Michael Carrick hampir tidak mengatakan apa pun kepada para pemainnya setelah kekalahan menyakitkan di St James' Park. Ia hanya bertepuk tangan untuk berterima kasih kepada para penggemar tim tamu dan dengan tenang berjalan langsung ke terowongan. Reaksi singkatnya itu sudah cukup untuk mengungkapkan kekecewaan mendalam manajer Manchester United tersebut.
Saat William Osula mencetak gol kemenangan di menit ke-90, Carrick berdiri diam, matanya tertuju pada rumput. Tangannya, yang biasanya terlipat di belakang punggung—sebuah ciri khas ketenangan—kini disilangkan di depan dadanya. Itu adalah tampilan kemarahan yang tulus dan jarang terlihat.
Gambar ini sangat kontras dengan Carrick yang biasanya kita lihat, seorang ahli strategi muda dan tenang yang selalu menjaga sikap dingin di pinggir lapangan. Mantan gelandang Inggris ini menghargai pengendalian emosi, menyampaikan pesan stabilitas di tengah suasana tegang Liga Premier. Namun di St James' Park, ketenangan itu tidak lagi utuh.
Ironi pahitnya terletak pada kenyataan bahwa MU memasuki pertandingan dengan peluang besar untuk menjauh dalam persaingan empat besar, terutama dengan Liverpool dan Aston Villa yang sama-sama kehilangan poin. Namun, alih-alih memberi tekanan pada kelompok terdepan, mereka malah menyia-nyiakan keunggulan mereka dan terpaksa melihat ke belakang. Kekalahan itu tidak membuat MU turun dari posisi ketiga, tetapi memaksa mereka untuk mulai melihat ke bawah.
Saat ini, MU memiliki 51 poin setelah 29 putaran, unggul dari Aston Villa berkat selisih gol. Sementara itu, Chelsea dan Liverpool hanya tertinggal satu kemenangan dari MU.
Sumber: https://znews.vn/phan-ung-la-cua-carrick-post1632305.html







Komentar (0)