
Menurut peringkat Top 500 yang baru saja diterbitkan, superkomputer LineShine yang terletak di Pusat Komputasi Super Nasional China di Shenzhen telah naik ke posisi nomor satu pada penampilan pertamanya. Sistem ini melampaui El Capitan, superkomputer dari Laboratorium Nasional Lawrence Livermore (AS), yang sebelumnya menduduki posisi teratas.
LineShine mencapai daya komputasi sebesar 2.198 exaflops, setara dengan sekitar 2,2 kuadriliun operasi per detik. Pencapaian ini menempatkan sistem tersebut di antara sedikit superkomputer di dunia yang memenuhi standar exascale, sebuah tolok ukur untuk komputer yang mampu memproses 1 kuadriliun operasi per detik atau lebih.
Salah satu fitur penting dari LineShine adalah seluruh sistem beroperasi menggunakan unit pemrosesan pusat (CPU) tradisional, bukan unit pemrosesan grafis (GPU), yang semakin banyak digunakan oleh pusat data modern dan model kecerdasan buatan (AI). Menurut Top500, sistem ini mengkonsumsi sekitar 42,2 megawatt listrik saat beroperasi.
Superkomputer digunakan di banyak bidang penting seperti penelitian medis, simulasi perubahan iklim, desain material baru, prediksi perilaku manusia, pengujian senjata virtual, dan masalah ilmiah yang kompleks. Kecepatan pemrosesannya seringkali lebih dari 1.000 kali lebih cepat daripada komputer konvensional.
Setelah kehilangan posisi nomor satu, El Capitan milik AS kini berada di posisi kedua. Dua superkomputer AS lainnya di laboratorium nasional di Tennessee dan Illinois menempati posisi berikut dalam peringkat tersebut. Di posisi kelima adalah Jupiter milik Jerman. Ini juga merupakan satu-satunya dari lima sistem di dunia yang telah disertifikasi secara publik sebagai sistem yang mencapai kemampuan exascale.
Selain Tiongkok, AS, dan Jerman, negara lain yang memiliki superkomputer di peringkat 10 teratas termasuk Italia, Swiss, dan Jepang. Inggris saat ini memiliki 11 sistem dalam daftar Top 500, dengan Isambard-AI dari Universitas Bristol sebagai superkomputer dengan peringkat tertinggi, yaitu peringkat ke-11 di dunia.
Persaingan untuk mengembangkan AI dan superkomputer semakin memanas secara global. Tahun lalu, Uni Eropa mengumumkan rencana untuk menginvestasikan 20 miliar euro untuk membangun "pabrik super AI" guna mendukung pengembangan model komputasi generasi berikutnya.
Namun, pengembangan pusat data dan superkomputer juga menimbulkan kekhawatiran tentang konsumsi listrik dan air pendingin yang sangat besar, sehingga memberikan tekanan pada target lingkungan.
Sumber: https://daidoanket.vn/sieu-may-tinh-trung-quoc-manh-nhat-the-gioi.html








