Setiap penulis memiliki ranah realitas unik mereka sendiri, sebuah ruang di mana mereka menemukan cara untuk menjelajahi lapisan realitas dan mengekspresikan kekayaan emosi dengan sentuhan pribadi yang khas. Penulis Tran Thi Thuy Linh tidak terkecuali. Lahir pada tahun 1976, ia saat ini tinggal dan menulis di Soc Trang. Dengan pendekatan yang tulus dalam menulis, setiap kata-katanya berupaya menangkap esensi pedesaan Vietnam bagian barat daya. Hingga saat ini, ia telah menerbitkan banyak puisi dan esai dalam berbagai buku. Kumpulan esainya, yang berjudul sederhana "Tanah Cinta," yang diterbitkan oleh Kim Dong Publishing House, dengan sempurna merangkum semangat kreatif ini.
Saat membaca esai-esai dalam "Land of Love," setiap pembaca secara bertahap akan merasakan ruang artistik yang dibangkitkan oleh penulis. Hamparan lanskap tanah air menciptakan gelombang, menyentuh dan membelai hati. Gaya penulisan penulis halus namun penuh emosi, menyebutkan dan kemudian dengan jujur mengungkapkan kisah mereka sendiri di halaman. Nada yang digunakan tenang, intim, dan menceritakan kepada pembaca kecemasan penulis tentang apa yang telah terjadi dalam hidup.
Oleh karena itu, dunia dalam buku ini merupakan rangkaian dari banyak gambaran sederhana, warna-warna lukisan masa kecil, dan pergerakan kehidupan pedesaan yang sederhana. Semua ini beresonansi untuk menyoroti pesan tulus penulis di sepanjang buku: "...Dan aku pun sering menjadi orang asing jauh dari rumah, ketika aku melihat gambaran tanah kelahiranku, kenangan damai bersama ibuku, bersama teman-teman masa kecilku, terus-menerus kembali kepadaku. Aku selalu memiliki tanah kelahiran untuk dicintai."
Esai selalu memiliki keunggulan unik dalam membangkitkan emosi khusus pada pembaca. Setiap esai dalam buku ini secara alami memungkinkan pembaca untuk memvisualisasikan kenangan penulis sendiri. Di sana, pembaca akan memiliki momen refleksi tentang kehidupan para pedagang keliling, nasib mereka yang mengubah sungai dan tempat-tempat seperti Ngã Năm dan Ngã Bảy menjadi "pasar terapung di sungai."
Warung-warung sederhana di pinggir jalan melambangkan jual beli yang sederhana, merangkum berbagai kesulitan hidup di Delta Mekong. Suara kicauan burung wagtail yang menggema memenuhi desa, membangkitkan kenangan masa kecil yang, meskipun jauh, masih beresonansi, mendorong pemikiran mendalam tentang masa-masa damai dan nilai-nilai penting. Lalu ada perahu kertas masa kecil, selamanya terukir dalam ingatan, namun alam bawah sadar membangkitkan gambaran-gambaran ini…
Semua ini menciptakan curahan kenangan, curahan yang menghidupkan kembali kehijauan tahun-tahun yang dihabiskan bermain perang-perangan di jalan setapak yang ditutupi alang-alang. Melalui halaman-halaman buku ini, penulis mengungkapkan semangat melestarikan masa lalu, menjaganya tetap hidup dan berfungsi sebagai sumber, langit yang menyimpan keindahan jiwa: "Setiap hari baru yang berlalu, aku menabur lebih banyak benih mimpi. Aku menabur benih cinta di tanah airku. Dan aku percaya bahwa tunas hijau masa depan akan tumbuh dari sana." Oleh karena itu, buku ini menciptakan hubungan khusus, memungkinkan pembaca untuk menemukan resonansi yang mendalam saat mereka menyelami fragmen-fragmen kenangan yang disajikan penulis.
Saat membaca kumpulan esai "Land of Love," pembaca juga dapat merasakan perasaan penulis tentang waktu dan zaman, tentang aliran waktu yang tak terbalikkan. Setiap esai, meskipun menggambarkan momen yang berbeda, pada akhirnya memperjelas kecemasan dan penyesalan subjek tentang waktu: "Waktu mengalir seperti sungai yang tenang, tepiannya terus terkikis dan terbentuk. Kehidupan manusia juga berubah berkali-kali seiring waktu."
Mengikuti alur tersebut, penulis mengungkapkan penyesalan atas perubahan zaman, aspek negatif pembangunan yang menyebabkan banyak nilai-nilai lama tanah air dan desa memudar. Di balik setiap cerita dalam esai tersebut terdapat periode refleksi dan kontemplasi yang panjang. Hal ini memungkinkan pembaca untuk terlibat dalam dialog dengan penulis, untuk menemukan akar yang dalam, dan kemudian membangkitkan dalam diri mereka pemikiran-pemikiran mulia. “Mobil-mobil melaju kencang melintasi jembatan-jembatan baru yang membentang di atas sungai dan kanal. Penyeberangan feri semakin sepi, dan tak lama kemudian tak ada lagi yang terlihat mendayung.”
Ungkapan-ungkapan tulus ini bagaikan catatan harian yang jujur dari lubuk hati. Para pembaca mengenali, jauh di dalam renungan-renungan ini, kasih sayang seseorang dari pedesaan terhadap tanah air dan keluarganya. Hadir di setiap halaman adalah gambaran orang-orang dari masa lalu, mereka yang melahirkan subjek tersebut dan memberikan kenangan terindah dalam hidup mereka.
Sang ibu, dengan emosi yang tulus, selalu memancarkan kehangatan seperti matahari. Sang ayah, seorang pengembara pendiam dari masa lalu, adalah seorang pedagang keliling. Tanah kelahiran ibu yang tercinta terjalin dengan irama lembut perahu-perahu kecil yang mendayung di atas air. Perasaan penulis pun terungkap secara otentik, namun sangat menyentuh. Kisah dalam buku ini pun diperluas cakupannya, menjadi suara bersama banyak orang, mereka yang menghargai tanah kelahiran pedesaan yang sederhana namun penuh nostalgia.
Hal-hal sederhana yang disarikan dari kenangan nostalgia penulis Tran Thi Thuy Linh dalam "Land of Love" telah sampai kepada pembaca dengan tulus. Kenangan masa kecil penulis, yang digambarkan dengan jelas dalam 27 esai, menenangkan jiwa pembaca, memungkinkan setiap orang untuk berhenti sejenak di tengah hiruk pikuk kehidupan, sehingga dapat menghargai masa kini dengan lebih dalam. Sekali lagi, buku ini secara mendalam menegaskan nilai kenangan, bahwa dalam keadaan apa pun, kenangan selalu menjadi sumber cinta dan nilai-nilai sejati dalam hidup.
TRAN NGOC
Sumber: https://baodanang.vn/channel/5433/202503/mach-nguon-yeu-thuong-4002883/






Komentar (0)