Ada pesan-pesan yang agak naif dan canggung, tetapi sangat tulus. Ada halaman-halaman yang dipenuhi gambar hati, puisi sekolah, dan janji-janji seperti, "Jangan sampai kita saling melupakan suatu hari nanti," yang terdengar begitu lembut dan sederhana, namun membuatku meneteskan air mata.
Bagi kami anak-anak yang lahir di akhir tahun 1980-an, buku-buku kenangan itu sangat berharga. Buku-buku itu dihias dengan berbagai warna; ada yang menggunakan buku catatan berresleting, ada pula yang menggunakan buku catatan spiral.
Setelah dengan hati-hati menulis halaman pertama, saya mengedarkan buku catatan itu kepada teman-teman sekelas saya. Biasanya, mereka mulai dengan nama, tanggal lahir, hobi, alamat, dan nomor telepon keluarga (jika ada). Mereka yang berhasil mengambil foto bergaya Korea di tempat menempelkannya, sementara beberapa bahkan menempelkan foto paspor mereka.
Aku masih ingat betul saat pertama kali aku menulis di buku tahunanmu. Penaku gemetar, dan setelah kata pengantar umum, aku tidak tahu harus mulai dari mana. Apa yang harus kutulis agar kau tahu betapa aku menyayangimu?
Aku akan selalu mengingat bagaimana kau tertawa saat menggodaku, sore-sore saat kelas tambahan ketika kita semua membawa mangga mentah, jambu biji, dan garam cabai, berkumpul dalam kelompok kecil saat istirahat untuk makan, mengobrol, dan tertawa riang, dan saat kita bersepeda hampir sepuluh kilometer bersama untuk membeli koran Hoa Hoc Tro (Bunga Pelajar)...
Sebagian orang memilih untuk menulis beberapa baris singkat dalam pesan perpisahan mereka, sementara yang lain dengan teliti menghias setiap sudut, menempelkan kelopak bunga yang mencolok atau potongan bungkus permen. Tetapi apa pun bentuknya, setiap halaman adalah bagian dari hati yang mengucapkan selamat tinggal.
Suatu hari nanti, ketika kita semua berada di tempat yang berbeda, buku catatan itu akan tersimpan rapi di laci atau sudut meja kita. Terkadang, kita akan tanpa sengaja membukanya, dan mengenang kembali masa-masa riang, musim cinta yang telah berlalu dengan tenang. Kemudian kita akan tersenyum dan merasa hangat di dalam hati, mengetahui bahwa kita pernah memiliki hari-hari yang begitu indah.
Oleh karena itu, musim penulisan buku tahunan selalu menjadi musim kata-kata tulus, pelukan yang lama, jabat tangan yang erat, musim penyesalan dan cinta yang polos dan naif di hari-hari pertama sekolah.
Hampir 20 tahun telah berlalu. Kenangan hari-hari musim panas terakhir di sekolah menengah tetap terpatri di hatiku. Saat aku duduk di sini menulis, lirik familiar dari lagu "Poetic Love" kembali terlintas di benakku: "Pesan perpisahan itu kabur oleh air mata sebelum sempat ditulis / Bunga indah itu tak pernah diberikan / Kenangan itu di sore hari yang hujan sepulang sekolah / Kita berdua berjalan di jalan yang sama, betapa lamanya kenangan itu terasa."
Sumber: https://baogialai.com.vn/luu-but-post319358.html






Komentar (0)