Setiap kali saya melewati gerbang sekolah menengah atas dekat rumah saya pada hari Ujian Kelulusan Sekolah Menengah Atas Nasional, melihat wajah-wajah cemas para orang tua yang menunggu anak-anak mereka di luar, tanpa sadar saya memperlambat langkah. Gambaran-gambaran yang familiar itu membangkitkan kenangan tentang ibu saya – yang diam-diam menunggu saya di gerbang sekolah bertahun-tahun yang lalu, mencurahkan kasih sayang kepada saya.
Dulu, para kandidat harus pergi jauh-jauh ke universitas untuk mengikuti ujian; ujian tersebut tidak digabungkan dengan ujian kelulusan SMA seperti sekarang. Karena pusat ujian berjarak lebih dari seratus kilometer dari rumah, saya dan ibu saya harus naik bus ke sana sehari sebelumnya dan menyewa kamar dari seorang mahasiswa dari kampung halaman kami demi kenyamanan.
Kamar itu, dengan atap genteng rendah dan panas yang menyengat di musim panas, hampir tidak cukup untuk menampung sebuah tempat tidur, meja kayu tua, dan kipas angin listrik yang reyot. Namun, bagi ibuku, tempat itu adalah tempat berlindung paling damai bagi putrinya sebelum menghadapi tantangan ujian besar. Mungkin, baginya, ujian itu bukan hanya ujian bagi putrinya, tetapi juga mimpi yang belum terwujud dari seorang wanita yang telah menghabiskan hidupnya bekerja di ladang.
Pada hari pertama ujian, ibuku membangunkanku sangat pagi untuk mengulang materi dan sarapan yang mengenyangkan. Aku masih ingat dia bangun saat subuh untuk memasak nasi ketan dengan kacang hijau. Menurut kepercayaannya, makan nasi ketan dengan kacang hijau akan membawa keberuntungan dan memastikan semuanya berjalan lancar. Aroma harum nasi yang baru dimasak memenuhi kamar kecil kami yang disewa, dan aku masih mengingatnya dengan jelas. Itu bukan hanya aroma makanan, tetapi juga aroma cinta, bulan dan tahun-tahun yang ibuku curahkan sepenuh hati dan jiwanya untukku.
Melihatku tampak cemas, ibuku menceritakan beberapa kisah lucu untuk membuatku tertawa dan melupakan sebagian tekanan yang membebani hatiku. Sebelum aku meninggalkan rumah, ia membetulkan kerah bajuku dan berkata, "Tetap tenang saat mengerjakan PR. Kerjakan bagian yang mudah dulu, lalu yang sulit. Hitung dengan teliti, dan sajikan pekerjaanmu dengan rapi."
Lalu ibuku memelukku seolah memberiku kekuatan dan berbisik, "Langkah pertama dengan kaki kananmu, ya?" Aku tersenyum dan menurutinya, merasa anehnya nyaman. Kehadiran ibuku di sisiku membuat ujian terasa jauh lebih tidak menegangkan.
Gerbang sekolah dipenuhi orang. Para orang tua bergegas memberikan nasihat kepada anak-anak mereka. Calon siswa seperti saya dipenuhi berbagai macam emosi: gugup, cemas, dan khawatir. Dalam suasana yang terburu-buru itu, ibu saya menggenggam tangan saya dan berkata, hampir sambil menangis, "Lakukan yang terbaik, Nak."
Aku mengucapkan selamat tinggal kepada ibuku dan berjalan melewati gerbang sekolah, menuju ruang ujian dengan segenap tekadku. Ketika aku berbalik, aku masih melihat ibuku berdiri di tengah kerumunan, sosoknya yang kecil dan kurus di bawah terik matahari bulan Juni, matanya tak pernah lepas dari punggungku. Pada saat itu, aku tiba-tiba mengerti bahwa di balik setiap anak yang memasuki ruang ujian ada seorang ibu yang telah mempercayakan begitu banyak keyakinan dan harapan kepada mereka.
Ketika bel berbunyi menandakan berakhirnya ujian, kami para siswa bergegas keluar seperti kawanan lebah, mengobrol dengan gembira tentang ujian tersebut. Beberapa gembira, yang lain murung. Aku bergegas menuju gerbang. Di antara wajah-wajah yang tidak kukenal, aku langsung mengenali ibuku. Matanya berbinar ketika melihatku. Hal pertama yang dia tanyakan bukanlah, "Apakah kamu mengerjakan ujian dengan baik, Nak?" tetapi, "Apakah kamu lapar? Ibu membuat masakan favoritmu hari ini." Melihatku menjawab dengan riang, bukan dengan sedih seperti beberapa siswa lain, wajahnya rileks, dan senyum lembut, seperti angin sejuk, menyebar di wajahnya.
Baru setelah saya dan ibu kembali ke kamar sewaan kami untuk beristirahat, beliau dengan lembut menanyakan tentang pelajaran saya dan menceritakan waktu yang dihabiskannya menunggu di luar gerbang sekolah. Saat saya mengikuti ujian, beliau bergegas pulang untuk memasak makan malam, lalu bergegas kembali ke tempat ujian untuk menunggu saya. Di tengah terik matahari musim panas, beliau memegang kipas tangan tua, mengipasi dirinya sendiri untuk mendinginkan badan, dan diam-diam menghitung jam dan menit yang berlalu.
Melihat orang tua lain mondar-mandir di depan gerbang sekolah, ibu saya juga gelisah. Baru ketika melihat saya keluar dengan wajah ceria, ia benar-benar merasa lega, seolah-olah semua panas dan kelelahan seharian telah lenyap. Melihatnya saat itu, saya merasakan cinta dan rasa syukur yang sangat besar.
Ujian akhirnya usai. Saya cukup beruntung diterima di universitas pilihan pertama saya dan jurusan yang saya sukai. Hasil itu menjadi tonggak indah dalam perjalanan saya menuju kedewasaan. Namun, yang paling terukir dalam ingatan saya bukanlah nilai atau surat penerimaan, melainkan gambaran ibu saya yang diam-diam menunggu di gerbang sekolah selama tiga sesi ujian berturut-turut, selalu mengawasi saya dan diam-diam menyemangati saya.
Sekarang, saat anak-anakku akan menghadapi ujian sekolah penting mereka, aku mendapati diriku menunggu di luar gerbang sekolah, sama seperti ibuku bertahun-tahun yang lalu. Di tengah kerumunan orang tua yang menunggu anak-anak mereka, aku benar-benar memahami perasaan seorang ibu saat itu. Ketika gerbang tertutup di belakang anak-anakku, hatiku dipenuhi kecemasan yang tak terdefinisi. Waktu seolah melambat. Hanya beberapa jam menunggu, namun hati seorang ibu merasakan begitu banyak kekhawatiran, kecemasan, dan antisipasi.
Aku memandang para ayah dan ibu lain di sekitarku: beberapa berdiri menunggu di bawah terik matahari, yang lain duduk meringkuk di bawah pohon, beberapa membawa kotak bekal, botol air, dan handuk dingin. Semuanya memiliki sikap tenang, dipenuhi dengan begitu banyak kasih sayang. Mereka memilih untuk berdiri di belakang anak-anak mereka agar mereka dapat melangkah maju dengan percaya diri.
Gerbang ruang ujian tidak hanya membuka masa depan bagi generasi muda, tetapi juga mengungkapkan berbagai emosi bagi orang tua. Di balik gerbang itu terbentang mimpi dan masa depan anak-anak mereka. Namun di luar, terbentang penantian sunyi dan cinta yang tak terucapkan dari orang tua – cinta seumur hidup yang tak pernah membutuhkan balasan, hanya berharap akan pertumbuhan dan kesejahteraan anak-anak mereka.
Sumber: https://giaoducthoidai.vn/tan-man-me-va-canh-cong-truong-thi-post780564.html








