
Sebuah kuil kuno di tengah samudra.
Terletak di tengah pegunungan dan laut Cu Lao Cham, Pagoda Hai Tang adalah salah satu landmark spiritual paling representatif dari pulau yang strategis ini di Vietnam Tengah.
Menurut catatan sejarah, kuil ini dibangun pada tahun 1758, pada masa pemerintahan Kaisar Canh Hung, oleh Guru Zen Huong Hai. Kemudian, pada generasi keempat murid, penduduk pulau tersebut menyumbangkan tenaga dan sumber daya mereka untuk menyelesaikan pembangunan dan menamakannya Hai Tang.
Setelah berdiri selama hampir tiga abad di tengah laut yang luas dan berangin, kuil kuno ini masih mempertahankan banyak ciri arsitektur khas Buddhisme Mahayana.
Kuil ini dibangun dengan gaya "aula depan, aula belakang", dengan atap yang dilapisi genteng yin-yang yang telah lapuk dimakan waktu. Gerbang lengkung tiga terdiri dari gerbang utama dan dua gerbang samping, mencerminkan arsitektur tradisional dengan atap genteng kuno. Menghubungkan gerbang lengkung tiga adalah tembok batu laterit yang mengelilingi halaman, menciptakan ruang yang terpencil dan tenang.
Saat memasuki gerbang kuil, pengunjung disambut oleh patung Bodhisattva Avalokiteshvara setinggi kurang lebih 3 meter, yang duduk di tengah kolam teratai kecil, menghadap Laut Timur. Bagi penduduk pulau, ini adalah simbol welas asih dan perlindungan, yang mewujudkan harapan mereka akan pelayaran yang aman di laut dan kehidupan yang sejahtera.

Keunikan lain dari Pagoda Hai Tang adalah lokasi geografisnya yang langka. Di depan pagoda terdapat sawah yang terletak di lembah kecil. Selama musim panen padi, seluruh area diselimuti warna keemasan yang cerah, aroma padi bercampur dengan semilir angin laut, menciptakan pemandangan damai yang jarang ditemukan di pulau terpencil.
Di dalam aula utama, pilar-pilar kayu besi besar menopang atap kuil, menciptakan kesan khidmat dan kuno. Bagian tengah didedikasikan untuk Tiga Buddha dan Guan Yu; bagian kanan untuk Zhou Chang dan Guan Ping; dan bagian kiri untuk Bodhisattva Ksitigarbha. Di kedua sisinya terdapat patung-patung dewa penjaga dan dewa naga, dan di belakangnya terdapat patung Bodhidharma.

Keunikan Pagoda Hai Tang terletak pada perpaduan antara Buddhisme dan kepercayaan rakyat. Selain koleksi patung Buddha, pagoda ini juga menyimpan altar yang didedikasikan untuk Kaisar Giok dan banyak dewa lainnya menurut kepercayaan rakyat.
Perpaduan filosofi "Tiga Agama dengan Asal yang Sama" mencerminkan kehidupan budaya yang khas dari komunitas pesisir, di mana kepercayaan dan kehidupan sehari-hari saling terkait erat.
Hingga hari ini, banyak patung di kuil tersebut masih mempertahankan hampir seluruh penampilan aslinya. Patung-patung tersebut semuanya terbuat dari kayu, dicat dan dilapisi emas, dan berusia lebih dari 250 tahun.
Selain itu, sistem lempengan horizontal, bait-bait puisi, dan balok kayu berukir rumit turut menambah nilai artistik dan historis kuil kuno tersebut.
Pagoda ini juga menyimpan sebuah lonceng khusus (lonceng perunggu besar) dengan pola bergaya Dinasti Le awal. Badan lonceng tersebut menampilkan gambar "dua naga menghadap matahari" yang diukir dengan rumit, dengan tubuh naga yang meliuk, sisik yang terangkat, dan janggut panjang yang lembut. Ini dianggap sebagai artefak langka dan berharga, yang memiliki nilai artistik dan historis yang besar.

Jangkar spiritual bagi penduduk pulau.
Tidak hanya terkenal karena arsitektur kunonya, Pagoda Hai Tang juga dikenal karena fitur-fitur langka dan uniknya: "Empat Larangan" - tidak ada kepala biara, tidak ada persembahan nazar, tidak ada listrik atau penerangan, dan tidak ada biksu yang tinggal di sana.
Sebelumnya, kuil ini dipimpin oleh Yang Mulia Thich Hai Tang. Setelah wafatnya Yang Mulia, pengelolaan dan perawatan kuil dipercayakan kepada pemerintah daerah. Meskipun tidak ada biksu atau biarawati yang tinggal di sana secara tetap, kuil ini tetap menjadi pusat kegiatan keagamaan yang penting bagi penduduk pulau tersebut.
Selama hari raya Buddha atau festival tradisional, Pagoda Hai Tang menjadi ramai dengan aktivitas. Orang-orang datang untuk menyalakan dupa, berdoa memohon cuaca yang baik, laut yang tenang, dan keberhasilan dalam memancing.

Setiap pagi, saat matahari terbit dari Laut Timur, lonceng-lonceng kuil berdentang di udara yang jernih. Suara ini berpadu dengan deburan ombak, angin, dan ritme damai penduduk pulau, menciptakan rasa ketenangan bagi siapa pun yang menginjakkan kaki di sini.
Pada tahun 2006, Pagoda Hai Tang, bersama dengan sistem situs bersejarah di Pulau Cham, diklasifikasikan sebagai Monumen Sejarah Nasional. Lebih dari sekadar struktur arsitektur, pagoda ini juga menyimpan banyak dokumen berharga tentang sejarah dan perkembangan masyarakat pulau tersebut.
Saat ini, situs tersebut telah didigitalisasi menggunakan teknologi VR360 dan model tur 3D. Penerapan teknologi ini membantu melestarikan arsitektur, artefak, dan ruang asli kuil, sekaligus memperluas aksesibilitas situs warisan budaya tersebut kepada khalayak yang lebih luas.
Xiao Yao
Sumber: https://vietnamnet.vn/ngoi-chua-4-khong-o-cu-lao-cham-2528229.html






