Sangat mudah untuk melihat anak muda dengan teliti mengedit foto, mengejar tren, dan membuat pernyataan yang mengejutkan untuk menarik perhatian. Di balik citra yang dipoles itu, terkadang tersembunyi kesepian dan kerinduan akan pengakuan. Banyak anak muda menilai harga diri mereka berdasarkan jumlah interaksi yang mereka terima, menganggap ketenaran virtual sebagai ukuran kesuksesan. Ketika ketenaran virtual menjadi tujuan, masyarakat menghadapi risiko penyimpangan nilai di antara sebagian anak muda.

Gambar ilustrasi.
Alasan-alasan tersebut tidak hanya berasal dari daya tarik teknologi, tetapi juga dari transformasi nilai-nilai dalam kehidupan modern. Kaum muda tumbuh di "lautan" informasi yang luas, di mana sulit untuk membedakan antara kebenaran dan kebohongan. Tanpa karakter yang kuat dan bimbingan ideologis yang tepat, mereka dapat dengan mudah tersapu oleh ilusi, melupakan pentingnya hidup dengan cita-cita dan tujuan yang jelas.
Konsekuensi gaya hidup virtual meluas melampaui nilai-nilai pribadi yang terdistorsi; hal itu juga berdampak negatif pada lingkungan sosial. Banyak anak muda jatuh ke dalam perbandingan, kompleks inferioritas, disorientasi, dan bahkan depresi ketika citra daring mereka tidak secara akurat mencerminkan kehidupan nyata. Kesenjangan antara dunia virtual dan nyata mengikis keterampilan komunikasi, semangat berbagi, dan empati. Lebih berbahaya lagi, ketika nilai-nilai divirtualisasi, orang mudah menjadi acuh tak acuh dan apatis terhadap masalah komunitas.
Solusinya bukan terletak pada boikot media sosial, tetapi pada bagaimana orang menguasainya. Pertama dan terpenting, setiap anak muda perlu membekali diri dengan "kekebalan digital"—yaitu, kemampuan untuk menyaring, menganalisis secara kritis, dan mengatur sendiri perilaku daring mereka. Hanya dengan keberanian dan kemampuan untuk membedakan yang benar dari yang salah, kebenaran dari kebohongan, anak muda akan terhindar dari tersesat oleh media sosial.
Selain itu, perlu menumbuhkan budaya penggunaan media sosial yang bertanggung jawab, mengubah ruang daring menjadi lingkungan untuk belajar, berkreasi, dan berbagi. Setiap unggahan, setiap berbagi, setiap komentar harus dianggap sebagai tindakan budaya.
Ketika generasi muda belajar menghormati kebenaran dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, mereka akan berkontribusi dalam menciptakan ekosistem daring yang sehat di mana informasi positif disebarkan dan hal negatif serta bahaya ditolak.
Selain kesadaran individu, peran bimbingan dari keluarga, sekolah, dan masyarakat sangatlah penting. Keluarga perlu mendampingi, mendengarkan, dan membimbing anak-anak mereka dalam perilaku daring. Sekolah harus memasukkan pendidikan keterampilan digital, keterampilan komunikasi, dan orientasi nilai-nilai kehidupan ke dalam kurikulum. Organisasi, khususnya Persatuan Pemuda, perlu menciptakan lebih banyak platform dan forum dunia nyata bagi kaum muda untuk mengekspresikan diri melalui tindakan dan kontribusi nyata.
Di era digital, "hidup secara virtual" mungkin memberikan kesenangan sementara, tetapi hanya nilai-nilai sejati yang menciptakan keberlangsungan yang langgeng. Dengan mengetahui cara menggunakan media sosial untuk belajar, berkreasi, dan berkontribusi, kaum muda tidak hanya menguasai teknologi tetapi juga membantu menyebarkan citra generasi muda Vietnam yang berani, penuh kasih sayang, kreatif, dan bertanggung jawab.
Sumber: https://baolaocai.vn/lam-chu-the-gioi-ao-post886390.html






Komentar (0)