Pilar spiritual bagi rakyat Vietnam.
Vietnam memiliki lebih dari 18.000 kuil dan biara di seluruh negeri dan sekitar 14 juta pengikut Buddha. Di negara kami, Buddhisme adalah agama dengan jumlah pengikut terbanyak, yang terkait erat dengan bangsa ini sepanjang sejarahnya yang panjang.
Setiap tahun, saat bunga Ashoka mekar dan musim panas tiba, umat Buddha di seluruh dunia dengan penuh hormat merayakan hari kelahiran Buddha. Lebih dari 2.500 tahun yang lalu, beliau muncul di tengah dunia yang penuh kecemasan dan penderitaan untuk menunjukkan kepada umat manusia jalan menuju transformasi batin dan membangun kebahagiaan dari dalam.

Dalam suasana khidmat musim perayaan hari kelahiran Buddha, pemandangan bendera warna-warni dan bunga-bunga di depan gerbang kuil, denting lonceng di sore hari, dan arus orang-orang yang dengan hormat mempersembahkan dupa dan berdoa kepada Buddha... telah menjadi ciri khas indah yang familiar dalam kehidupan spiritual dan budaya masyarakat Vietnam.
Mengenai pengaruh filsafat Buddha dan peran kuil dalam kehidupan masyarakat, cendekiawan Konfusianisme Le Quat, dalam Kitab Sejarah Lengkap Dai Viet, berseru: "Bagaimana mungkin Buddhisme menggunakan kemalangan dan keberuntungan untuk menggerakkan hati orang dan memperoleh keyakinan yang begitu dalam dan abadi! Dari raja dan pangeran hingga rakyat jelata, setiap orang yang menyumbang untuk Buddhisme, bahkan jika itu berarti memberikan semua uang mereka, tidak ragu-ragu... Di mana pun ada orang, di situ ada kuil Buddha; ditinggalkan lalu dibangun kembali, rusak lalu diperbaiki, istana, lonceng, dan genderangnya menempati setengah ruang dibandingkan dengan jumlah penduduk."
"Saat memasuki kuil, pikiran menjadi tenang, langkah tidak terburu-buru, sukacita dalam kesadaran penuh, kebahagiaan sungguh lembut."
Kuil memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat sepanjang hidup mereka, berfungsi sebagai simbol komunitas dan jangkar spiritual yang kokoh bagi generasi demi generasi. Dalam kehidupan masyarakat Vietnam, Buddhisme tidak hanya hadir melalui atap kuil, lonceng, atau ritual, tetapi juga meresap ke dalam cara berpikir, hidup, dan semangat welas asih masyarakat.
Buddhisme diperkenalkan ke Vietnam melalui kehidupan masyarakat; oleh karena itu, di mana pun ada manusia, di situ ada kuil, dan kuil telah menjadi lembaga budaya yang sangat penting. Di bawah atap kuil, umat Buddha diajarkan untuk "meninggalkan kejahatan dan berbuat baik," berbakti kepada orang tua, dan berbagi serta membantu kaum miskin... Inilah landasan moral paling mendasar untuk ingin menjadi orang yang berbudi luhur.

Melalui festival-festival Buddha seperti Hari Ulang Tahun Buddha, Festival Vu Lan, dan upacara-upacara doa lainnya, kuil ini secara diam-diam menjaga api spiritualitas masyarakat desa tetap menyala, memupuk welas asih, toleransi, dan cara hidup yang berbudi luhur. Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya berkontribusi pada pelestarian nilai-nilai budaya tradisional tetapi juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk terhubung dengan kuil. Kuil ini juga memperkuat ikatan komunitas, melestarikan tradisi desa dan keluarga. Kasih sayang antara masyarakat dan kuil semakin kuat setiap tahunnya…
Perjalanan kembali menuju kebaikan
Kuil ini bukan hanya tempat suci tetapi juga sekolah – tempat ajaran Buddha meresap ke dalam setiap orang, membimbing mereka di jalan menuju pencerahan, membantu setiap individu menemukan kedamaian batin, dan berkontribusi dalam membangun masyarakat yang bermoral dan beradab.
Berbicara tentang perayaan ulang tahun Buddha, almarhum Yang Mulia Thich Pho Tue, Patriark Agung Ketiga dari Asosiasi Buddhis Vietnam, mengatakan: gambar Buddha bayi, dengan satu tangan menunjuk ke langit dan tangan lainnya ke bumi, dan ucapan "Di atas adalah Surga, di bawah adalah Bumi, di tengah adalah Aku," mengingatkan setiap orang untuk mengendalikan hidup dan karma mereka. Pikiran, ucapan, dan tindakan setiap orang akan menciptakan karma mereka sendiri sesuai dengan "hukum sebab dan akibat."

Musim perayaan Hari Lahir Buddha bukan hanya hari raya suci bagi umat Buddha, tetapi juga kesempatan bagi setiap orang untuk memperlambat langkah di tengah hiruk pikuk kehidupan, merenung ke dalam diri sendiri, menumbuhkan kebaikan, dan berupaya menuju nilai-nilai kemanusiaan yang indah.
Kita memiliki kesempatan untuk merenungkan diri, membersihkan diri dari ketidaksempurnaan, dan memupuk benih welas asih di dalam hati kita. Dari semangat ini, banyak kegiatan bermakna seperti membantu kaum miskin, membagikan hadiah amal, dan merawat mereka yang kesepian tersebar di seluruh masyarakat, menjadikan musim kelahiran Buddha sebagai musim cinta dan kebaikan. Semoga Buddha terlahir kembali dalam diri kita setiap hari.
Sumber: https://vietnamnet.vn/mua-phat-dan-ngam-ve-mai-chua-trong-tam-thuc-viet-2517032.html








Komentar (0)