Tidur yang cukup meningkatkan produksi hormon seks wanita, seperti FSH, LH, dan estrogen, yang membantu pembentukan folikel ovarium dan ovulasi, mengatur fisiologi dan fungsi reproduksi wanita.
Menurut Dr. Hoang Quyet Tien dari Pusat Informasi Medis di Rumah Sakit Umum Tam Anh di Kota Ho Chi Minh, sintesis, sekresi, dan metabolisme hormon dalam tubuh biasanya disinkronkan dengan ritme sirkadian dan diatur oleh tidur. Gangguan tidur dapat menyebabkan gangguan pada sumbu hipotalamus-hipofisis-gonad, memengaruhi pelepasan hormon reproduksi yang tersinkronisasi dan berdampak negatif pada fisiologi dan kesehatan reproduksi wanita.
Tidur memengaruhi hormon FSH, yang merangsang perkembangan folikel dan produksi estrogen. Kadar FSH pada wanita usia reproduksi yang cukup tidur bisa hingga 20% lebih tinggi daripada mereka yang kurang tidur.
Tidur yang cukup juga membantu wanita menstabilkan hormon LH dan estradiol (hormon yang terlibat dalam fungsi reproduksi dan seksual pria dan wanita). LH mengatur ovulasi dan melepaskan progesteron setelah ovulasi. Estradiol mendorong pertumbuhan dan perkembangan folikel ovarium, ovulasi, dan pemeliharaan karakteristik wanita.
Tidur yang berkualitas bermanfaat bagi kesehatan wanita. Foto: Freepik
Menurut Dr. Tien, kualitas tidur juga memainkan peran penting dalam menstabilkan hormon glukokortikoid dan meningkatkan kesuburan pada wanita. Glukokortikoid secara tidak langsung memengaruhi fungsi ovarium dengan mengubah kadar gonadotropin (hormon metabolisme dan pertumbuhan) dan menghambat neuron kisspeptin (protein yang dapat menghambat gonad). Glukokortikoid juga mengatur banyak jalur pensinyalan dan proses biologis yang penting untuk kesuburan.
Melatonin, yang terutama diproduksi di kelenjar pineal, memiliki sifat antioksidan, mengatur hormon seks wanita progesteron, dan menstabilkan kualitas dan kuantitas sel telur. Tidur yang berkualitas bermanfaat untuk sekresi melatonin endogen.
Ketika wanita kurang tidur atau mengalami kualitas tidur yang buruk, kadar TSH (hormon perangsang tiroid) meningkat, yang menyebabkan peningkatan risiko anovulasi, menstruasi tidak teratur, amenore, dan keguguran berulang. Insomnia juga mengubah sekresi prolaktin (PRL) di malam hari, yang berkontribusi pada infertilitas dan kesulitan untuk hamil.
Dr. Tien menyarankan wanita untuk tidur dan bangun pada waktu yang tetap setiap hari, menghindari begadang, stres, dan penggunaan perangkat teknologi menjelang waktu tidur. Prioritaskan makanan yang menyehatkan darah dan menenangkan saraf, seperti teh chamomile, biji teratai, dan unggas. Hindari makan besar setelah pukul 7 malam, hindari minum banyak air menjelang waktu tidur, dan jangan mengonsumsi teh atau kopi kental setelah pukul 3 sore.
Penderita insomnia dapat meningkatkan kualitas tidur mereka dengan makanan yang bermanfaat menurut pengobatan tradisional Tiongkok, seperti bubur ayam dengan biji teratai, bubur telur ayam dan millet, serta sup manis biji teratai dan lengkeng. Menjaga rutinitas olahraga harian, dengan memprioritaskan olahraga ringan yang meningkatkan kualitas tidur, seperti berjalan kaki, latihan pernapasan, meditasi, peregangan punggung, mengangkat kaki ke dinding, pose bangau, dan pijat kepala dan wajah, juga dianjurkan.
Wanita dapat menggunakan ekstrak peningkat kualitas tidur seperti antosianin dan pterostilbene yang diekstrak dari blueberry Amerika Utara dan ekstrak dari ginkgo biloba untuk meningkatkan kualitas tidur. Lepidium meyenii (ekstrak herbal Amerika Selatan) dan P. leucotomos (ekstrak herbal Amerika Selatan Tengah) dapat meningkatkan aktivitas sumbu otak-hipofisis-ovarium, menstabilkan hormon wanita, meningkatkan kualitas tidur, dan memperbaiki fungsi seksual.
Nguyen Phuong
| Pembaca dapat mengajukan pertanyaan tentang gangguan neurologis di sini agar dijawab oleh dokter. |
Tautan sumber






Komentar (0)