Bulan Desember tidak perlu berisik; ia bagaikan nada yang dalam dan tenang, cukup untuk mengingatkan kita bahwa siklus bumi lainnya akan segera berakhir. Saatnya untuk berhenti sejenak, merenung, dan menghargai bahkan hal-hal yang paling familiar. Desember datang dengan lembut, seperti pesan yang dibisikkan: Pulanglah!
Di bulan terakhir tahun ini, jauh di lubuk hati manusia, kenangan-kenangan purba dan murni bergejolak, sesegar embun pagi.
Aku ingat ladang-ladang pedesaan yang miskin ketika air hampir tidak menutupi tunggul, tempat burung bangau kurus mengarungi kabut malam yang sejuk dan manis. Aku ingat mengikuti orang lain ke ladang untuk mencabuti gulma jagung, daun jagung kering membakar tanganku, tetapi hatiku dipenuhi kegembiraan seolah-olah aku menyentuh seluruh masa kecil yang riang. Dan bagaimana aku bisa melupakan sore-sore itu berlari melintasi sawah yang berangin, angin utara yang menusuk menyapu semua kekhawatiran, tanpa alas kaki di atas rumput kering, merasakan kegembiraan yang bersemangat dan polos yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
![]() |
| Sudut jalan di musim dingin - Foto: HH |
Dinginnya musim dingin itulah yang menempa kekuatan batin, rasa syukur yang tak terbatas atas nilai-nilai sederhana yang telah membesarkan kami hingga sampai di titik ini.
Desember juga merupakan musim perapian—tempat kehangatan keluarga berkumpul dalam cahaya yang paling lembut dan abadi. Betapa hangatnya makan malam di musim dingin, meskipun hanya sepanci nasi kukus sederhana yang Ibu janjikan untuk dimasak siang hari, atau seikat kangkung hijau segar yang dipetik cepat dari sawah. Aroma asap dapur bercampur dengan aroma makanan sederhana, suara tawa riang Kakek yang menggoda anak-anak yang berebut permen... Hal-hal sederhana dan kecil inilah yang menjadi kenangan berharga, jangkar yang melindungi kita dari badai kehidupan.
Di cuaca dingin, saat kita membuka lembaran kenangan, kita merasakan kasih sayang yang lebih besar kepada ayah dan ibu kita—orang-orang pekerja keras yang berlumuran lumpur, namun tetap lembut dan tangguh seperti tanah dan panen. Mereka mengajari kita pelajaran tentang tanggung jawab dan cinta yang tak terucapkan.
Beberapa bulan Desember di masa dewasa berlalu begitu cepat, seperti siklus kerja yang tiada henti. Kita mengejar tujuan yang gemerlap, tanpa sengaja melupakan hal-hal yang paling berharga. Kita menyadari bahwa kita berhutang budi pada kampung halaman kita, orang tua kita, untuk pulang, dan kita berhutang maaf pada masa kecil kita.
Desember bukan hanya bulan terakhir dalam setahun. Ini adalah musim refleksi yang tenang, waktu yang mendorong kita untuk berhenti sejenak dan menemukan ketenangan bagi jiwa kita, bahkan ketika jalanan terus dipenuhi aktivitas yang ramai. Di tengah hiruk pikuk kehidupan, setiap orang membutuhkan tempat berlindung: mungkin rumah tempat ibu masih menyalakan api untuk menyiapkan makanan, atau sekadar sore yang panjang dihabiskan untuk menatap langit yang familiar, menemukan kembali kenangan yang terlupakan.
Desember. Musim reuni. Mengajak orang kembali pada hal-hal paling sederhana dan tulus dalam hidup. Dan terkadang, hanya dengan kembali sepenuhnya seperti itu sudah cukup untuk mengakhiri tahun yang lama dan membawa kedamaian ke hati.
Duong Linh
Sumber: https://baoquangtri.vn/van-hoa/202601/tan-van-mua-goi-ve-3271bd9/







Komentar (0)