![]() |
| Undang-undang baru Singapura menetapkan mekanisme klasifikasi risiko algoritmik yang ketat dan memberlakukan sanksi tegas bagi penyebaran informasi palsu. (Sumber: SIPA) |
Menurut Strait Times, undang-undang regulasi teknologi baru Singapura mendekati pasar dengan mengklasifikasikan risiko inti berdasarkan tujuan aplikasi praktis. Undang-undang tersebut membagi sistem aplikasi AI menjadi empat tingkatan ketat: dari risiko minimal hingga risiko yang tidak dapat diterima (dilarang sepenuhnya).
Sesuai dengan peraturan khusus, semua model AI yang digunakan di bidang yang secara langsung berdampak pada kesejahteraan sosial dan hak asasi manusia – termasuk sistem diagnostik medis otomatis, algoritma peringkat kredit bank, dan perangkat lunak analisis data peradilan – diharuskan menjalani audit independen dan sertifikasi keamanan oleh otoritas pengatur sebelum diizinkan untuk dikomersialkan secara luas.
Salah satu aspek paling penting dari undang-undang ini adalah penetapan sanksi administratif yang sangat ketat dan bersifat jera. Undang-undang tersebut dengan jelas menetapkan bahwa lembaga pengatur memiliki hak untuk mengenakan denda finansial hingga 10% dari total pendapatan global kepada perusahaan teknologi mana pun yang mengizinkan algoritma AI-nya untuk membuat atau menyebarkan informasi atau gambar palsu (deepfake) yang berdampak negatif terhadap keamanan nasional, mencemarkan nama baik para pemimpin, atau memanipulasi pasar keuangan. Regulasi ini telah mendapat dukungan publik yang kuat dalam konteks kejahatan teknologi tinggi yang semakin canggih.
Namun, untuk memastikan Singapura tidak kehilangan posisinya sebagai pusat inovasi regional dan penarik modal teknologi, pemerintah juga telah memasukkan mekanisme terbuka khusus yang disebut "regulatory sandbox" ke dalam undang-undang tersebut.
Mekanisme ini memungkinkan perusahaan rintisan untuk menguji dan mengoperasikan algoritma AI generasi berikutnya dalam ruang pasar terbatas di bawah pengawasan ahli yang fleksibel, memberi mereka ruang yang cukup untuk berinovasi tanpa terhambat oleh peraturan administratif yang kaku.
Para ahli hukum teknologi percaya bahwa hukum Singapura akan segera menjadi tolok ukur utama bagi negara-negara ASEAN lainnya untuk dipelajari dalam proses pengembangan legislasi digital.
Sumber: https://baoquocte.vn/singapore-ban-hanh-luat-quan-tri-ai-411201.html









