Budaya ditekankan sebagai landasan spiritual masyarakat, kekuatan intrinsik, serta sumber daya dan penggerak bagi pembangunan berkelanjutan negara. Semangat ini juga ditegaskan dalam dokumen-dokumen yang dipresentasikan pada Kongres Nasional Partai ke-14 baru-baru ini, sebuah kongres yang menandai tonggak penting dalam mengantarkan negara ke era baru.
Namun, selalu ada kesenjangan antara pemahaman yang benar dan tindakan yang benar. Kesenjangan ini semakin melebar ketika budaya—suatu bidang yang abstrak dan mudah disederhanakan—tidak dipahami secara menyeluruh dalam hal kedalaman dan nilai-nilai fundamentalnya. Jika seluruh sistem politik dan masyarakat tidak memahami dan menghayati hakikat budaya yang sebenarnya, kebijakan-kebijakan progresif mudah disalahartikan, bahkan diselewengkan, diimplementasikan atas nama pembangunan budaya tetapi bertentangan dengan semangat humanisme dan tujuan pembangunan manusia.
Oleh karena itu, pertama-tama kita harus menyepakati pemahaman inti: pengembangan budaya, pada akhirnya, harus dimulai dari manusia, dari membangun individu-individu yang berbudaya. Tanpa individu-individu yang berbudaya, tidak mungkin ada budaya yang berkelanjutan; dan tanpa budaya yang berkelanjutan, semua pencapaian pembangunan lainnya akan sangat rapuh.
Pada tingkat terdalamnya, budaya tidak dapat dipisahkan dari humanisme. Humanisme berakar pada kemanusiaan, khususnya pada kemerdekaan dan kebebasan, kehormatan dan martabat, kesuksesan dan kebahagiaan, serta tujuan akhir pengembangan manusia secara holistik. Dan justru humanisme inilah yang menjadi tolok ukur untuk membedakan perkembangan budaya dari perkembangan yang keliru.
Pendekatan humanistik ini harus diwujudkan dalam semua bidang kehidupan sosial. Administrasi yang humanistik adalah administrasi yang melayani rakyat, bukan mengelola atau memberikan keuntungan. Sistem pendidikan yang humanistik adalah sistem yang bertujuan untuk pengembangan manusia, bukan mengubah manusia menjadi produk ujian atau alat untuk meraih prestasi. Sistem perawatan kesehatan yang humanistik adalah sistem yang memprioritaskan kesehatan dan kehidupan manusia di atas semua kepentingan lainnya. Bahkan dalam keluarga, humanisme terwujud dalam sikap orang tua yang menghormati kebebasan dan kebahagiaan anak-anak mereka, alih-alih memaksakan impian mereka sendiri atau mengubah anak-anak menjadi alat atau hiasan keluarga.
Dalam konteks ini, pendidikan memainkan peran penting. Budaya diciptakan oleh pendidikan, jadi agar budaya berkembang, sistem pendidikan juga harus berkembang. Pendidikan progresif saat ini bukan hanya tentang mentransmisikan pengetahuan, tetapi juga sebuah perjalanan untuk membangkitkan kemanusiaan, menumbuhkan identitas nasional, dan mengembangkan individualitas untuk menjadi pribadi yang benar-benar manusiawi, nasionalis, dan otentik.
Oleh karena itu, konsep "melestarikan identitas nasional, mengintegrasikan tetapi tidak membubarkan" bukanlah sekadar slogan, melainkan persyaratan nyata untuk membangun identitas nasional di era globalisasi. Lingkungan pendidikan yang baik tidak dapat menghasilkan warga negara yang lahir dan dibesarkan di negaranya sendiri, berbicara bahasa Inggris seperti penutur asli, tetapi tidak mengenal bahasa, budaya, dan sejarah Vietnam. Itu bukanlah integrasi, melainkan kerusakan identitas – semacam "produk cacat" pembangunan yang kurang memiliki kedalaman budaya yang sejati.
Sebaliknya, jika konteks budaya tidak dipahami dengan benar, mudah untuk mengubah industri budaya menjadi industri hiburan semata atau bahkan industri spiritual yang menyimpang. Tidak semua unsur tradisional perlu dilestarikan. Kemanusiaan dan semangat humanisme-lah yang akan bertindak sebagai penyaring untuk menjaga nilai-nilai progresif sekaligus menghilangkan kebiasaan usang yang menghambat perkembangan individu dan masyarakat.
Di dunia yang tak terduga saat ini, di mana nilai-nilai dipertanyakan, norma-norma digulingkan, dan kepercayaan dihancurkan, hanya nilai-nilai universal dan prinsip-prinsip abadi yang dapat berfungsi sebagai "jangkar budaya" bagi individu dan bangsa. Dan jangkar itu tidak lain adalah humanisme.
Hari Kebudayaan Vietnam (24 November), yang ditetapkan berdasarkan Resolusi No. 80-NQ/TW tanggal 7 Januari 2026, oleh karena itu mengemban misi penting: untuk mengingatkan setiap individu, setiap keluarga, setiap organisasi, dan seluruh masyarakat untuk merenungkan dan mempertanyakan budaya mereka sendiri. Ketika setiap "sel" masyarakat dijiwai dengan semangat kemanusiaan, kedalaman budaya menjadi kekuatan yang membantu bangsa bangkit secara berkelanjutan.
Dokter Gian Tu Trung
Sumber: https://www.sggp.org.vn/suc-manh-tu-chieu-sau-van-hoa-post835126.html






Komentar (0)