Tangisan kenangan
Ketika saya berusia sekitar 8 atau 9 tahun, ada seorang pria Tionghoa tua di lingkungan sekitar yang menjual bakpao kukus dan kue beras. Seruannya merupakan campuran aksen Vietnam dan Tionghoa. Dia sering berteriak, "Panh pao, panh po…", yang sebenarnya berarti "bakpao kukus, kue beras." Seruan itu bergema di lorong kecil setiap sore. Kotak bakpao dibungkus rapi dengan plastik. Setiap kali ada yang memesan, dia akan membuka tutupnya dan menggunakan penjepit kecil untuk mengambil bakpao dan memasukkannya ke dalam tas. Beberapa malam, melihat kotak bakpaonya masih berisi banyak bakpao, saya akan meminta uang kepada ibu saya untuk membeli lebih banyak, berharap dia akan menjual semuanya sehingga kami bisa pulang lebih awal. Beberapa tahun kemudian, saya mendengar orang dewasa di lingkungan sekitar mengatakan bahwa dia telah meninggal dunia pada suatu musim dingin karena usia tua dan sakit. Tetapi suara "panh pao, panh po"-nya sepertinya masih terngiang di suatu tempat dalam ingatan masa kecil saya.
![]() |
Aku juga ingat penjual es krim di Nha Trang. Setiap kali aku mendengar loncengnya berbunyi, anak-anak tetangga akan bergegas keluar ke jalan. Kerucut es krim warna-warni ditumpuk tinggi di gerobak kecilnya. Aku ingat penjual itu sangat ceria, dengan perawakan tegap dan sehat khas orang Vietnam Tengah, kulitnya kecokelatan oleh angin laut. Beberapa tahun yang lalu, ketika aku mengunjungi rumah, aku melihat gerobak es krim lewat. Penjualnya adalah seorang pria tua dengan punggung bungkuk, senyum tanpa gigi, dan wajah yang dipenuhi dengan kesulitan hidup yang telah dilaluinya. Aku berhenti untuk membeli es krim untuk anak-anak dan dengan santai menyebutkan penjual tua itu. Ibuku menatapku dan berbisik, "Itu penjual es krim tua itu, anakku." Aku terkejut. Waktu telah berlalu begitu cepat.
Ibu saya juga bercerita tentang kakek dari pihak ibu saya di Hanoi pada tahun 1930-an. Ia menjadi yatim piatu sejak kecil, dan nenek buyutnya bekerja keras membesarkannya dengan menjual sup wijen hitam manis, pekerjaan tradisional pedagang kaki lima Tionghoa, berjalan kaki dan menjajakan dagangannya di jalanan musim dingin yang membeku. Beberapa malam, ketika penjualan lesu dan panci sup masih penuh, ia akan diam-diam membawanya pulang. Keesokan harinya, mereka berdua akan makan sup panas itu sebagai pengganti nasi. Kisah-kisah itu mengingatkan saya pada lagu "Tangisan Pedagang Kaki Lima": "Ada tangisan pedagang kaki lima yang terdengar begitu kesepian di tengah hiruk pikuk jalanan sore hari… Ada tangisan pedagang kaki lima seperti suara ibu saya, seperti suara saudara perempuan saya. Membawa tanah air di pundaknya yang kurus…" Tangisan pedagang kaki lima dalam lagu itu mirip dengan tangisan pedagang kaki lima dalam kehidupan nyata. Itu bukan hanya suara mencari nafkah, tetapi juga kisah orang-orang pekerja keras, yang membawa seluruh hidup mereka di sepanjang jalanan.
Suara-suara masa kecil, suara-suara tanah air.
Seruan para pedagang kaki lima terkadang menyebar dengan cara yang tak terduga di era media sosial. Baru-baru ini, berita memberitakan kisah Ibu Mai, seorang pedagang buah di pesisir Nha Trang. Dari sebuah video singkat yang memperlihatkan beliau berteriak dalam bahasa Inggris: "Mangga, nanas, pisang, semangka…", seorang artis internasional mengolah ulang audionya, dan video tersebut dengan cepat menarik puluhan juta penonton di YouTube. Namun ketika ditanya, Ibu Mai hanya tersenyum dan mengatakan bahwa beliau masih berjualan seperti yang telah dilakukannya selama beberapa dekade. Baginya, yang terpenting adalah tetap mencari nafkah dan berbincang-bincang menyenangkan dengan para wisatawan.
Setiap musim panas ketika saya kembali ke Nha Trang, saya mendengar seruan-seruan yang familiar itu: "Tahu panas di sini! Tahu panas dijual!"; "Kue beras kukus panas di sini!". Suara-suara sederhana ini menghangatkan hati seseorang yang jauh dari rumah seperti saya.
Saat pertama kali pindah ke New York, gerobak makanan adalah "teman" pertama saya. Di awal masa kuliah saya di Brooklyn College, saat istirahat makan siang, saya sering mengantre untuk membeli taco dari gerobak di luar kampus. Rasanya enak, murah, dan cepat. Mahasiswa mengantre panjang, terutama saat jam sibuk. Lambat laun, saya menjadi akrab dengan pemilik gerobak dan mengobrol dengan mereka tentang kehidupan jauh dari rumah. Banyak mantan mahasiswa saya masih kembali setelah lulus hanya untuk menyapa. Beberapa yang pindah jauh dari kota masih bertanya apakah gerobak di luar kampus masih berjualan. Gerobak-gerobak itu telah menjadi bagian dari banyak kenangan kuliah di New York.
Setiap kali malam musim dingin New York tiba dengan hawa dingin yang menusuk, melihat gerobak yang terang benderang di jalan yang sepi, saya sekilas melihat lelaki tua yang dulu berjualan bakpao kukus, penjual es krim dengan loncengnya yang bergemerincing, dan para pedagang kaki lima yang familiar di jalan-jalan pesisir Nha Trang. Suara-suara itu mungkin tampak tidak pada tempatnya di tengah hiruk pikuk kota, tetapi bagi banyak orang, suara-suara itu membangkitkan kenangan, masa kecil, dan semangat kampung halaman.
PHAM BICH NGOC
Sumber: https://baokhanhhoa.vn/van-hoa/sang-tac/202603/ky-uc-tieng-rao-onha-trang-df3420d/







Komentar (0)