![]() |
Lukisan Vision After the Sermon dilukis oleh Paul Gauguin pada tahun 1888. Foto : Wikipedia. |
Ilusi setelah kuliah
Di Pont-Aven, hidup di tengah komunitas seniman yang kemudian dikenal sebagai sebuah aliran, Gauguin menemukan kepekaan estetiknya yang baru.
Gaya ini dapat disebut Sintetis atau Partisi, yang dicirikan oleh permukaan datar dengan warna-warna cerah, mengabaikan ruang virtual dan bentuk yang ditentukan oleh garis luar yang tajam. Dengan tujuan mereproduksi realitas dan imajinasi, gaya ini juga dikenal sebagai Simbolisme.
Salah satu karya yang paling terkenal, *Ilusi Setelah Khotbah * atau * Perjuangan Yakub dengan Malaikat* , menggambarkan perempuan-perempuan Breton yang berdoa sambil mendengarkan khotbah yang menceritakan sebuah peristiwa dalam Kitab Kejadian: pertempuran Yakub dengan malaikat.
Dalam suratnya kepada Vincent Van Gogh tertanggal 26 September 1888, Gauguin dengan sempurna menggambarkan karyanya dan niatnya: “Saya baru saja menyelesaikan lukisan religius yang sangat sulit untuk dikerjakan, tetapi lukisan itu menyenangkan dan memuaskan saya. Saya ingin memberikannya kepada gereja Pont-Aven. Tentu saja, mereka tidak menyukainya.”
Para wanita Breton berkumpul untuk berdoa dengan pakaian serba hitam. Topi mereka berwarna putih dan emas terang. Dua topi di sebelah kanan menyerupai topi setan. Sebuah pohon apel membentang di lukisan, dedaunan ungu gelapnya digambarkan dalam bercak-bercak seperti awan hijau zamrud dengan celah-celah sinar matahari hijau keemasan. Tanah (berwarna cinnabar murni). Gereja miring ke bawah dan berwarna cokelat kemerahan.
Malaikat itu mengenakan jubah biru tua dan Yakub mengenakan jubah hijau botol. Sayap malaikat itu terbuat dari emas krom murni. Rambut malaikat itu juga terbuat dari krom dan kakinya berwarna oranye.
Saya rasa saya menggambarkan karakter-karakter tersebut dengan cara yang sangat sederhana, tanpa hiasan, dan tulus. Semuanya sangat khidmat. Sapi di bawah pohon terlalu kecil untuk ukuran sebenarnya dan tampak seperti sedang berdiri tegak. Bagi saya, dalam lukisan ini, pemandangan dan pertempuran hanya ada dalam imajinasi orang-orang saat mereka berdoa selama khotbah.”
Dari kata-kata Gauguin sendiri, kita memahami tugas sang seniman: menemukan cara untuk merepresentasikan realitas dan ilusi sekaligus, tanpa memprioritaskan salah satunya. Kesederhanaan ini, yang diinterpretasikan melalui kontras warna dan garis-garis yang mendefinisikan bingkai, tampak sebagai sintesis yang efektif dan lengkap dari apa yang ingin diungkapkan oleh sang penulis.
Gauguin tidak berusaha untuk menunjukkan emosi atau imajinasinya sendiri, melainkan kompleksitas karakter yang digambarkan. Untuk melakukan ini, ia memutuskan untuk membagi ruang menjadi dua bagian menggunakan batang pohon: di satu sisi, para wanita yang sedang berdoa; di sisi lain, apa yang mereka pikirkan saat berdoa; satu sisi berupa gambaran realistis, sisi lainnya berupa gambaran spiritual.
Ditata dalam komposisi yang unik, karya ini jelas terinspirasi oleh gaya Jepang (Japonisme), dengan batang pohon digunakan sebagai semacam sumbu perspektif, dan terutama postur para "pegulat"¹ yang terinspirasi oleh foto pegulat Jepang.
Meskipun pengaruh seni Jepang lebih sedikit dibandingkan Vincent Van Gogh atau para impresionis, Gauguin tetap menggunakan desain perspektif baru yang memungkinkannya untuk menggeser seluruh adegan dari tengah dan menciptakan kesan datar dan halus, membuat semua elemen tampak ditempatkan pada kedudukan yang sama.
Ciri paling mencolok dari lukisan ini adalah kontras yang kuat antara pakaian hitam dan putih para wanita Breton dengan warna merah latar belakang; hal ini terlihat jelas dari palet warnanya yang disederhanakan.
Dengan menghilangkan warna-warna lokal, yaitu warna yang konon diambil dari alam, Gauguin menekankan efek ini dengan tidak melukis bayangan, seolah-olah untuk lebih jelas mengekspresikan absurditas adegan tersebut.
Latar belakangnya pun ditangani dengan sangat teliti: kelompok wanita di lapisan kedua digambarkan hanya secara dangkal, bahkan seperti hantu, untuk menyoroti satu wanita di latar depan yang wajahnya terlihat.
Mata wanita yang terpejam menunjukkan bahwa dia sedang bermeditasi, dan pada saat yang sama, sang seniman menciptakan jarak dari penonton, seorang peserta yang tidak diundang dalam adegan tersebut; seseorang yang tidak dapat memahami pengalaman para wanita ini yang menjalani kehidupan sederhana, yang sarat dengan cerita rakyat dan spiritualitas.
Di sini, kita dapat melihat kritik yang terang-terangan terhadap masyarakat yang coba dihindari Gauguin...
---------------
1. Teks asli: “lutteurs”. Judul lukisan menggunakan kata Prancis “lutte,” yang berarti “pertempuran” atau “perkelahian”; sedangkan “lutteurs” berarti “peserta dalam pertempuran” dan merujuk pada pegulat Jepang.
Sumber: https://znews.vn/buc-tranh-noi-thuc-tai-va-ao-anh-cung-ton-tai-post1666014.html









