| Ilustrasi: PV |
Linh masih ingat dengan jelas upacara penghargaan itu, ketika semua orang berkumpul untuk memberi selamat dan menyemangatinya atas tindakan beraninya menyelamatkan seorang bayi dari banjir. Perasaan dihargai dan usahanya diakui membuat Linh merasa bahwa hidupnya benar-benar bermakna.
Linh ingat bahwa pada hari pertamanya di ruang redaksi sebagai reporter magang, semua orang memandangnya dengan skeptis. Tidak ada yang percaya bahwa seorang gadis mungil dengan kulit putih kemerahan, wajah lembut, dan tangan halus seperti Linh dapat bertahan menghadapi kerasnya dunia jurnalistik. Bahkan orang tua dan pacarnya pun berpendapat demikian. Semua orang berpikir bahwa jika Linh mencoba dunia jurnalistik selama beberapa tahun, ia akhirnya akan berganti pekerjaan ketika menyadari kesulitan dan beratnya profesi tersebut. Mengetahui hal ini, Linh hanya tersenyum, secara implisit membuktikan kemampuannya melalui tindakan dan perbuatan nyata.
Selama empat tahun di Akademi Jurnalistik dan Komunikasi, Linh secara konsisten meraih gelar "mahasiswa berprestasi." Setelah lulus dengan predikat istimewa, ia ditawari magang di surat kabar provinsi. Pemimpin redaksi, seorang kenalan ibunya, bermaksud memberi Linh beberapa tugas administrasi kantor, tetapi Linh dengan tegas menolak. Ia dengan sungguh-sungguh meminta untuk menjadi reporter magang, meskipun ia tahu pekerjaan itu jauh dari mudah, penuh tantangan yang membutuhkan pemikiran cepat, ketekunan, dan kemampuan beradaptasi yang tinggi, karena berita perlu terus diperbarui dan terkadang ia mungkin menghadapi ancaman atau reaksi negatif dari pihak-pihak terkait. Melihat keputusan tegas Linh, pemimpin redaksi dengan berat hati menyetujuinya.
Di awal kariernya di ruang redaksi, Linh tidak pernah menolak tugas apa pun yang diberikan. Dia selalu proaktif dalam mengambil tanggung jawab dan selalu menerima bimbingan yang berdedikasi dari reporter senior. Setiap kali ada berita mendesak atau peristiwa penting, Linh akan meminta untuk mengikuti rekan-rekan seniornya untuk mengamati bagaimana mereka bekerja, mengumpulkan, dan memproses informasi. Melihat betapa antusiasnya mereka bekerja, Linh selalu merasa kagum dan bangga pada profesinya dan dedikasi para jurnalis. Lambat laun, semua orang terbiasa dengan reporter muda bernama Linh yang energik, lincah, dan teliti dalam pekerjaannya, tidak lagi memanggilnya dengan julukan "gadis manja" seperti yang mereka lakukan ketika dia pertama kali bergabung dengan ruang redaksi.
Awal pekan lalu, selama pengarahan mingguan di ruang redaksi, Linh ditugaskan oleh dewan redaksi untuk menemani Hoang, seorang reporter veteran, ke daerah yang dilanda banjir untuk meliput berita tersebut. Cuaca semakin tidak dapat diprediksi, dengan banjir terjadi di tengah musim panas di beberapa daerah di Vietnam Tengah. Hoang sempat ragu ketika mengetahui bahwa ia akan menemani reporter magang tersebut, tetapi sebelum ia dapat memikirkan alasan untuk menolak, Linh dengan cepat memberinya senyum penuh arti, seolah memohon. Dan demikianlah, mereka berdua, bersama kru, berangkat ke wilayah yang terkena banjir.
Sesampainya di sana, Linh terkejut melihat hujan deras, air banjir yang terus naik, dan arus deras yang mengancam akan menelan segala sesuatu di jalannya. Kru, mengenakan jas hujan, bergegas mempersiapkan pengambilan gambar, meskipun hujan deras menerpa tubuh dan wajah mereka. Kamera sudah siap, sinyal televisi terhubung; semua orang panik mempersiapkan siaran langsung bencana tersebut. Tepat saat itu, ketika pandangannya menyapu air yang keruh, Linh tiba-tiba membeku. Di tengah arus deras, dia melihat sebuah lengan kecil meronta-ronta, berjuang. Itu seorang anak! Banjir yang dahsyat menyeret anak itu semakin jauh. Jantung Linh terasa seperti diremas.
Tanpa ragu-ragu, Linh bergegas pergi.
Linh! Itu berbahaya.
Hoang berteriak keras, seolah mencoba menutupi suara hujan dan angin, tetapi pada saat itu Linh hampir tidak bisa mendengar apa pun kecuali detak jantungnya yang berdebar kencang di dadanya.
Linh terjun ke dalam air banjir yang mengamuk. Air dingin membekukan tubuh kecilnya, berputar-putar seperti tangan tak terlihat yang menariknya, mengancam untuk menelannya bulat-bulat dalam pusaran air yang ganas. Linh berusaha tetap tenang, mengayuh kakinya sekuat tenaga untuk berenang menuju anak itu. Tangannya terentang ke hamparan air yang luas, mencoba meraih lengan kecil anak yang berjuang mati-matian. Akhirnya, ia berhasil meraih tangan anak itu. Arus tanpa henti menyeret mereka, mendorong dan menghempaskan seolah mencoba memisahkan mereka. Linh merasakan tubuhnya membeku, tetapi ia tetap berpegangan, berjuang melawan setiap pusaran air yang ganas.
Perjuangan antara hidup dan arus yang deras, momen itu terasa berlangsung selamanya, membuatnya benar-benar kelelahan. Akhirnya, ia berhasil meraih tangan anak itu, memeluknya erat-erat, dan, terbawa arus, berenang menuju pantai. Pada saat yang sama, Hoang dan penduduk desa di sekitarnya tiba tepat waktu untuk membantu menarik mereka berdua ke pantai. Ibu anak itu, terhuyung-huyung dan hampir pingsan setelah melihat anaknya baru saja lolos dari air yang mematikan, menangis tersedu-sedu, memeluk Linh erat-erat dan berulang kali mengungkapkan rasa terima kasihnya yang tulus. Ketika Hoang meletakkan bayi itu di pelukan ibunya, Linh pun ikut terharu. Semua orang di sekitar yang menyaksikan kejadian itu sangat memuji Linh atas keberanian dan tindakannya yang cepat dan tegas yang menyelamatkan nyawa anak itu. Hoang memandang Linh, reporter magang itu, dengan kagum.
Pada hari itu, laporan berita tidak hanya meliput banjir tetapi juga menceritakan kisah inspiratif seorang reporter muda yang nekat menerobos derasnya air untuk menyelamatkan nyawa seorang anak. Tindakan tanpa pamrih Linh sangat menyentuh hati para pembaca, menginspirasi mereka dengan keberaniannya dalam menyelamatkan orang-orang di saat bencana. Setelah kejadian itu, keluarga dan pacar Linh berhenti mendesaknya untuk meninggalkan dunia jurnalistik. Mereka benar-benar percaya bahwa Linh telah memilih profesi ini dengan sepenuh hati, tanggung jawab, dan semangat yang meluap-luap.
Linh duduk di mejanya, matanya meneliti kata-kata pada artikel yang baru saja selesai ditulisnya. Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan emosinya yang campur aduk. Di hadapannya terbentang sebuah karya yang tidak hanya berisi informasi tetapi juga membawa perasaan seorang jurnalis sejati. Di luar, hujan telah berhenti, dan langit menjadi cerah dan terang. Linh senang melihat pelangi terbentuk di cakrawala timur setelah hujan, dengan warna-warnanya yang cerah. Ia tersenyum, tiba-tiba teringat pepatah neneknya, "Setelah hujan, matahari bersinar lagi," dan menemukan kebenarannya dalam setiap situasi yang dialami Linh.
Di luar sana, pekerjaan dan kehidupan selalu penuh dengan badai dan tantangan, tetapi Linh tahu bahwa dia akan selalu siap untuk menyelami kisah-kisah yang hanya dapat ditulis oleh keberanian dan hati yang penuh gairah. Karena Linh terjun ke dunia jurnalistik bukan hanya dengan semangat dan antusiasme masa muda, tetapi juga dengan semua cinta dan keinginannya untuk berkontribusi.
Sumber: https://baophuyen.vn/sang-tac/202506/phong-vien-tap-su-c09163b/






Komentar (0)