Di beberapa pagi, sebelum kota benar-benar terbangun, orang-orang berdiri dengan tenang menunggu di depan kantor administrasi. Di tangan mereka terdapat tumpukan dokumen tanah, akta rumah, kartu identitas, sertifikat kepemilikan tanah—dokumen-dokumen yang terkait dengan tabungan seumur hidup mereka, membangun rumah, membagi tanah, meminjam uang, mengalihkan kepemilikan, dan menetap.

Sebagian orang datang saat subuh hanya untuk mendapatkan nomor antrian. Yang lain mengambil cuti kerja karena takut jika datang terlambat akan menyebabkan permohonan mereka tidak diterima. Di balik pemandangan yang tampaknya biasa ini, bukan hanya tentang prosedur, loket penerimaan, perangkat lunak, atau nomor antrian. Ini adalah kisah yang lebih besar tentang kualitas operasional sistem, tentang kesenjangan antara kebijakan reformasi dan pengalaman nyata masyarakat, dan tentang pertanyaan yang sangat sederhana namun sangat serius: Pada akhirnya, apa yang diperoleh masyarakat setiap kali kita membicarakan reformasi?

Untungnya, di beberapa tempat, antrean daring, proses yang disederhanakan, dan penanganan dokumen yang efisien telah membantu mengurangi antrean panjang. Namun, ini juga mengungkapkan kebenaran lain: banyak masalah bukanlah hal yang tidak dapat diatasi, melainkan apakah masalah tersebut diidentifikasi dengan jelas, dianggap sebagai masalah mendesak, dan apakah ada seseorang yang bertanggung jawab penuh atas masalah tersebut.

Sebuah inisiatif kecil, jika berasal dari kesulitan yang dialami masyarakat, dapat meringankan banyak beban mereka. Reformasi yang tepat sasaran dapat mengembalikan waktu, kepercayaan, dan rasa hormat masyarakat.

Dari kisah itu, kita semakin memahami pesan Sekretaris Jenderal dan Presiden To Lam pada pertemuan pertama Komite Pengarah Pusat tentang penyempurnaan lembaga dan penegakan hukum: "Jangan memberikan tugas hanya dengan slogan."