Penuh semangat, terburu-buru, menjalani hidup sepenuhnya sehingga ketika tahun-tahun berlalu, aku menengok ke belakang tanpa penyesalan. Aku tersenyum mengingat nilai-nilai dan pengalaman yang telah kurangkai. Seperti kata Xuan Dieu: "Lebih baik momen kejayaan yang tiba-tiba sirna / Daripada kilauan redup selama seratus tahun." Aku telah mendefinisikan gaya hidup modern ini untuk diriku sendiri, dan setelah merenung dalam-dalam, hal itu menanamkan dalam diriku keinginan untuk duduk dan merenung, meskipun hanya untuk beberapa saat...
| Gambar ilustrasi |
Aku telah menempuh perjalanan selama bertahun-tahun bersama diriku sendiri dan orang-orang di sekitarku. Di sepanjang jalan, aku membuka hatiku, menerima, memberi, bersikap toleran, dan memaafkan. Dan setelah momen-momen refleksi itulah aku duduk dan merenung dengan tenang. Saat itulah, secara ajaib, aku dengan lembut menyentuh hatiku sendiri, namun tindakan ini justru membangkitkan banyak pikiran dan emosi dalam diriku.
Di mana aku duduk dalam perjalanan itu? Aku bersandar pada banyak sekali pohon sepanjang hidupku; ketika aku lelah, aku mencarinya, menyandarkan bahuku yang ramping di atasnya, dan bercakap-cakap serta berbagi pikiran. Hijaunya cabang dan dedaunan yang tak terhitung jumlahnya menetesiku seperti tetesan embun yang berharga. Aku meregangkan kakiku dan menengadahkan kepalaku untuk menatap langit di balik dedaunan, mendengarkan kicauan burung yang damai. Aku mengagumi pepohonan, dan kemudian aku bahkan membandingkan diriku dengan sebuah pohon, menggunakannya sebagai panduan hidup.
Teruslah berpegang teguh pada akar Ibu Pertiwi, dan teruslah bangkit, tumbuh subur dan hijau, dengan tenang dan damai, menggunakan tindakan menaungi sebagai nilai untuk berkontribusi pada kehidupan yang indah. Aku juga duduk di halte bus di pinggir jalan di kota ini dan menatap pemandangan jalanan. Aku melihat keramaian yang sibuk, teriakan panjang yang menggema dari para pedagang kaki lima memenuhi lorong-lorong. Aku melihat dedaunan yang berguguran dengan tenang di tengah debu jalanan kota. Dan aku, aku duduk di mana pun aku bisa duduk: di atas bukit, di tepian alang-alang yang berdesir di sore hari musim dingin, di ladang, di sepetak rumput...
Pada saat itu, aku mendengar keheningan, suara hujan, suara waktu—tahun-tahun yang telah berlalu dalam hidup ini, kini terkondensasi menjadi endapan. Mungkin, dengan demikian, jalan kita akan menjadi lebih luas, lebih bermakna, dan lebih mudah dipahami?
Di saat-saat refleksi yang tenang itu, aku benar-benar membenamkan diri dalam keheningan. Keheningan ini tidak mengikis energiku; sebaliknya, ia bertindak sebagai katalis, memelihara ketenangan batinku. Ia memungkinkanku untuk melepaskan potensi penuhku, untuk lebih memahami diriku sendiri, dan untuk memahami dunia yang tak terbatas dan misterius yang sering kali kumainkan, seperti seorang aktor yang dipaksa untuk memerankan banyak karakter. Kakiku sakit, jadi aku melepas sepatuku dan menatapnya dengan saksama. Aku mencintai sepatuku; mereka adalah temanku di setiap perjalanan. Mereka pasti senang telah melakukan perjalanan denganku melalui begitu banyak negeri.
Di saat-saat refleksi itu, aku tersesat dalam labirin emosi. Aku bahagia telah bertemu, menjalin ikatan, dan menyimpan kenangan indah di benakku. Aku merasakan sedikit kesedihan atas sifat waktu yang cepat berlalu. Aku merasa lebih sedih lagi atas rasa sakit dan kehilangan yang telah kusaksikan. Aku menyesali rencana yang belum selesai, hal-hal yang belum sepenuhnya kusadari di sana. Aku merasa kecewa dengan keinginan tulus yang belum terpenuhi. Setiap tahap kehidupan yang kualami mencerminkan spektrum emosi yang berbeda. Dan kemudian, hatiku menjadi seperti lukisan warna-warni, membuatku semakin peka terhadap kehidupan.
Duduk diam memungkinkan saya untuk melambat bersama waktu, bersama diri saya sendiri. Setelah kelambatan itu, saya lebih mencintai diri sendiri, dan cinta diri sejati adalah kunci kebahagiaan. Karena itu, saya tahu bagaimana merawat dan mengembangkan diri untuk menjadi semakin sempurna. Rasanya seperti jeda yang tenang dalam sebuah musik, ruang kosong dalam sebuah puisi, kilatan cahaya yang indah dan sunyi.
Kehidupan indah ini terus terbentang hari demi hari, dan suka atau tidak suka, saya tidak dapat memisahkan diri dari aspek-aspek yang berlawanan dalam satu kesatuan. Kehidupan itu sendiri pun sama; pasti ada saat-saat tenang, hening, damai, kenikmatan, kesadaran diri, menghargai hidup lebih dalam, dan tentu saja, dari situ, menjalani hidup dengan lebih penuh semangat...
Sumber: https://baodanang.vn/channel/5433/202504/nhung-phut-giay-ngoi-lai-4003521/






Komentar (0)