Melalui cerita-cerita pendek seperti "Penjaga Hibiscus," "Bunga Magnolia di Istana Tuan," "Laba-laba," "Malam di Ibu Kota," dan "Anggrek Salju Berkabut," tokoh-tokoh sejarah disajikan dengan perspektif yang cukup segar. Gaya penulisan Nguyệt Chu bersifat melamun dan halus; karakter-karakter seperti selir Điểm Bích, Lý Chiêu Hoàng, Trần Cảnh, dan guru Zen Huyền Quang diciptakan oleh penulis dengan sudut pandang humanistik, memungkinkan pembaca untuk menghidupkan kembali periode-periode sejarah yang mengesankan tersebut. "Penjaga Hibiscus" adalah cerita sejarah pertamanya, menandai tonggak penting dalam karier kepenulisannya, dan ia menggunakannya sebagai judul untuk seluruh koleksi.
Sebelum menulis "The Guardian of the Hibiscus," ia telah menulis cerita-cerita yang sangat dekat dengan kehidupan nyata, seperti cerita tentang pedesaan, tentang kota kecil tempat ia tinggal, tentang kaum muda dan kerinduan mereka akan transformasi dan penemuan diri di era nilai-nilai budaya yang bergejolak. Namun ia masih merasa belum menemukan arah yang tepat atau jati dirinya yang sebenarnya. Ada kalanya ia merasa bingung saat berjuang menemukan jalan yang paling cocok untuknya. Dan cerita pendek sejarah pertamanya membantunya menemukan arah baru.
Dalam cerita pendek "Bunga Magnolia di Istana Tuan," Selir Dang Thi Hue digambarkan sebagai wanita yang menyebabkan banyak kekacauan di istana, namun pada akhirnya tetap menjadi kecantikan yang rapuh dan tanpa harapan. Cerita pendek "Bunga Kamelia di Malam Hari" mengisahkan perasaan tulus yang dikirimkan oleh pelayan istana Diem Bich kepada Guru Zen Huyen Quang, yang terjalin dengan aroma bunga kamelia putih yang melayang. Kisah ini membangkitkan rasa duka, ambiguitas, keindahan, dan kesedihan. "Malam di Ibu Kota" menceritakan kisah cinta antara Putri Dau dan Kaisar Ly Thanh Tong, yang diselimuti kelopak anggrek dan mimpi tentang Selatan. Sebuah cinta yang agung dengan gaya narasi yang memikat. Seluruh kumpulan cerita ini memiliki gaya narasi yang halus, lembut, namun menyentuh hati.
Nguyệt Chu ingin terus menulis tentang keindahan dinasti-dinasti tersebut. Ada begitu banyak wanita cantik seperti halnya bunga, yang mencerminkan kerapuhan keindahan itu sendiri. Ia merasa berhutang budi dan menyesal karena belum menulis tentang mereka. Oleh karena itu, ia akan terus menulis cerita pendek, sekilas sejarah yang terukir dalam kehidupan para wanita.
(Kumpulan cerita pendek "Penjaga Bunga Hibiscus", Nguyet Chu, Penerbit Sastra, 2018).
Sumber: https://nhandan.vn/nguoi-canh-giu-phu-dung-post318017.html






Komentar (0)