Bagi Gia Nghi, momen yang paling berkesan adalah malam tanggal 24 November – malam ketika seluruh tim relawan begadang menunggu truk untuk mengambil persediaan. “Semua orang lelah, tetapi kami tetap tersenyum dan mengobrol. Malam itu, seluruh kelompok bernyanyi dengan lantang di halaman sekolah, menyanyikan lagu-lagu seperti 'Lagu Persatuan Pemuda,' 'Lagu Asosiasi,' 'Bergandengan Tangan,' dan 'Maju Terus…'. Pada saat-saat ketika kami merasa benar-benar kelelahan, nyanyian itu membuat semua orang tetap waspada dan terhubung.” Itulah momen yang menurut Nghi tidak akan pernah ia lupakan.
Setelah berhari-hari bekerja tanpa henti, yang tersisa di benak Nghi bukanlah kelelahan, melainkan kebanggaan. "Saya bangga dengan teman-teman saya, guru-guru saya, dan rakyat saya. Di hari-hari biasa, mereka hanyalah orang-orang sederhana, tetapi ketika rekan-rekan sebangsa kita menghadapi kesulitan, mereka semua tampak bersatu, bekerja menuju satu tujuan: membantu rakyat kita mengatasi kesulitan."
Nghi bahkan lebih percaya pada generasi mahasiswa saat ini – anak muda yang tidak hanya kompeten secara profesional tetapi juga berhati besar, siap mengabdikan diri ketika negara membutuhkan mereka. "Mahasiswa ilmu alam tidak hanya mahir di laboratorium. Ketika negara membutuhkan mereka, mereka adalah kekuatan yang lebih dapat diandalkan daripada sebelumnya," kata Nghi dengan bangga.
Menyebarkan semangat berbagi

Ibu Dang Thi Cam Thuy (kedua dari kanan) menerima barang sumbangan.
Sepanjang 11 tahun berkarier di bidang pendidikan, Ibu Dang Thi Cam Thuy, Kepala Tim Profesional dan guru kelas TK usia 5-6 tahun di TK Tan Tru Town (Komune Tan Tru), selalu berdedikasi kepada anak-anak dan bertanggung jawab kepada masyarakat. Setiap kali ada kegiatan untuk kepentingan masyarakat, Ibu Thuy selalu berada di garis depan, secara proaktif menyebarkan semangat berbagi.
Menyaksikan gambar-gambar dahsyat badai dan banjir di Dataran Tinggi Tengah dan Vietnam Tengah, emosi awal Thuy adalah empati yang mendalam, terutama untuk anak-anak dan para lansia. Sebagai Sekretaris Serikat Pemuda, ia memahami bahwa upaya kolektif kaum muda adalah tanggung jawab yang sangat penting.
“Persatuan Pemuda harus menjadi kekuatan utama, memimpin untuk menginspirasi orang lain,” ujar Ibu Thuy. Lebih dari sekadar semangat kesukarelawanan, kegiatan penggalangan dana ini juga memiliki makna pendidikan yang sangat besar. Baginya, sebagai guru prasekolah, menanamkan pelajaran tentang kasih sayang kepada anak-anak sejak usia dini sangatlah penting. “Ini adalah pelajaran yang nyata tentang semangat ‘saling mendukung dan berbelas kasih,’ dan bahwa kita selalu siap membantu satu sama lain mengatasi kesulitan,” katanya.
Begitu ide itu muncul, Ibu Thuy menyampaikannya kepada Komite Eksekutif Serikat Pemuda dan melaporkannya kepada Dewan Direksi sekolah. Setelah mencapai konsensus, Serikat Pemuda segera menyusun surat terbuka untuk dikirim kepada semua guru, staf, dan orang tua melalui saluran komunikasi sekolah seperti grup Zalo, Facebook, dan buletin kelas.
Kampanye ini diluncurkan hanya dalam 5 hari, dengan fokus pada kebutuhan pokok seperti: makanan kering termasuk mi instan, beras, air minum, dan susu; obat-obatan dasar seperti obat flu, obat sakit perut, dan larutan antiseptik; dan barang-barang pribadi seperti pakaian yang layak pakai, selimut, dan senter.
Para anggota serikat pemuda sekolah ditugaskan untuk menerima dan mencatat daftar donatur secara teliti. Setelah disortir, barang-barang dikemas dengan aman dalam kotak dan diberi label dengan jelas menggunakan frasa seperti "Pakaian anak prasekolah," "Makanan kering," dan lain-lain. Karena jumlah dan ukuran barang yang besar, serikat pemuda secara proaktif menghubungi penyedia transportasi. Semua barang dikumpulkan di kelompok amal Perusahaan Pengolahan Kayu Tan Thanh (komune Nhut Tao), kemudian dipindahkan ke truk besar untuk diangkut ke Phu Yen – tempat penduduk setempat sangat membutuhkan bantuan.
Menurut Ibu Thuy, keuntungan terbesar adalah semangat proaktif para anggota serikat pekerja. Setelah hanya satu malam perencanaan, semua tugas mulai dari meluncurkan inisiatif hingga penyortiran berjalan lancar. Sekolah juga dengan cepat mengatur area lobi yang luas sebagai titik pengumpulan barang, sehingga menghemat waktu dalam penyortiran. Namun, masih ada beberapa kesulitan.
"Jumlah pakaian yang dikembalikan sangat banyak. Kami harus memeriksa setiap barang untuk memastikan bahwa orang-orang menerima barang yang dalam kondisi baik dan siap pakai," kata Ibu Thuy. Proses penyortiran berdasarkan usia dan jenis kelamin membutuhkan banyak tenaga kerja dan perhatian yang cermat terhadap detail. Terlepas dari kerja kerasnya, upaya kolektif tim telah membantu semuanya berjalan lancar, sesuai jadwal, dan aman.
Di akhir "kampanye" ini, yang paling diinginkan Ibu Thuy bukanlah hanya agar paket-paket tersebut sampai ke tempat yang tepat pada waktu yang tepat, tetapi juga agar nilai-nilai kemanusiaan tersebar luas. Ibu Thuy berbagi: "Saya ingin menyampaikan tiga pesan: Kepada para korban banjir: 'Kalian tidak sendirian. Kami selalu memikirkan kalian dan berharap kalian segera mengatasi kesulitan'; kepada kaum muda: 'Kaum muda harus menjadi kekuatan pelopor, berani bertindak dan siap berbagi ketika masyarakat membutuhkan mereka'; kepada generasi muda: 'Kasih sayang harus ditanamkan sejak dini. Anak-anak belajar melalui tindakan praktis, dan kami ingin mereka tumbuh dengan jiwa yang indah, mengetahui bagaimana mencintai dan bertanggung jawab.'"
Bagi Ibu Thuy, setiap kegiatan amal bukan hanya tentang memberi, tetapi juga cara untuk menumbuhkan nilai-nilai kehidupan yang baik - dari dirinya sendiri, dari rekan kerja, orang tua, dan terutama dari generasi penerus negara.
Tindakan terpuji Gia Nghi dan Ibu Thuy tidak hanya memberikan bantuan tepat waktu kepada korban banjir, tetapi juga menyampaikan pesan mendalam tentang solidaritas, tanggung jawab, dan kasih sayang.
An Nhien
Sumber: https://baolongan.vn/nhung-trai-tim-vi-cong-dong-a207582.html








Komentar (0)