Vietnam.vn - Nền tảng quảng bá Việt Nam

Sumur desa yang sejuk dan menyegarkan - Surat Kabar Online Quang Binh

Việt NamViệt Nam12/04/2025


(QBĐT) - Masa kecilku terjalin dengan sore-sore musim panas yang cerah, dengan layang-layang yang melayang di atas ladang desa, dan terutama dengan sumur sejuk dan menyegarkan yang terletak di bawah pohon beringin kuno di tepi dusun. Sumur desa—dua kata penuh kasih sayang itu—menyimpan seluruh alam kenangan lembut, melestarikan jiwa pedesaan, tempat yang penuh dengan kenangan masa kecilku.

Di kampung halaman saya, hampir setiap desa memiliki setidaknya satu sumur umum. Sumur-sumur itu biasanya terletak di pinggir desa, tempat sumber air tanah yang jernih mengalir tanpa henti. Di sekitar sumur terdapat batu-batu lapuk, deretan pohon pinang yang menaungi, dan bambu yang berdesir tertiup angin. Setiap kali saya mendekati sumur, saya merasakan kedamaian yang luar biasa, seolah-olah saya menyentuh napas bumi dan langit, dari masa-masa damai yang telah lama berlalu.

Sumur desa bukan hanya sumber air, tetapi juga saksi bisu generasi demi generasi. Ia bercerita bahwa di masa lalu, kakeknya dan para pemuda desa menggali sumur tersebut, menggunakan batu bata laterit yang kokoh untuk memastikan air tidak akan terkikis. Di dasar sumur, air meresap melalui celah-celah bebatuan, menembus tanah yang subur, menjadi manis dan murni. Pada masa itu, sumur adalah tempat orang-orang datang untuk mengambil air, mencuci pakaian, dan mengobrol tentang urusan desa.

Foto sebuah sumur desa. Sumber: Internet
Sumur desa. Sumber: Internet

Aku masih ingat dengan jelas hari-hari musim panas yang terik itu, ketika matahari yang menyengat terik menyinari tanah yang kering dan retak. Setiap siang, kami anak-anak dengan gembira saling memanggil untuk pergi ke sumur. Beberapa berlari tanpa alas kaki di jalan tanah, yang lain mengenakan topi kerucut bertepi lebar milik ibu mereka, mengipas-ngipas diri dengan kipas daun palem sambil berjalan. Sensasi mencelupkan tangan kecil kami ke dalam air yang sejuk dan menyegarkan, lalu mengambil tetesan air jernih dan mengoleskannya ke wajah dan leher kami, seolah menenangkan tubuh kami di tengah panas terik hari musim panas.

Setiap pagi, ibuku pergi ke sumur pagi-pagi sekali, menurunkan ember bambu ke dalamnya lalu mengambil air untuk dituangkan ke dalam kendi tanah liat. Air sumur itu jernih sekali, memantulkan lumut yang menempel di sisi kendi. Ibuku berkata bahwa air sumur di desa kami tidak hanya bersih tetapi juga lebih manis daripada air lainnya. Mungkin itulah sebabnya teh hijau yang diseduhnya dengan air sumur selalu memiliki aroma yang kaya, dan meminumnya membuatmu merasakan kemurnian dari Ibu Pertiwi. Kemudian, pada hari-hari musim dingin yang dingin, kabut putih tebal menyelimuti jalan desa. Tangan kecilku gemetar saat aku mengambil air untuk mencuci muka. Dingin yang menusuk meresap ke ujung jariku, tetapi anehnya, itu membawa perasaan segar dan waspada yang tidak biasa.

Sumur desa bukan hanya sumber air, tetapi juga tempat yang menghubungkan orang-orang, di mana semangat kebersamaan dipupuk dengan setiap ember air yang diambil. Setiap sore, para wanita desa berkumpul di sekitar sumur, mencuci pakaian dan mengobrol dengan riang. Terkadang, obrolan mereka tentang hal-hal sepele seperti apa yang akan dimasak untuk makan malam, keluhan tentang panen, atau lelucon cerdas tentang seorang anak nakal yang memanjat pohon dan dimarahi oleh ibunya.

Suatu pagi, nenekku akan membawaku ke sumur, mencuci daun sayur sambil mengingatkanku, "Anakku, kamu sudah dewasa sekarang. Kamu harus belajar menghargai air bersih dan menjaga sumur desa. Kita punya sumur sendiri, tetapi kita tetap harus bekerja sama untuk memelihara sumur bersama bagi seluruh lingkungan." Aku mendengarkan, tanpa sepenuhnya memahami maksudnya. Aku hanya tahu bahwa sumur itu adalah sesuatu yang sangat penting, sangat sakral. Nasihat nenekku, dan cerita-cerita yang diceritakan ibuku tentang sumur desa, secara bertahap meresap ke dalam jiwaku selama bertahun-tahun.

Seiring berjalannya waktu, sumur desa tidak lagi memainkan peran sentral dalam kehidupan masyarakat seperti dulu. Setiap rumah tangga kini memiliki sumur bor dan pompa air modern. Air dari sumur desa bukan lagi satu-satunya sumber air untuk kehidupan sehari-hari, tetapi bagi kita yang telah meninggalkan kampung halaman, sumur itu tetap menjadi simbol kenangan, tempat yang berharga yang tak akan pernah pudar.

Setiap kali saya kembali ke kampung halaman, saya selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi sumur tua itu. Dinding sumur kini tertutup lumut, dan batu-batu di sekitarnya menunjukkan tanda-tanda waktu. Di dasar sumur, airnya tetap jernih seperti biasa, memantulkan sinar matahari yang berkilauan. Saya duduk tenang di tepi sumur, merasakan angin sejuk, seolah mendengarkan sumur itu menceritakan kisah-kisah lamanya.

Suatu ketika, saya bertanya kepada nenek saya, "Mengapa Nenek masih lebih suka menggunakan sumur desa meskipun kita punya sumur sendiri?" Beliau tersenyum, matanya lembut, dan menjawab, "Air sumur desa memiliki rasa seperti di rumah, Nak!" Kata-kata itu tetap terpatri dalam ingatan saya selama bertahun-tahun. Sumur desa bukan hanya sumber air, tetapi juga bagian dari jiwa desa, dari nilai-nilai tradisional yang telah dilestarikan leluhur kita dari generasi ke generasi. Betapapun modernnya kehidupan berubah, saya percaya bahwa jauh di lubuk hati setiap orang yang jauh dari rumah, gambaran sumur desa tetap utuh, simbol kesejukan, kasih sayang, dan hari-hari masa kecil yang damai dan tak terlupakan.

Sumur desa—tempat air murni mengalir tanpa henti, seperti halnya aliran kenangan yang tak pernah kering di hati mereka yang jauh dari rumah.

Tuong Lai



Sumber: https://www.baoquangbinh.vn/van-hoa/202504/mat-lanh-gieng-que-2225567/

Komentar (0)

Silakan tinggalkan komentar untuk berbagi perasaan Anda!

Dalam topik yang sama

Dalam kategori yang sama

Dari penulis yang sama

Warisan

Angka

Bisnis

Berita Terkini

Sistem Politik

Lokal

Produk

Happy Vietnam
Suasana siang yang tenang di Laguna Nai

Suasana siang yang tenang di Laguna Nai

Di depan patung Presiden Ho Chi Minh – Bangga akan 80 tahun

Di depan patung Presiden Ho Chi Minh – Bangga akan 80 tahun

Sumber energi bersih

Sumber energi bersih