Gejala sesak napas akibat gagal jantung.
Pasien dengan gangguan fungsi jantung mungkin mengalami sesak napas selama berbagai aktivitas, baik siang maupun malam, dengan karakteristik sebagai berikut:
Kesulitan bernapas saat berbaring.
Gagal jantung adalah salah satu penyebab sesak napas saat berbaring. Pasien sering merasa sesak napas saat berbaring untuk menonton TV, membaca, atau selama pemeriksaan medis. Sesak napas biasanya mereda saat mereka berdiri atau duduk.
Sesak napas saat berbaring terjadi karena ketika berbaring telentang, darah dari kaki berkumpul di pembuluh darah paru-paru, menyebabkan cairan menumpuk di sekitar paru-paru dan tumpah ke alveoli, sehingga mempersulit pertukaran gas. Selain itu, sesak napas saat berbaring juga dapat menjadi tanda kondisi lain seperti hipertensi paru, penyakit paru obstruktif kronis, edema paru, pneumonia berat, dan lain sebagainya.
Kesulitan bernapas di malam hari.
Sesak napas nokturnal terjadi saat tidur, menyebabkan sesak napas dan terbangun tiba-tiba setelah 1-2 jam tidur. Sesak napas nokturnal dapat disertai batuk, dan berhubungan dengan penumpukan darah di pembuluh darah paru-paru pada gagal jantung. Pasien merasa lebih nyaman bernapas setelah 10-15 menit duduk tegak.
Sesak napas saat beraktivitas
Sesak napas saat beraktivitas adalah gejala gagal jantung yang paling umum. Pada tahap awal, pasien mungkin mengalami sesak napas dan nyeri dada saat melakukan aktivitas sedang: berjalan, menaiki tangga, berolahraga, atau aktivitas berat. Hal ini biasanya membaik dengan istirahat. Namun, pada tahap lanjut, sesak napas saat beraktivitas seringkali tidak membaik meskipun sudah beristirahat.

Gejala sesak napas akibat asma
Kesulitan bernapas yang berhubungan dengan asma sering dikaitkan dengan pemicu tertentu seperti cuaca dingin, debu halus, aktivitas fisik berlebihan, atau bahkan emosi yang kuat. Serangan asma terjadi ketika saluran udara menyempit, mempersempit bronkus dan menyebabkan sesak napas.
Bagaimana membedakan antara sesak napas akibat gagal jantung dan sesak napas akibat asma.
Gejala khas sesak napas akibat gagal jantung meliputi timbulnya atau memburuknya sesak napas saat berbaring, terutama saat berbaring dengan kepala lebih rendah. Pasien mungkin perlu mengangkat kaki mereka dengan 2–3 bantal agar lebih mudah bernapas, dan dalam kasus yang parah, bahkan mungkin perlu tidur dalam posisi setengah duduk. Kondisi ini biasanya membaik ketika kepala dan tubuh bagian atas diangkat.
Ciri pembeda yang penting adalah bahwa sesak napas akibat asma biasanya merespons bronkodilator. Jika obat digunakan dengan benar, gejalanya dapat membaik secara signifikan. Sebaliknya, sesak napas akibat gagal jantung tidak membaik dengan bronkodilator karena penyebabnya bukan pada bronkospasme tetapi pada kongesti sirkulasi.
Bagaimana cara mengatasi sesak napas saya?
Sesak napas akibat gagal jantung
Pada kasus gagal jantung, upaya untuk mengatasi sesak napas harus difokuskan pada pengelolaan kondisi yang mendasarinya. Pasien harus mengikuti rencana pengobatan dokter, minum obat secara teratur dan dengan dosis yang tepat. Saat mengalami sesak napas, mereka harus berbaring dengan kepala sedikit terangkat untuk mengurangi penumpukan darah di paru-paru.
Jika sesak napas semakin memburuk, terjadi bahkan saat istirahat, disertai pembengkakan kaki, kelelahan ekstrem, atau mengharuskan pasien untuk duduk agar dapat bernapas, mereka harus segera mencari pertolongan medis untuk penyesuaian pengobatan.
Sesak napas adalah tanda peringatan penting dari tubuh. Mengidentifikasi penyebabnya dengan benar tidak hanya membantu mengurangi gejala secara efektif, tetapi juga menghindari pengobatan yang salah dan kesempatan yang terlewatkan untuk intervensi yang diperlukan.
Kesulitan bernapas karena asma
Segera pindahkan pasien dari sumber serangan asma ke area yang berventilasi baik, jauh dari lingkungan yang ramai.
Bantu pasien untuk duduk atau berbaring dengan bagian atas tubuh diangkat di atas tempat tidur agar pernapasan lebih mudah.
Gunakan inhaler asma kerja cepat seperti Ventolin atau Berodual untuk pasien. Untuk asma ringan, dua semprotan per dosis seharusnya cukup untuk menghentikan serangan secara efektif. Jika serangan tidak mereda setelah 20 menit, berikan dua semprotan lagi. Jika gejala masih berlanjut, berikan dua semprotan lagi sebelum membawa pasien ke ruang gawat darurat.
Jika serangan asma parah (gejalanya meliputi kesulitan bernapas bahkan saat duduk, sesak napas, dan ketidakmampuan untuk menyelesaikan kalimat), gunakan inhaler untuk menghentikan serangan dan segera bawa pasien ke fasilitas medis terdekat untuk perawatan darurat.
Jika serangan asma mengancam jiwa (ditandai dengan sianosis, kebingungan, berkeringat, ketidakmampuan berbicara, dll.), segera hubungi ambulans. Sambil menunggu ambulans, gunakan inhaler penyelamat sebanyak dua kali. Jika memungkinkan, seseorang di dekatnya harus memberikan bronkodilator beta-2 subkutan kepada pasien.
Pham Huong (menurut surat kabar Health & Life)
Sumber: https://yte.nghean.gov.vn/tin-chuyen-nganh/phan-biet-kho-tho-do-suy-tim-va-hen-suyen-1007705






Komentar (0)