1. Beberapa dekade lalu, bagi banyak pembaca yang lebih tua, ada masa yang tak terlupakan dalam kehidupan sastra. Itu adalah perasaan menantikan dengan penuh antusias setiap karya sastra yang diterbitkan, mulai dari sastra Rusia seperti: *Quiet Flows the Don*, *War and Peace* , *How the Steel Was Tempered*… hingga sastra Prancis seperti: *Notre Dame de Paris*, *Les Misérables*… atau karya-karya yang meninggalkan jejak mendalam dalam sastra Vietnam seperti *A Bygone Era*, *Escape from Con Dao*…
Ada pembaca yang rela berhemat dan menabung dari pengeluaran mereka yang sedikit untuk membeli buku. Bagi mereka, buku bagaikan teman curhat, sumber nutrisi intelektual yang mewah dan tak tergantikan. Banyak karya menjadi "buku pengantar tidur," memberikan sayap pada mimpi, pikiran, dan membimbing hidup mereka.
Pada tahun 2000-an, dengan seri-seri yang menjadi fenomena penerbitan global seperti Harry Potter dan The Tibetan Code, para pembaca masih dengan antusias menantikan seri selanjutnya.
Namun dewasa ini, dengan perkembangan pesat di banyak aspek ekonomi dan masyarakat, orang jarang harus menunggu buku diterbitkan. Buku, cerita, dan novel tersedia dengan mudah di rak-rak toko, dengan kertas yang indah dan sampul yang menarik, seperti hidangan lezat yang disajikan di meja perjamuan. Sayangnya, tidak semua orang ingin "mengambilnya."

Yang perlu diperhatikan, dihadapkan pada daya tarik teknologi yang tak tertahankan, pembaca muda dan anak-anak semakin menjauhkan diri dari buku. Ketenangan dari teman yang damai ini terasa terlalu membosankan dibandingkan dengan gambar-gambar berwarna yang terus bergerak di layar televisi, tablet, atau permainan yang selalu diperbarui dan memikat.
Beberapa keluarga menyadari nilai buku yang sangat besar dan mendorong anak-anak mereka untuk membaca melalui aturan-aturan seperti memberi mereka waktu tambahan untuk bermain game, menonton YouTube, atau bahkan hadiah uang. Namun, pendekatan untuk mendorong membaca ini juga menimbulkan kekhawatiran tentang "tawar-menawar" pengetahuan, karena motivasi anak-anak untuk mencari buku tidak berasal dari kecintaan dan apresiasi yang tulus terhadap buku tersebut.
2. Hal yang menonjol dari program pengenalan penulis dan karya yang baru-baru ini diselenggarakan oleh Asosiasi Sastra dan Seni Provinsi di SMA Phan Boi Chau (Kota Pleiku) adalah pertukaran yang tulus dan menginspirasi antara 11 penulis dan sejumlah besar siswa SMA di kota tersebut. Ini adalah kesempatan untuk "mendekatkan" penulis, karya mereka, dan pembaca muda, membantu mereka memperluas pengetahuan mereka tentang sastra dan seni di wilayah tempat mereka tinggal.
Secara khusus, sambutan pembuka oleh Seniman Berjasa Dang Cong Hung, Wakil Ketua Asosiasi Sastra dan Seni Provinsi, memicu banyak refleksi. Beliau menyatakan: Di era digital saat ini, di mana gambar dan suara dapat diciptakan menggunakan algoritma, sastra tetap menjadi ranah yang sakral dan tak tergantikan.
Karena hanya di sanalah emosi sejati, pengalaman pribadi, dan kedalaman pemikiran manusia dapat benar-benar hidup—semuanya tidak dapat diprogram atau ditiru.

"Saat membaca buku, bacalah dengan hati. Karena di dalamnya terdapat keringat, air mata, aspirasi hidup, dan cinta dari mereka yang telah mengalaminya. Bacalah untuk melihat diri sendiri, untuk memahami orang lain, dan untuk menjalani hidup yang lebih manusiawi."
Tidak semua orang yang membaca akan menjadi penulis, tetapi mereka yang tahu cara membaca dengan benar akan menjadi individu yang lebih mendalam, lebih bebas dalam berpikir, dan lebih tulus dalam cinta mereka.
Kita mungkin mahir dalam sains dan teknologi, tetapi jika kita kekurangan kemampuan untuk menghargai keindahan, kasih sayang, dan kedalaman jiwa, kita bukanlah manusia yang benar-benar utuh. Sastra mengajarkan kita untuk merasakan. Merasakan sebelum memahami, merasakan agar kita tahu bagaimana hidup dengan layak dan mencintai kehidupan ini," demikian disampaikan oleh Wakil Ketua yang bertanggung jawab atas Asosiasi Sastra dan Seni Provinsi, menyampaikan pemikiran yang sangat mendalam ini.
Dari perspektif tersebut, Seniman Berprestasi Dang Cong Hung menegaskan: Asosiasi Sastra dan Seni Provinsi berkomitmen untuk terus mendukung penulis, sekolah, dan generasi muda agar sastra tidak hanya ada di rak buku tetapi juga hidup dengan penuh semangat dalam setiap pemikiran, setiap tindakan, dan setiap impian kaum muda.
Pengetahuan dari buku tidak lagi terbatas pada halaman-halaman buku. Untuk memenuhi kebutuhan pembaca muda yang lebih menyukai kemudahan, e-book dan buku audio telah muncul. Budaya membaca berkembang dalam berbagai cara, menawarkan beragam pilihan bagi pembaca untuk mengalami, memperoleh pengetahuan, memperluas pemikiran mereka, dan memperkaya emosi mereka.
Yang terpenting adalah mengatakan hal-hal yang akan menanamkan kecintaan pada buku di benak anak-anak muda, seperti air yang perlahan meresap ke dalam tanah—secara alami, tanpa usaha paksa, menjadi warisan sadar dari kebiasaan yang bermanfaat. Mungkin yang lebih penting daripada kata-kata apa pun, orang tua harus rileks, duduk, dan memilih buku yang bagus untuk dibaca bersama anak-anak mereka setiap malam. Itulah cara terhangat untuk menemani mereka.
Sumber: https://baogialai.com.vn/noi-gi-voi-ban-doc-tre-post323313.html






Komentar (0)