dalam infrastruktur, keterampilan digital, dan akses masyarakat terhadap teknologi.
Menurut Bapak Tran Ngoc Luan, Direktur Departemen Sains dan Teknologi Provinsi Lao Cai, pemerintah daerah telah menetapkan bahwa transformasi digital harus berawal dari realitas praktis, berfokus pada masyarakat dan mengatasi kebutuhan praktis di tingkat akar rumput. Oleh karena itu, alih-alih hanya berfokus pada teknologi, provinsi ini memilih untuk memulai dengan mengubah persepsi dan meningkatkan keterampilan digital bagi masyarakat.
Memberdayakan warga negara untuk menjadi agen transformasi digital.
Jika "Masyarakat Adat Digital" dan "Desa Digital" adalah elemen inti di tingkat komunitas, maka dalam skala yang lebih luas, tujuan saat ini adalah membangun komune dan lingkungan digital yang beroperasi di atas platform data dan teknologi.
Pada lokakarya pelatihan baru-baru ini tentang "Implementasi Model Transformasi Digital di Tingkat Komune/Kelurahan," Kementerian Sains dan Teknologi memperkenalkan model nasional terpadu untuk transformasi digital di tingkat komune. Menurut Profesor Madya Dr. Hoang Huu Hanh, Wakil Direktur Badan Transformasi Digital Nasional, model ini dirancang untuk penggunaan bersama dari tingkat pusat hingga tingkat akar rumput. "Ini berarti bahwa komune tidak membangun sistem mereka sendiri yang sudah ada di tingkat yang lebih tinggi, tetapi malah memanfaatkan platform bersama. Prinsipnya adalah penggunaan bersama untuk menghindari duplikasi, pemborosan, dan penyebaran sumber daya," tegas Dr. Hanh.
Salah satu prinsip utama model ini adalah memastikan inklusi digital, sehingga orang-orang rentan tidak dikecualikan dari layanan digital. Semangat inilah yang juga ditunjukkan dalam "Masyarakat Adat Digital," "Desa Digital," dan kegiatan kelompok teknologi digital komunitas.
Pengalaman di komune Yen Binh (provinsi Lao Cai) menunjukkan bahwa transformasi digital bukan lagi hanya tentang infrastruktur atau perangkat lunak. Saat ini, lebih dari 90% rumah tangga dengan ponsel pintar telah menginstal aplikasi "Warga Digital"; 100% desa menerapkan tata kelola dan operasional pada platform digital; 48% permohonan diproses melalui layanan publik daring lengkap; dan 100% pemimpin menggunakan sertifikat digital dalam menangani pekerjaan.
Dari Dusun 4 di komune Bat Xat hingga model "Penduduk Desa Digital," "Dusun Digital," dan "Komune Digital" yang diterapkan di banyak daerah, arah yang jelas mulai muncul: membawa teknologi langsung ke desa dan dusun, memungkinkan masyarakat untuk berpartisipasi langsung dalam proses transformasi digital. Ketika masyarakat tahu cara menggunakan teknologi untuk mengakses informasi, melakukan prosedur administrasi, mempromosikan produk, atau terhubung ke pasar, mereka bukan lagi sekadar penerima manfaat tetapi menjadi peserta aktif dalam proses ini.
Ini juga merupakan cara untuk secara bertahap menghilangkan "hambatan" dalam kesadaran, keterampilan, dan kebiasaan digital, sehingga membuka "sirkuit digital" dari tingkat akar rumput dan menciptakan fondasi bagi pembangunan sosial-ekonomi berkelanjutan di dataran tinggi.
Sumber: https://daidoanket.vn/khoi-thong-mach-so-tu-thon-ban.html






