Vietnam.vn - Nền tảng quảng bá Việt Nam

Ronaldo benar tentang MU.

Lebih dari satu dekade telah berlalu sejak Sir Alex Ferguson pergi, dan Manchester United tetap terperangkap dalam siklus ketidakstabilan, membiarkan masa lalu kejayaannya menjadi bayangan yang semakin berat.

ZNewsZNews06/01/2026

Sejak 2008, Manchester United belum mencapai puncak sepak bola Eropa. Sejak 2011, mereka absen dari final Liga Champions. Dan sejak memenangkan Liga Premier pada musim 2012/13, trofi paling bergengsi di Inggris belum kembali ke Old Trafford.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik; angka-angka ini menandai berakhirnya proses kemunduran yang panjang, senyap, namun terus-menerus terjadi.

Kejayaan masa lalu dan kekosongan yang tak terisi.

Pada periode yang sama, sepak bola Inggris menyaksikan munculnya kerajaan-kerajaan baru. Manchester City memanfaatkan peluang tersebut, membangun model yang modern, berkelanjutan, dan sangat efektif. Liverpool, Arsenal, dan bahkan Tottenham dan Newcastle, semuanya menemukan jalan mereka sendiri menuju perkembangan.

Hanya Manchester United, yang dulunya merupakan simbol kekuatan Eropa, yang tetap teguh di tengah gelombang tersebut.

Musim tanpa trofi sudah menjadi hal biasa. Gagal lolos ke kompetisi Eropa bukan lagi hal yang mengejutkan. Ambisi untuk memenangkan kejuaraan telah digantikan oleh tujuan untuk finis di posisi 4 besar, kemudian 6 besar, dan akhirnya sekadar "kembali ke jalur yang benar."

Old Trafford tidak kekurangan uang atau ketenaran, tetapi kekurangan satu hal penting: visi jangka panjang yang cukup jelas untuk membimbing seluruh sistem.

MU anh 1

Kekosongan terbesar telah ada sejak Sir Alex Ferguson meninggalkan posisi pelatih.

Kekosongan terbesar muncul sejak hari Sir Alex Ferguson meninggalkan kursi kepelatihan. Ia tidak hanya membawa keahliannya, tetapi juga identitas, otoritas, dan stabilitas yang hingga kini Manchester United belum sepenuhnya pulih.

Selama dekade terakhir, ada daftar panjang nama yang datang dan pergi: David Moyes, Ryan Giggs, Louis van Gaal, Jose Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, Michael Carrick, Ralf Rangnick, Erik ten Hag, Ruud van Nistelrooy, dan yang terbaru, Ruben Amorim. Masing-masing datang dengan harapan dan filosofi yang berbeda, dan semuanya pergi dengan perasaan tidak lengkap.

Manchester United telah mencoba berbagai macam manajer. Beberapa disiplin, beberapa berorientasi pada kontrol, dan yang lainnya mengandalkan emosi dan DNA klub. Namun, benang merahnya adalah tidak ada yang diberi cukup waktu atau struktur untuk membangun proyek yang benar-benar bermakna. Klub ini mengganti manajer lebih cepat daripada mengubah metode operasionalnya, dan itulah paradoks terbesarnya.

Dalam konteks itu, pernyataan Cristiano Ronaldo sebelum meninggalkan Old Trafford menjadi sangat menggemparkan. Ia mengatakan Manchester United "belum berkembang" sejak kepergian Sir Alex Ferguson. Pada saat itu, banyak yang menganggapnya sebagai kata-kata pahit dari seorang bintang yang kecewa. Namun waktu telah membuktikan bahwa itu adalah kebenaran yang tak terbantahkan.

Sepak bola modern menuntut sinergi dari manajemen puncak hingga lapangan. Kesuksesan tidak lagi berasal dari kejayaan masa lalu, tetapi dari strategi, data, pencarian bakat, dan manajemen.

Manchester United masih terlihat seperti klub besar, tetapi operasional mereka terfragmentasi. Mereka lebih banyak bereaksi daripada mengambil inisiatif. Mereka terus-menerus memperbaiki kesalahan, tetapi jarang mengatasi akar penyebabnya.

Ketika "raksasa" itu tidak lagi tahu cara untuk bangun.

Kemerosotan Manchester United bukanlah sebuah tragedi. Mereka masih memenangkan pertandingan, masih memiliki momen-momen brilian, dan masih memiliki skuad yang berkualitas.

Namun justru itulah yang membuat penurunan ini semakin berbahaya. Karena hal itu menciptakan perasaan bahwa dengan sedikit dorongan saja, semuanya akan baik-baik saja. Padahal kenyataannya tidak demikian.

MU anh 2

Ruben Amorim baru saja dipecat oleh Manchester United.

Masalah Manchester United bukan terletak pada manajer tertentu atau generasi pemain tertentu. Masalahnya terletak pada kurangnya konsistensi dalam filosofi pengembangan mereka. Tanpa definisi yang jelas tentang siapa mereka ingin menjadi, klub terpaksa terus berubah dalam mencari jawaban. Dan setiap perubahan pasti ada harganya.

"Raksasa yang tertidur" ini bukannya kekurangan potensi, melainkan terlalu takut untuk melepaskan diri dari citranya sendiri terlalu lama. Manchester United masih hidup dalam kenangan kejayaan, sementara seluruh dunia telah beralih ke babak baru. Mereka memiliki banyak kesempatan untuk bangkit, tetapi setiap kali mereka melakukannya, mereka memilih untuk kembali ke tidur mereka yang familiar.

Untuk kembali ke puncak, Manchester United membutuhkan lebih dari sekadar manajer yang bagus. Mereka membutuhkan struktur yang stabil, visi jangka panjang, dan kesabaran yang cukup untuk menerima kesulitan dalam membangun kembali tim. Jika tidak, Old Trafford akan terus menjadi tempat yang menceritakan kisah-kisah nostalgia, alih-alih menyaksikan malam-malam kejayaan baru.

Maka pertanyaannya bukan lagi kapan Manchester United akan kembali, tetapi apakah mereka akan ingat bagaimana cara kembali.

Sumber: https://znews.vn/ronaldo-da-dung-ve-mu-post1617221.html


Komentar (0)

Silakan tinggalkan komentar untuk berbagi perasaan Anda!

Dalam kategori yang sama

Dari penulis yang sama

Warisan

Angka

Bisnis

Berita Terkini

Sistem Politik

Lokal

Produk

Happy Vietnam
Vietnam - Negara - Rakyatnya

Vietnam - Negara - Rakyatnya

Kota Kekaisaran Hue

Kota Kekaisaran Hue

Taman Kanak-kanak Patriotik

Taman Kanak-kanak Patriotik