
Masa kecilku dihabiskan di pedesaan Vietnam Utara, di mana hidangan sederhana dibuat dari butir beras asli tanah kelahiran kami. Dalam ingatanku, kue beras (bánh đúc) adalah suguhan yang paling familiar. Bukan sesuatu yang dibeli dari pasar, tetapi hidangan yang dibuat sendiri oleh ibuku setelah setiap panen. Aku ingat hari-hari ketika padi baru saja dipanen, halaman berbau jerami, dan ibuku sibuk menyiapkan kue beras. Saat itu, kehidupan masih penuh dengan kesulitan. Makanan kami sepanjang tahun sebagian besar terdiri dari sayuran, ikan air tawar, dan suguhan lain yang terbuat dari beras. Namun, setiap kali ibuku membuat kue beras, aku dan saudara-saudaraku akan dengan penuh antusias menantikan untuk menyantap makanan lezat yang langka itu.
Sejak pagi buta, ibuku akan mencuci beras, merendamnya dalam air, lalu menggilingnya. Penggiling akan berputar dengan mantap di bawah tangannya, yang kapalan karena bekerja di ladang. Nenekku selalu berkata bahwa membuat kue beras tampak sederhana, tetapi membuat kue beras yang lezat adalah rahasia yang diturunkan dari generasi ke generasi. Beras yang digunakan haruslah jenis yang lengket dan harum. Air kapur harus dicampur dengan tepat; terlalu banyak akan membuat kue beras berbau kapur yang kuat, terlalu sedikit akan membuat kue beras menjadi lembek dan kurang renyah.
Mungkin itulah sebabnya, setiap kali membuat kue beras, ibuku begitu teliti, seolah-olah mencurahkan seluruh keahlian dan kasih sayangnya ke dalamnya. Sepanci adonan putih buram diletakkan di atas api, dan ia terus mengaduknya dengan sumpit. Panasnya membuat wajahnya berkeringat. Aku dan saudara-saudaraku duduk di sekitar kompor, mata kami tertuju pada panci saat adonan perlahan mengental. Ketika kue-kue itu matang, ia menambahkan kacang tanah panggang yang harum, mencampurnya, dan menuangkannya ke dalam mangkuk atau saringan yang dilapisi daun pisang hijau. Aroma daun pisang bercampur dengan aroma beras segar memenuhi dapur kecil itu.
Kue beras buatan ibuku berwarna putih krem, lembut, halus, dan menyegarkan. Tapi yang membuatnya benar-benar istimewa adalah semangkuk kecap Bần yang diletakkan di sampingnya. Kecap itu terbuat dari kedelai dan beras ketan dari kampung halaman kami, yang difermentasi dengan hati-hati dalam guci tanah liat. Hanya dengan mencelupkan sepotong kue beras ke dalam kecap dan membawanya ke mulut sudah cukup untuk merasakan tekstur kue yang lembut dan dingin berpadu dengan rasa manis, gurih, dan kaya dari kecap tersebut. Itu adalah rasa yang hingga kini masih tak bisa kulupakan.
Selama masa pertumbuhan saya, saya bersekolah dan kemudian bekerja jauh dari rumah. Kehidupan modern membawa begitu banyak makanan baru dan menarik. Tetapi terkadang, di tengah hiruk pikuk kota, hanya dengan melihat sekeranjang kue beras di sudut pasar atau mencium aroma kecap yang familiar, hati saya dipenuhi nostalgia akan rumah. Saya ingat ibu saya membungkuk di dekat api. Saya ingat suara gemuruh penggilingan beras di sore hari musim panas. Saya ingat kami anak-anak menunggu kue-kue itu dingin agar kami bisa mencicipi gigitan pertama. Dan yang paling penting, saya ingat cinta tanpa kata yang ibu saya curahkan ke dalam setiap mangkuk kue.
Saat ini, kue beras hadir dalam berbagai variasi. Ada kue beras panas, kue beras dengan rebusan kepiting, kue beras isi daging... Setiap jenis memiliki cita rasa uniknya sendiri. Namun dalam ingatan saya, yang terbaik tetaplah kue beras putih lembut buatan ibu saya dari beras segar, yang dimakan dengan kecap asin Bần yang kaya rasa dan gurih. Ini bukan hanya sekadar hidangan, tetapi juga bagian dari masa kecil saya, bagian dari tanah kelahiran saya.
Ibu saya sekarang sudah tua. Kerutan dalam telah terbentuk di sekitar matanya, dan sebagian besar rambutnya telah beruban. Tetapi setiap kali anak-anak dan cucu-cucunya pulang, ia masih sibuk menyiapkan hidangan-hidangan familiar dari masa lalu. Dan di dapur kecil itu, sepanci kue beras buatannya masih mempertahankan cita rasa aslinya. Setiap kali saya menikmatinya, saya merasa seperti dibawa kembali ke masa kecil saya, kembali kepada ibu saya dan hari-hari paling damai dalam hidup saya. Ada cita rasa yang tidak hanya menyehatkan orang tetapi juga menghargai kenangan. Bagi saya, kue beras buatan ibu saya adalah salah satu cita rasa tersebut.
Sumber: https://baohungyen.vn/nho-thuong-banh-duc-3196711.html








