Para peneliti menggunakan data radar beresolusi tinggi untuk mendeteksi berbagai gunung berapi bawah laut di samudra-samudra dunia .
Gunung bawah laut Pao Pao setinggi 4.776 meter (kanan) di Pasifik Selatan adalah salah satu gunung yang telah dipetakan menggunakan sonar. Foto: Kantor Penelitian dan Eksplorasi Oseanografi, Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA).
Data radar yang digunakan dalam studi baru ini dapat mendeteksi jejak kecil air laut yang menggenang di atas gunung berapi bawah laut, yang terakumulasi karena gravitasi gunung tersebut. Sebagian besar gunung berapi bawah laut ini masih belum dipetakan menggunakan sonar, lapor Interesting Engineering. Katalog baru gunung berapi bawah laut ini diterbitkan dalam jurnal Earth and Space Science.
Sebelumnya, hanya seperempat dasar laut yang dipetakan menggunakan sonar, sehingga para ilmuwan tidak yakin berapa banyak gunung berapi bawah laut yang ada. Namun, penelitian baru menggunakan data radar resolusi tinggi, termasuk data dari satelit CryoSat-2 Badan Antariksa Eropa dan satelit SARAL dari badan antariksa India dan Prancis, telah mengidentifikasi lokasi gunung berapi bawah laut dengan ketinggian 1.100 meter atau lebih.
Menurut ahli geofisika kelautan David Sandwell, yang memimpin penelitian ini, penemuan baru ini sangat mencengangkan. Gunung berapi bawah permukaan menimbulkan bahaya bagi kapal, tetapi juga mengandung unsur tanah jarang dan telah menjadi target komersial bagi penambang mineral laut dalam.
Gunung berapi bawah permukaan juga merupakan oasis penting bagi kehidupan laut. Lerengnya menjadi rumah bagi terumbu karang dan banyak organisme lainnya. Selain itu, gunung berapi bawah permukaan menyimpan informasi tentang lempeng tektonik dan aktivitas magmatik, serta membantu mengendalikan arus laut utama, sehingga mengisolasi sejumlah besar panas dan CO2.
Menurut Larry Mayer, direktur Pusat Pemetaan Laut dan Pesisir di Universitas New Hampshire, katalog baru gunung berapi bawah laut merupakan langkah maju yang signifikan. Katalog ini dapat bermanfaat untuk studi tentang ekologi, tektonik lempeng, dan pencampuran laut. John Lowell, seorang ilmuwan di Badan Intelijen Geospasial Nasional (NGA), mengatakan bahwa pemahaman yang lebih baik tentang bentuk dasar laut akan membantu dalam menanggapi perubahan iklim.
Menurut VNE
Sumber






Komentar (0)