Sejak surat kabar cetak pertama muncul pada abad ke-17, jurnalisme selalu menjadi saluran "monopoli" untuk penyebaran informasi. Namun, munculnya internet dan media baru, terutama jejaring sosial, telah sepenuhnya mengganggu tatanan tersebut. Di ruang terbuka di mana siapa pun dengan ponsel pintar dapat menjadi "penyedia berita," jurnalisme tidak lagi memegang posisi dominan. Apa yang hanya dapat ditemukan pembaca di surat kabar cetak kini tersedia dengan mudah di media sosial.
Apa nilai jurnalisme di era digital? Dalam artikel terbarunya, "Jurnalisme Revolusioner Vietnam di Era Digital ," Sekretaris Jenderal dan Presiden To Lam dengan jelas menyatakan bahwa perubahan informasi di era digital tidak mengurangi peran jurnalisme revolusioner. Sebaliknya, ketika informasi berlimpah dan kacau, masyarakat semakin membutuhkan sumber yang dapat diandalkan untuk memverifikasi apa yang sebenarnya terjadi, apa inti masalahnya, dan solusi mana yang beralasan. Tanggung jawab jurnalisme bukan hanya untuk lebih cepat, tetapi yang terpenting adalah untuk lebih akurat, lebih mendalam, dan lebih bermanfaat.
Namun, kedalaman dan akurasi jurnalisme tidak datang begitu saja. Pada pertemuan dengan 101 jurnalis terkemuka pada sore hari tanggal 16 Juni, memperingati ulang tahun ke-101 Hari Pers Revolusioner Vietnam, Sekretaris Jenderal dan Presiden To Lam juga menekankan bahwa jurnalisme harus berpegang pada kenyataan, menghormati kebenaran, dan menjadikan kepentingan rakyat sebagai titik awalnya. Bobot sebuah karya jurnalistik yang unggul tidak terletak pada bahasa yang bombastis, tetapi pada kemampuannya untuk secara akurat mencerminkan kebenaran, menunjukkan tanggung jawab sosial, dan membahas isu-isu mendesak yang perlu segera diselesaikan oleh masyarakat.
Isu-isu praktis yang dibicarakan oleh Sekretaris Jenderal dan Presiden adalah nafas kehidupan itu sendiri, sudut-sudut tersembunyi dan masalah-masalah spesifik masyarakat yang harus dihadapi dan ditelaah langsung oleh jurnalis untuk memahami dan merefleksikannya secara jujur. Bahkan ketika dihadapkan dengan isu-isu "sensitif" dan pelik, jurnalis membutuhkan lebih banyak keberanian dan kecerdasan untuk menggali lebih dalam, berfokus pada menganalisisnya daripada menghindarinya.
Seiring dengan itu, era kecerdasan buatan (AI) dan big data, meskipun menciptakan banyak tantangan bagi jurnalisme, juga menawarkan peluang bagi pers untuk melepaskan diri dari citra sebagai media yang semata-mata "menyampaikan berita". Alih-alih berlomba melawan media sosial, jurnalisme perlu secara drastis berinovasi dalam metodenya, memanfaatkan sepenuhnya teknologi baru untuk memberikan pembaca informasi yang dianalisis secara sistematis dan akurat dari data yang terfragmentasi dan beragam. Inilah garis pemisah profesional yang membedakan surat kabar bereputasi dari dunia media sosial yang kacau.
Misi inti jurnalisme sejak awal selalu adalah mengejar kebenaran. Nilai jurnalisme, terlepas dari zamannya, pada akhirnya terletak pada informasi. Metode praktik mungkin berubah, teknologi mungkin terus berkembang, tetapi landasan yang membuat pembaca tetap tertarik tentu tetaplah nilai-nilai dan misi tersebut.
Menurut Tu An (TNO)
Sumber: https://baogialai.com.vn/su-menh-cua-bao-chi-post590383.html









