Generasi muda memanfaatkan keindahan alam dan lanskap yang tersedia di Hue.

Ketika tugas sekolah diubah menjadi film.

"Sounds of Memory" adalah sebuah film – sebuah proyek yang baru saja diselesaikan oleh sekelompok mahasiswa di Hue. Film ini berkisah tentang seorang pemuda yang memiliki hasrat terhadap musik , tetapi menghadapi kekerasan dari keluarganya dan kekhawatiran hidup. Meskipun demikian, hasratnya tidak pernah pudar, tetapi diam-diam terpendam di dalam hatinya...

Bagi Huynh Ngoc Hieu, seorang mahasiswa tahun kedua di Jurusan Jurnalistik Universitas Sains , membuat film sebagai bagian dari ujian akhir membawa banyak emosi istimewa. “Ketika kami mengetahui tugasnya adalah membuat film, kami tidak bisa menyembunyikan kegembiraan dan antusiasme kami. Ini bukan hanya kesempatan untuk menerapkan keterampilan seperti penulisan skrip, pengambilan gambar, dan penyuntingan, tetapi juga kesempatan bagi seluruh kelompok untuk lebih mempererat ikatan,” ujar Hieu.

Bagi Hieu, proses pembuatan film bukan sekadar menyelesaikan proyek sekolah. Itu juga merupakan serangkaian pengalaman termasuk pertemuan kelompok yang panjang, sesi curah pendapat, hari-hari syuting di tengah hujan di Hue, dan tekanan untuk berpacu dengan waktu di tengah jadwal akademik yang padat di akhir semester.

Sementara itu, bagi Ngo Gia Huy, seorang siswa kelas 11 di Hue High School for Science, proyek film ini menghadirkan perasaan "kejutan, kegembiraan, dan keinginan kuat untuk segera melakukannya." Setelah mengenal dunia perfilman sejak kecil, Huy melihat ini sebagai kesempatan untuk belajar melalui pengalaman. Alih-alih "hanya menyelesaikan tugas," pembuatan film "memaksa saya untuk berpikir, merasakan, dan menceritakan sebuah kisah, bukan hanya mengulang pengetahuan," ungkap Huy.

Bagi Ngoc Hieu, sebagian besar anggota timnya berasal dari berbagai provinsi dan kota, sehingga pengambilan gambar di Hue merupakan cara untuk menjelajahi tempat mereka belajar sekaligus keinginan untuk menyebarkan keindahan kota tersebut. "Kami memilih tempat-tempat ikonik di Hue, bukan hanya untuk pengambilan gambar dari segi estetika, tetapi untuk menceritakan sebuah kisah dengan emosi anak muda," kata Hieu.

Bagi Gia Huy, Hue muncul melalui sudut pandang siswa sekolah menengah dengan cara yang "lebih mudah dipahami dan lebih bersemangat". "Saya ingin menggambarkan Hue yang sehari-hari dan muda, tidak sesuram seperti dalam buku. Setelah membuat film, saya menyadari bahwa Hue tidak 'berdiam diri' tetapi diam-diam bergerak," kata Huy.

Membuka jalan bagi cara belajar yang baru.

Di balik film-film sekolah ini terdapat dedikasi dan inovasi berani dari para guru. Ibu Nguyen Vu Thao Linh, seorang guru di SMA Sains Hue, mengatakan bahwa ide untuk memasukkan pembuatan film ke dalam tugas-tugas sekolah berawal dari keinginan untuk membuat pelajaran lebih menarik. “Dalam membimbing siswa melalui pembelajaran berbasis pengalaman dan kegiatan bimbingan karir, saya selalu mencoba menemukan kegiatan baru. Pembuatan film dan penyuntingan adalah keterampilan yang dibutuhkan saat ini, membantu siswa mengembangkan pemikiran kreatif dan kemampuan bercerita,” ujar Ibu Linh.

Menurut Ibu Linh, dibandingkan dengan metode penilaian tradisional, tugas pembuatan film membuat siswa lebih antusias karena mereka melihat produk nyata mereka, sekaligus mengembangkan keterampilan kerja tim, diskusi, dan pemecahan masalah. "Saya memperhatikan bahwa para siswa sangat proaktif dalam mengusulkan ide. Bahkan dalam debat, mereka mencoba menemukan titik temu untuk memastikan kualitas produk mereka," katanya.

Melalui proses pendampingan, Ibu Linh memperhatikan bahwa banyak keterampilan siswa terungkap dengan jelas: mulai dari penugasan tugas dan mendengarkan umpan balik hingga perspektif artistik yang tak terduga. Film-film siswa seringkali tidak megah, terkadang bahkan goyah, tetapi sangat tulus. Mereka menggunakan berbagai bahasa visual yang fleksibel seperti vlog, timelapse, teks bergulir, dan musik latar modern, sambil tetap mempertahankan esensi Hue.

Menurut Ibu Linh, Hue merupakan sumber belajar yang ideal karena kaya akan konteks, kaya akan cerita, dan mudah dihubungkan dengan banyak mata pelajaran. Pembuatan film membantu siswa tidak hanya "belajar di kelas" tetapi juga melakukan survei, pembuatan film, dan wawancara, sehingga menghubungkan pengetahuan dengan lingkungan kehidupan nyata. Hal ini membantu siswa lebih memahami kehidupan di sekitar mereka, orang-orang di sekitar mereka, dan nilai-nilai lokal.

Melampaui lingkup tugas kelas, film-film yang diproduksi dengan cermat oleh para pemuda ini berkontribusi dalam mempromosikan citra Hue dengan cara yang unik. Melalui perspektif yang muda dan mudah dipahami, Hue muncul tidak hanya sebagai situs warisan yang tenang tetapi juga sebagai ruang hidup yang dinamis dan kaya emosi yang bertransformasi seiring dengan kehidupan masa kini.

Teks dan foto: Pham Phuoc Chau

Sumber: https://huengaynay.vn/van-hoa-nghe-thuat/nguoi-tre-hoc-lam-phim-161689.html