Di malam hari, dia berjalan ke kamar tidur yang remang-remang, berbaring di tempat tidur, dan mengirim pesan singkat kepada suaminya: "Apakah kamu sudah mematikan lampu di bawah?" Sesaat kemudian, suaminya membalas: "Ya"... Pesan-pesan singkat inilah yang menjadi cara dia dan suaminya tetap terhubung ketika mereka tidak sedang berbaring di samping satu sama lain...
Dia tidak ingat persis kapan dia mulai merasa kelelahan karena kurang tidur. Dia sering terbangun pukul 3 pagi, dalam kegelapan pekat, satu-satunya yang bisa dia dengar dengan jelas adalah dengkuran konstan di sampingnya. Dia akan menyenggol suaminya dengan lembut, tetapi setelah beberapa saat, dengkuran itu akan berlanjut. Dia akan mengubah posisi, membalikkan badan, dan mencoba menahannya. Beberapa malam, dia akan melompat bangun karena frustrasi: "Kamu mendengkur sangat keras, aku tidak bisa tidur!" Suaminya akan bersikeras, "Aku tidak mendengkur!"
Kisah itu berulang terus-menerus. Hingga suatu malam, dia mengambil bantalnya dan tidur di kamar kecil itu. Seiring bertambahnya usia, dia semakin sulit tidur, dan dia tidak bisa terus-menerus terbangun setiap malam hanya karena "itu suamiku." Suatu malam tidur terpisah, lalu tiga malam, kemudian seminggu, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia tidur nyenyak.
Di malam hari, dia menyeduh secangkir teh herbal, meregangkan kakinya dengan nyaman di tempat tidur, membiarkan segala sesuatu di sekitarnya rileks. Tidak ada lagi rasa mudah tersinggung, tidak ada lagi kelelahan yang berkepanjangan hingga keesokan harinya.
Namun, keputusannya untuk tidur terpisah menciptakan masalah baru: siapa yang akan tidur di kamar tidur utama, dan siapa yang akan tidur di kamar tambahan yang lebih kecil? Kamar tidur itu adalah ruangan yang telah ia hias dengan sangat teliti, mulai dari seprai dan pencahayaan hingga hiasan dinding dan warna-warna menenangkan yang menciptakan suasana damai. Sementara itu, suaminya hanya ingin tidur di tempat tidurnya yang sudah biasa setelah perjalanan bisnis yang panjang. Keduanya memiliki alasan masing-masing, dan menemukan kompromi bukanlah hal yang mudah. Akhirnya, mereka memutuskan untuk bergantian tidur di kamar yang sama setiap dua minggu sekali.
Bulan-bulan berlalu, dan mereka menyadari bahwa tidur terpisah tidak membuat mereka semakin jauh; sebaliknya, mereka menjadi kurang mudah tersinggung, kurang lelah, dan memiliki lebih sedikit konflik kecil yang sering kali berasal dari… kurang tidur.
Dia masih mengatakan bahwa dia merindukannya, terkadang menatapnya dengan tatapan setengah bercanda, setengah sedih setiap malam ketika mereka "pergi ke kamar masing-masing." Tetapi mereka berdua mengakui bahwa tidur nyenyak semalaman membuat mereka merasa lebih nyaman satu sama lain. Akibatnya, mereka memiliki percakapan yang lebih santai di pagi hari.
Banyak orang terkejut, bahkan skeptis, ketika mendengar ceritanya. Tidur terpisah tidak selalu merupakan tanda putus hubungan. "Kami masih saling mencintai, kami masih sedekat sebelumnya, kami hanya tidak tidur di ranjang yang sama," katanya.
Sebagai seorang ibu dari dua anak usia sekolah, dia memahami dampak buruk kurang tidur. Terkadang, hanya satu malam tanpa tidur saja sudah cukup membuatnya mudah tersinggung, tidak sabar, dan mudah jengkel bahkan oleh hal-hal terkecil sekalipun. Setelah bertahun-tahun mengalami malam-malam tanpa tidur merawat anak-anaknya, dan hari-hari yang panjang dan melelahkan, dia memutuskan untuk tidak lagi hidup dengan kurang tidur kronis.
Bagi keluarganya, tidur terpisah adalah perubahan yang diperlukan, memberi pasangan itu ruang untuk beristirahat, mengisi ulang energi, dan kembali bersama dalam keadaan yang lebih baik. Dan mereka bisa saling berkata: Kami baik-baik saja dan kami masih bahagia.
Sumber: https://phunuvietnam.vn/ngu-rieng-de-giu-hanh-phuc-23826060809371589.htm






